TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Memasuki periode musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, masyarakat Kota Pontianak mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi terganggunya pasokan air bersih.
Kekhawatiran tersebut muncul karena pada tahun-tahun sebelumnya distribusi air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kerap mengalami penurunan debit, terutama pada siang hari ketika kebutuhan air masyarakat cukup tinggi.
Kondisi ini dikhawatirkan kembali terulang dan dapat menghambat berbagai aktivitas rumah tangga yang bergantung pada ketersediaan air bersih.
Salah seorang warga Jalan Ali Anyang, Pontianak, Rona, mengungkapkan bahwa tanda-tanda berkurangnya kelancaran distribusi air sudah mulai dirasakan sejak beberapa hari terakhir.
Menurutnya, memasuki musim kemarau, aliran air PDAM tidak lagi mengalir seoptimal biasanya, terutama pada siang hari.
"Siang ini air mulai tidak lancar. Biasanya kalau sudah mendekati musim kemarau memang seperti ini. Kadang air mengalir kecil bahkan tidak lancar. Itu yang membuat saya khawatir," ujar Rona saat ditemui, Rabu 15 Juli 2026.
Ia menuturkan, persoalan tersebut hampir selalu terjadi setiap kali musim kemarau tiba. Sebagai kebutuhan pokok yang digunakan setiap hari, terganggunya distribusi air bersih tentu berdampak langsung terhadap berbagai aktivitas keluarga, mulai dari mandi, mencuci pakaian hingga kebutuhan memasak.
• Layanan Kesehatan Gratis TMMD Reguler Ke-129 Kodim 1208/Sambas Diserbu Ratusan Warga Dusun Semanas
Menurut Rona, kondisi paling terasa terjadi pada siang hingga sore hari ketika debit air mengecil. Sementara pada malam hari, aliran air biasanya kembali normal sehingga sebagian pekerjaan rumah tangga terpaksa ditunda hingga malam.
"Kalau siang airnya sering tidak lancar, malam baru kembali normal. Padahal air ini sangat penting untuk mandi, mencuci, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Jadi kalau siang air kecil, aktivitas di rumah ikut terganggu," tuturnya.
Meski demikian, Rona mengaku secara keseluruhan masih merasa puas terhadap pelayanan PDAM selama ini.
Ia menilai kualitas air yang diterima cukup baik. Hanya saja, ia berharap persoalan distribusi saat musim kemarau dapat menjadi perhatian sehingga pelanggan tidak mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Selain itu, ia juga menilai besaran tagihan rekening air masih cukup wajar karena disesuaikan dengan jumlah pemakaian pelanggan setiap bulan.
"Kalau pelayanan secara umum saya puas. Yang menjadi harapan hanya distribusi airnya tetap lancar saat musim kemarau. Untuk pembayaran juga menurut saya mengikuti penggunaan. Kalau pemakaian banyak tentu tagihannya lebih besar," katanya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan air PDAM tidak mengalir, Rona mengaku telah menyiapkan sejumlah langkah cadangan.
Salah satunya dengan menampung air hujan ke dalam tangki penyimpanan yang nantinya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga ketika pasokan PDAM mengalami gangguan.
Selain memanfaatkan cadangan air hujan, keluarganya juga membeli air bersih dari depot isi ulang apabila kebutuhan air tidak dapat dipenuhi dari penampungan yang tersedia.
"Kalau air PDAM tidak mengalir, kami menggunakan air hujan yang sudah ditampung di tangki. Kalau masih kurang, biasanya membeli air dari depot untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," jelasnya.
Rona berharap pihak PDAM dapat melakukan berbagai langkah antisipasi agar distribusi air bersih tetap berjalan normal selama musim kemarau berlangsung. Menurutnya, kelancaran pasokan air sangat penting karena menyangkut kebutuhan dasar seluruh masyarakat.
• Pameran Flora dan Fauna Bumi Khatulistiwa Dorong Gerakan Penghijauan di Pontianak
Ia juga berharap pelayanan terus ditingkatkan sehingga pelanggan tidak lagi mengalami gangguan distribusi berkepanjangan ketika musim kemarau tiba.
"Harapan saya semoga air tetap mengalir lancar dan tidak sering mati atau tersendat. Kalau bisa biaya juga tetap terjangkau karena air merupakan kebutuhan pokok masyarakat setiap hari. Mudah-mudahan distribusinya semakin baik sehingga warga tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau," pungkasnya.
(*)