AS Blokade Selat Hormuz, Iran Ancam Tutup Selat Bab el-Mandeb: Teluk Membara, Harga Minyak Menggila
Hasiolan Eko P Gultom July 16, 2026 12:38 AM

AS Blokade Selat Hormuz, Iran Ancam Tutup Selat Bab el-Mandeb: Teluk Membara, Harga Minyak Menggila

 

TRIBUNNEWS.COM - Garda Revolusi Iran mengancam akan menutup jalur ekspor energi lain yang menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya setelah penutupan Selat Hormuz dan diberlakukannya kembali blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca juga: AS Ubah Pola Serangan ke Iran: Kini Mulai Serangan Siang Bolong, 7 Militer Iran Tewas

Pernyataan tersebut juga mengisyaratkan kemungkinan gangguan terhadap jalur strategis lain, termasuk Selat Bab al-Mandab yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.

Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dapat mempertimbangkan serangan terhadap pembangkit listrik Iran apabila tidak tercapai kesepakatan baru dengan Teheran.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump kembali menegaskan bahwa AS tidak akan menerima kesepakatan yang tidak menjamin Iran tidak memiliki senjata nuklir.

AS Kerahkan Ratusan Pesawat Militer

Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan blokade laut terhadap pelabuhan Iran telah mulai diterapkan.

Menurut CENTCOM, lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS dan ratusan pesawat militer kini dikerahkan di kawasan Timur Tengah untuk mendukung operasi tersebut.

Kepala CENTCOM Laksamana Brad Cooper menuduh Iran menyerang tujuh kapal dagang dalam sepekan terakhir serta meluncurkan rudal dan drone ke arah sejumlah negara Teluk. Tuduhan tersebut belum mendapat tanggapan independen.

Media Iran melaporkan bentrokan dan baku tembak terjadi di kawasan Selat Hormuz, sementara sistem pertahanan udara di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr diaktifkan.

Laporan lain menyebut sejumlah wilayah di Iran selatan, termasuk Bandar Abbas, Pulau Qeshm, dan Hengam, menjadi sasaran serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat.

Timur Tengah Membara

Di sisi lain, televisi pemerintah Iran melaporkan pasukan Iran dan Garda Revolusi melancarkan serangan terhadap target militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.

Otoritas Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat tiga rudal balistik yang memasuki wilayah udara negara itu tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan.

Kuwait juga menyatakan berhasil mencegat drone Iran yang memasuki wilayahnya, sementara Bahrain mengaktifkan sirene peringatan dan meminta warga menuju tempat perlindungan setelah mengklaim menjadi sasaran serangan.

Dalam perkembangan lain, militer Iran menyebut sedikitnya tujuh tentaranya tewas akibat serangan udara AS yang menghantam pangkalan militer di Bampur.

Menurut media Iran, serangan tersebut mengenai fasilitas akomodasi, pos penjagaan, dan area pendukung di pangkalan militer tersebut.

Di tengah eskalasi, sejumlah warga Iran yang diwawancarai BBC Arabic mengaku khawatir blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan memperburuk kondisi ekonomi, mengganggu rantai pasok barang kebutuhan pokok, serta meningkatkan tekanan terhadap ekspor minyak negara tersebut.

Harga Minyak Menggila

Eskalasi ini membuat harga minyak mentah di pasar global kembali melambung pada Selasa (14/7/2026).

Hal ini terjadi setelah harga minyak internasional Brent naik selama dua hari berturut-turut hingga menembus angka 87 dollar AS atau sekitar Rp1.566.000 per barel.

Angka tersebut merupakan harga tertinggi yang tercatat sejak Juni lalu.

Minyak mentah Amerika Serikat juga mengalami kenaikan sebesar 4 persen menjadi lebih dari 81 dollar AS atau sekitar Rp1.458.000 per barel.

Jika dihitung sejak dimulainya perdagangan pada Minggu malam waktu setempat (12/7/2026), harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 15 persen, sementara minyak mentah AS naik lebih dari 12 persen.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.