Inggris Tak Perlu Takut Hadapi Juara Bertahan Argentina yang Tengah Terpuruk Demi Raih Final Piala Dunia Pertama dalam 60 Tahun
Dewi Rahayu July 16, 2026 05:44 AM

Kemajuan yang dicapai tim nasional Inggris selama satu dekade terakhir membuat banyak pihak menilai mereka layak difavoritkan ketika berhadapan dengan juara bertahan Piala Dunia, Argentina, di babak semifinal edisi 2026 pada Rabu mendatang. Tentu saja, tim yang masih diperkuat oleh bintang besar Lionel Messi tetap menjadi ancaman besar bagi peluang The Three Lions untuk mengakhiri penantian enam dekade, namun pasukan Thomas Tuchel tidak memiliki alasan untuk gentar di Atlanta.

Meski kedua tim sempat dianggap sebagai favorit sebelum turnamen dimulai, perjalanan mereka di babak gugur memperlihatkan kemiripan dalam hal perjuangan dramatis dan menegangkan. Inggris harus bekerja keras untuk mengalahkan Republik Demokratik Kongo dengan gol telat, sementara Argentina membutuhkan waktu tambahan untuk menyingkirkan tim kuda hitam Tanjung Verde di babak 32 besar.

The Three Lions kemudian menunjukkan tekad luar biasa saat menang 3-2 atas Meksiko di Stadion Azteca meski bermain dengan 10 pemain, sementara Argentina juga harus bangkit dari ketertinggalan untuk menundukkan Mesir dengan skor identik. Kedua tim akhirnya melangkah ke semifinal setelah menang melalui gol di perpanjangan waktu atas Norwegia dan Swiss.

Walaupun skuat Tuchel juga menghadapi laga-laga sulit, mereka bisa mendapat kepercayaan diri besar dengan melihat bagaimana rival mereka terseok-seok untuk mencapai tahap ini.

Juara Dunia yang Goyah

Melihat status mereka sebagai juara bertahan, bisa dikatakan Argentina menjalani perjalanan yang berat dalam mempertahankan gelar Piala Dunia mereka sejauh ini. Sama seperti Inggris, undian yang menguntungkan seharusnya memberi jalan mudah menuju semifinal, namun kenyataannya jauh berbeda.

Pasukan Lionel Scaloni memang melaju dengan mulus di fase grup setelah meraih poin penuh melawan Aljazair, Austria, dan Yordania, di mana Messi mencetak enam gol dari tiga pertandingan. Namun, babak gugur menjadi jauh lebih rumit dan memperlihatkan kelemahan signifikan dalam pertahanan juara dunia tersebut.

Luar biasanya, Argentina membutuhkan waktu tambahan untuk menyingkirkan Tanjung Verde di babak 32 besar, dengan gol bunuh diri pada menit ke-111 menjadi penentu kemenangan meski perbedaan kualitas kedua tim sangat mencolok. Mereka kemudian hampir tersingkir di babak 16 besar ketika tertinggal 0-2 dari Mesir dengan sisa waktu 11 menit, namun mampu membalikkan keadaan menjadi 3-2 lewat gol penentu Enzo Fernandez di masa tambahan waktu.

Harapan bahwa Albiceleste akan tampil lebih padu di perempat final pupus ketika Dan Ndoye menyamakan kedudukan untuk Swiss di pertengahan babak kedua. Mereka bahkan sempat tertekan sebelum Breel Embolo mendapat kartu kuning kedua yang kontroversial akibat dugaan simulasi setelah tinjauan VAR. Meski bermain unggul jumlah pemain selama 20 menit terakhir, Argentina kembali membutuhkan waktu tambahan dan gol indah Julian Alvarez untuk memastikan kemenangan. Semua ini terjadi meski mereka belum menghadapi tim mana pun yang berada di peringkat 10 besar FIFA.

Fakta bahwa Argentina sudah dua kali bermain hingga waktu tambahan di fase gugur (sementara Inggris hanya sekali) serta memiliki waktu istirahat yang sedikit lebih singkat kemungkinan juga akan berpengaruh di semifinal.

‘Mereka Tidak Bisa Bertahan’

Meski tampil solid di fase grup dengan hanya kebobolan satu gol, Argentina justru kemasukan lima gol di tiga laga babak gugur (enam jika termasuk gol Mesir yang dianulir) melawan lawan yang relatif lebih lemah — hal ini menjadi sinyal positif bagi Inggris.

Dalam tiga pertandingan terakhir, juara bertahan tampak kesulitan menghadapi serangan cepat, permainan sayap lincah, dan umpan silang dari sisi lapangan — area di mana The Three Lions memiliki senjata paling mematikan. Tuchel akan mengandalkan Anthony Gordon, Bukayo Saka, dan Jude Bellingham untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut.

Bek Argentina Cristian Romero dan Lisandro Martinez sama-sama mengakui bahwa pertahanan mereka perlu lebih “fokus” dan “meningkatkan performa”. Legenda Inggris Chris Waddle juga berpendapat bahwa lini belakang Argentina adalah titik terlemah mereka.

Dalam wawancaranya dengan 10bet, Waddle berkata: “Saya percaya Argentina tidak terlalu kuat dalam bertahan. Kita tahu mereka luar biasa dalam menyerang, tetapi secara defensif, saya terkejut banyak tim belum memanfaatkan itu. Mereka kurang cepat dan mobilitas di belakang juga terbatas.”

“Jika berani menekan mereka, seperti yang terlihat baru-baru ini, pertahanan mereka tidak terlalu solid. Inggris akan percaya diri ketika melihat bagaimana Argentina kesulitan dalam bertahan.”

Keunggulan di Lini Tengah

Laga ini kemungkinan akan ditentukan oleh pertarungan di lini tengah, dan Inggris tampak memiliki peluang lebih baik di area tersebut. Jika gelandang Argentina gagal melindungi lini belakang, mereka akan berada dalam masalah serius.

Pilihan Scaloni di lini tengah cukup menarik; di fase gugur ia menggunakan formasi berlian dengan empat gelandang tengah — Fernandez, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, dan Leandro Paredes — tampaknya untuk menumpuk kekuatan di tengah dan memberi ruang bagi Messi di depan mereka. Paredes berada lebih dalam dengan De Paul di kanan, Mac Allister di kiri, dan Fernandez bermain sebagai nomor 10.

Namun, formasi sempit ini menciptakan ruang lebar di sisi sayap yang terus dimanfaatkan oleh pemain lawan sepanjang turnamen — terakhir oleh Ndoye dari Swiss, yang mampu menaklukkan Nahuel Molina di sisi kanan yang rentan karena De Paul sudah menua. Di situlah Gordon dan Saka bisa memanfaatkan peluang jika rekan setim mampu mengirimkan bola dengan tepat.

Bellingham, Elliot Anderson, dan Declan Rice — yang diperkirakan bugar setelah absen di babak kedua dan waktu tambahan melawan Norwegia — akan siap menghadapi duel melawan De Paul dan Paredes yang sudah menurun performanya. Fernandez dan Mac Allister merupakan lawan yang sudah akrab bagi mereka di Liga Premier, dan trio Inggris setidaknya unggul dalam hal fisik dan kecepatan.

Menariknya, Scaloni dikabarkan akan melakukan perubahan taktik besar pada Rabu nanti, dengan kemungkinan memasukkan Exequiel Palacios yang lebih dinamis dan winger murni Giuliano Simeone, atau bahkan beralih ke formasi 5-3-2 dengan penggunaan bek sayap — sistem yang ia terapkan di perempat final Piala Dunia 2022 melawan Belanda.

Namun, Anderson, Rice, dan Bellingham harus tetap tenang. Lawan mereka dikenal lihai memainkan provokasi, terutama De Paul dan Paredes yang kerap menggunakan trik kotor untuk memancing emosi. Inggris tidak boleh kehilangan kendali hingga berujung kartu kuning atau merah yang tidak perlu.

Messi Mulai Menurun?

Salah satu catatan menarik dari kemenangan Argentina atas Swiss di perempat final adalah bahwa Swiss menjadi tim pertama yang mampu menghentikan Messi mencetak gol di turnamen ini — hal yang bisa menjadi sumber pelajaran dan keyakinan bagi Inggris.

Setelah dua laga melelahkan melawan Tanjung Verde dan Mesir, La Pulga tampil relatif tenang menghadapi tim dengan peringkat tertinggi yang mereka temui sejauh ini di Amerika Utara. Meski sempat memberi assist untuk gol Alexis Mac Allister dari situasi sepak pojok, Messi gagal mencetak gol dari tiga peluang yang ia dapatkan.

Apakah ini tanda bahwa sang ikon mulai kehabisan tenaga? Mengingat sebelumnya keikutsertaannya di turnamen ini sempat diragukan karena usia dan kebugaran, hal ini bukan tidak mungkin. Babak gugur jelas menguras tenaga Albiceleste, dan Messi dikabarkan absen dari sesi latihan hari Minggu untuk menjaga kondisi tubuhnya.

Legenda Inggris Wayne Rooney menilai bahwa meski Messi tetap berbahaya, ia bisa menjadi titik lemah bagi Argentina. “Dia bisa jadi masalah di pertahanan,” ujar Rooney dalam analisisnya di BBC. “Dia tidak banyak membantu bertahan, meski masih punya momen besar dan kualitas luar biasa seperti Jude Bellingham.”

Tajam dan Tumpul

Selain Messi, Inggris juga bisa mengambil keuntungan dari fakta bahwa penyerang Argentina lainnya belum tampil konsisten sepanjang turnamen. Dari total delapan gol tim, enam di antaranya dicetak oleh Messi. Lautaro Martinez baru mencetak dua gol — satu dari penalti melawan Yordania dan satu lagi di waktu tambahan melawan Swiss.

Julian Alvarez baru mencatatkan gol pertamanya lewat tendangan spektakuler ke gawang Swiss, setelah sebelumnya kesulitan menemukan ritme permainan di tengah rumor kepindahannya dari Atletico Madrid musim panas ini.

Akibatnya, Argentina sangat bergantung pada Messi, sementara kontribusi pemain lain masih terbatas. Jika Inggris mampu menekan sang kapten, Albiceleste mungkin harus berharap pada momen magis dari pemain lain — sesuatu yang bisa dikendalikan lebih baik oleh Tuchel dan timnya.

Memang, Inggris juga banyak bergantung pada Bellingham dan Harry Kane yang sama-sama mencetak enam gol, dengan Marcus Rashford menjadi satu-satunya pemain lain yang mencatatkan gol. Namun, dengan Gordon dan Saka yang sudah menyumbang tiga assist masing-masing, keseimbangan serangan Inggris terlihat lebih menjanjikan.

Kepercayaan pada Tuchel

Senjata terbesar Inggris pada Rabu malam mungkin justru sosok yang tidak berada di lapangan. Inilah alasan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) beralih dari pelatih berkarakter tenang seperti Gareth Southgate ke sosok taktis yang tegas dan visioner seperti Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman itu telah membuktikan kemampuannya di kompetisi piala selama turnamen berlangsung.

Keputusan strategisnya di tengah pertandingan membawa Inggris menuju semifinal Piala Dunia ketiga mereka dalam sejarah — pencapaian besar setelah puluhan tahun kekecewaan. Seperti Argentina, Inggris juga sempat terancam, namun mereka tak pernah benar-benar terlihat akan kalah, sebagian besar berkat kepemimpinan Tuchel.

Keputusan memasukkan Gordon melawan Republik Demokratik Kongo yang menghasilkan dua gol kemenangan oleh Kane, strategi bertahan luar biasa saat melawan Meksiko dengan 10 pemain di Azteca, hingga pidato motivasi di babak pertama melawan Kroasia pada laga pembuka — semua itu menjadi momen kunci perjalanan Inggris.

“Saya sangat menikmatinya. Saya merasa sangat hidup di momen seperti ini,” ujar Tuchel usai kemenangan atas Norwegia. “Inilah tempat saya ingin berada. Saya tidak ingin berada di tempat lain di dunia ini saat ini.”

Jika Tuchel kembali mampu memberikan performa terbaik di Atlanta pada Rabu malam, ia akan berada di ambang pencapaian besar dalam sejarah sepak bola Inggris.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.