BOLASPORT.COM - Fisioterapis Timnas Indonesia, Asep Aziz, dan Natasha Wilona membagikan ilmu penanganan cedera atlet hingga datangkan pakar dari Korea Selatan.
Peran fisioterapis dalam dunia olahraga modern semakin vital, tidak hanya membantu proses pemulihan cedera atlet, tetapi juga mendukung peningkatan performa hingga mencegah risiko cedera sejak dini.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Postural Science Academy (PSA) bersama jaringan klinik fisioterapi Bebas Cedera menggelar workshop internasional bertajuk Pain & Exercise di Fitswell Wellness, Surabaya.
Workshop tersebut menghadirkan pakar rehabilitasi sekaligus exercise medicine asal Korea Selatan, dr. Hong Jung Gi, yang dikenal memiliki pengalaman panjang dalam bidang rehabilitasi berbasis sains.
Kegiatan ini diikuti fisioterapis, sport therapist, hingga tenaga kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia yang ingin memperdalam pengetahuan mengenai penanganan cedera dan exercise therapy berbasis evidence-based practice.
Founder Postural Science Academy sekaligus artis dan entrepreneur, Natasha Wilona, mengatakan kolaborasi bersama Bebas Cedera menjadi langkah awal dalam membangun budaya belajar berkelanjutan bagi fisioterapis Indonesia, khususnya mereka yang berkecimpung di dunia olahraga.
"Ini adalah kolaborasi pertama PSA dan Bebas Cedera. Saya senang sekali karena para fisioterapis di sini benar-benar haus akan ilmu dan ingin terus meningkatkan kualitas dirinya. Itu yang paling membuat saya terkesan," kata Natasha Wilona.
Selama workshop berlangsung, para peserta mendapatkan materi ilmiah terbaru mengenai penanganan nyeri, biomekanika tubuh, hingga exercise therapy yang banyak diterapkan dalam rehabilitasi atlet di berbagai negara.
Tak hanya mengikuti sesi teori, peserta juga diajak mempraktikkan langsung teknik asesmen, pemeriksaan fungsi gerak, serta metode intervensi yang dipandu langsung oleh dr. Hong Jung Gi.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan fisioterapi, baik untuk masyarakat umum maupun atlet yang membutuhkan proses rehabilitasi secara optimal agar dapat kembali beraktivitas dan bertanding dengan aman.
Natasha Wilona menjelaskan bahwa keterlibatannya di bidang kesehatan didorong oleh keyakinan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama dalam menghadirkan layanan rehabilitasi yang berkualitas.
Melalui Postural Science Academy, Natasha ingin membuka akses yang lebih luas bagi fisioterapis Indonesia agar dapat belajar langsung dari para pakar dunia tanpa harus pergi ke luar negeri.
Natasha Wilona juga menilai peningkatan kompetensi menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap profesi fisioterapis.
"Terkadang kepercayaan masyarakat terhadap klinik atau tempat fisioterapi belum sepenuhnya terbentuk karena mereka ingin memastikan fisioterapisnya benar-benar terus belajar," ucap Natasha Wilona.
"Di Bebas Cedera, saya melihat semua fisioterapis memiliki kemauan untuk berkembang dan itu menjadi nilai yang sangat baik," sambungnya.
Natasha Wilona turut mengungkapkan perjalanan hingga akhirnya berhasil menghadirkan dr. Hong Jung Gi ke Indonesia.
Saat pertama kali menghubungi dokter yang memiliki reputasi internasional tersebut, Natasha sempat insecure.
"Awalnya kami sempat minder karena beliau merupakan salah satu doktor dengan nama besar di Korea Selatan. Saat pertama kali mengirim pesan, kami bahkan tidak yakin akan mendapat balasan," ujar Natasha Wilona.
"Namun ternyata beliau memberikan respons yang sangat positif dan bersedia datang ke Indonesia tahun lalu," tuturnya menambahkan.
Kesempatan mengunjungi Seoul dan melihat secara langsung metode rehabilitasi yang diterapkan dr. Hong semakin memperkuat keyakinan Natasha Wilona untuk membangun kerja sama jangka panjang.
"Kami menemukan sosok yang tepat untuk bekerja sama karena beliau tidak pelit berbagi ilmu. Tidak banyak orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan sebesar beliau, tetapi tetap mau membagikannya dengan tulus. Itu yang membuat kami merasa cocok bekerja sama," kata Natasha Wilona.
Workshop di Surabaya menjadi seri pertama dari rangkaian edukasi PSA bersama dr. Hong Jung Gi di Indonesia.
Setelah Surabaya, program akan berlanjut ke Medan dengan fokus pembahasan rehabilitasi dan kebugaran lansia, sebelum ditutup di Jakarta melalui workshop bertema Women's Health yang mengangkat pendekatan rehabilitasi dan exercise berbasis bukti ilmiah.
Sementara itu, Founder Bebas Cedera sekaligus Sport Physiotherapist Tim Nasional Indonesia sejak 2014, Asep Azis, menilai kolaborasi seperti ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas fisioterapis Indonesia agar mampu mengikuti perkembangan sport science dunia.
Asep Aziz juga menambahkan bahwa peningkatan kompetensi tenaga fisioterapi akan berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan rehabilitasi, termasuk bagi atlet yang membutuhkan penanganan cedera secara profesional.
"Terima kasih kepada PSA yang sudah bekerja sama dengan Bebas Cedera. Harapannya ini bukan yang terakhir, tetapi menjadi awal untuk terus belajar bersama," ujar Asep Azis.
"Saya yakin melalui kegiatan seperti ini kualitas fisioterapis Indonesia akan terus meningkat sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa hidup bebas dari cedera," sambung Asep.
Lebih lanjut, Asep Azis mengatakan bahwa Bebas Cedera terus menanamkan budaya continuous professional development yaitu mendorong seluruh fisioterapis untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi rehabilitasi, serta standar praktik berbasis evidence.
Asep turut menjelaskan perkembangan dunia olahraga yang semakin kompetitif menuntut fisioterapis untuk terus memperbarui kemampuan agar mampu memberikan pelayanan terbaik bagi atlet maupun masyarakat umum.
Melalui kolaborasi antara PSA dan Bebas Cedera, semakin banyak fisioterapis Indonesia diharapkan memiliki kesempatan belajar langsung dari pakar internasional.
Upaya tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat kualitas rehabilitasi olahraga nasional sekaligus mendukung lahirnya tenaga fisioterapi yang mampu bersaing di level internasional.