Bisa Tembus ke Museum Brawijaya, Bungker Kolonial di Ijen Berpotensi Jadi Wisata Baru Kota Malang
Sudarma Adi July 16, 2026 02:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Kota Malang tampaknya tak pernah kehabisan magnet untuk memikat para pelancong.

Jika selama ini wisatawan hanya akrab dengan gemerlap Kayutangan Heritage, estetika Kampung Warna-Warni Jodipan, atau keunikan Pasar Tradisional Klojen, kini sebuah potensi wisata sejarah antimainstream siap mencuat ke permukaan.

Potensi besar tersebut datang dari lorong bawah tanah rahasia alias bungker peninggalan zaman kolonial.

Tersembunyi di Jalan Terusan Ijen 2B, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang, terdapat sebuah bangunan rumah yang memiliki akses masuk ke bungker bawah tanah.

Menariknya, area pertahanan militer masa lalu ini kini telah disulap menjadi tempat nongkrong estetik bernama Kafe Bungker, di mana pengunjung bisa memesan makanan dan minuman lalu menikmatinya langsung di dalam perut bumi.

Baca juga: Bantahan Kades Soal Video Viral Gerai Kopdes Malang Dibangun di Telaga Tanpa Akses Jalan

Pengelola Kafe Bungker, M. Harris Ishaq, mengungkapkan bahwa bungker pertahanan ini dibangun sekitar tahun 1930-an oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Uniknya, ruangan di kafenya tersebut bukanlah bungker biasa, melainkan titik keluar dari jaringan terowongan yang jauh lebih panjang.

“Rumah-rumah mewah di Jalan Ijen itu dulunya adalah kediaman para pejabat masa kolonial. Dahulu, hampir setiap rumah memiliki bungker perlindungan di bawahnya. Nah, di lokasi kafe kami inilah yang menjadi jalur pintu keluarnya,” tutur Harris.

Bungker eksotis ini memiliki dimensi luas sekitar 15×10 meter.

Di dalamnya, tata ruang asli bertiras sejarah masih terjaga dengan sangat baik, mulai dari bekas kamar kecil, ruang berkumpul, hingga area dapur yang masih dilengkapi saluran pembuangan asap kuno.

Bahkan, lapisan cat yang menempel pada dinding beton tebal tersebut diklaim murni bawaan sejak pertama kali dibangun.

Peluang Wisata Susur Bungker Pertama di Indonesia

Melihat nilai historis yang begitu kental, Harris berambisi mengembangkan kawasan ini menjadi paket wisata petualangan sejarah berupa susur bungker (bunker tour).

Peluang ini dinilai sangat menjanjikan mengingat kota-kota tua lain seperti Semarang, Surakarta, dan Bandung belum memaksimalkan aset bungker mereka sebagai wahana edukasi petualangan.

Bukan sekadar isapan jempol, Harris mengaku pernah menyusuri langsung lorong gelap di bawah trotoar Jalan Ijen tersebut.

“Jalur kuno ini digunakan para pejabat kolonial untuk menyelamatkan diri dan berlindung dari serangan musuh. Bungker di sini tembus hingga ke Museum Brawijaya, dan dari titik sana ada percabangan jalur lagi yang mengarah ke Pasar Oro-oro Dowo. Jika jalur ini resmi dibuka untuk umum, ini akan menjadi wisata susur bungker pertama di Indonesia,” katanya optimistis.

Kendati demikian, Harris menyadari realisasi proyek impian ini membutuhkan komitmen dari pemerintah daerah.

Selain memerlukan dukungan regulasi formal, Pemkot Malang juga perlu membantu pemetaan wilayah keamanan.

Hal ini dikarenakan beberapa akses lorong yang mengarah langsung ke area privat rumah mewah di Jalan Ijen harus ditutup permanen demi kenyamanan pemilik rumah saat ini.

Dapat Lampu Hijau dari Wakil Wali Kota Malang

Rencana strategis ini mendapat angin segar setelah Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, melakukan kunjungan langsung ke lokasi Kafe Bungker pada Selasa (14/7/2026).

Saat melangkah masuk ke dalam area bawah tanah yang lembap, Ali mengaku terkesan dengan atmosfer masa lalu yang disuguhkan, terutama struktur langit-langit yang masih menggunakan cetakan anyaman bambu (gedhek) tradisional sebagai penahan semen purba.

Ali sependapat bahwa situs bersejarah ini menyimpan potensi ekonomi kreatif dan pariwisata yang sangat kuat untuk mendongkrak lama kunjungan wisatawan (length of stay) di Kota Malang.

“Bungker ini sangat ikonis dan punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata baru. Karena ini merupakan aset pribadi, saya mendorong dan mengimbau pemiliknya untuk aktif mengusulkan konsep ini ke Pemkot Malang agar legalitasnya jelas. Pengurusan izinnya tidak akan sulit,” kata Ali Muthohirin.

Pihaknya memastikan akan segera menginstruksikan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang untuk menangkap peluang emas ini dan mendampingi proses pengembangannya.

“Kehadiran wisata bungker ini menjadi kabar gembira bagi lini pariwisata daerah. Dengan adanya alternatif destinasi baru yang menonjolkan sisi historis, para pelancong akan memiliki lebih banyak pilihan menarik saat menghabiskan waktu liburan di Kota Malang,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.