Kiriman Air Jadi Penyelamat 20.393 Keluarga Terdampak Kekeringan di Jateng
M Syofri Kurniawan July 16, 2026 06:56 AM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA  -  Warga Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, sudah mulai mengalami kesulitan air bersih, sejak awal Januari.

Praktis, sudah enam bulan terakhir, mereka mengandalkan bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara dan Perumda Air Minum Tirta Jungpara. 

Hingga pertengahan Juli ini, lebih dari 984.000 liter air bersih sudah didistribusikan ke penduduk Kedungmalang.

Sebanyak 904.000 liter bantuan dari Perumda Air Minum Tirta Jungpara dan 80.000 liter bantuan dari BPBD Kabupaten Jepara.

Di Kedungmalang terdapat 870 KK yang terdampak kekurangan air bersih.

Mereka tersebar di RW 02 ada 4 RT dan RW 03 ada 7 RT.

Walhasil, air kiriman menjadi penyelamat warga dari kekeringan. 

Direktur Perumda Air Minum Tirta Jungpara, Lukman Hakim mengatakan, persoalan kelangkaan air bersih yang terjadi di Kedungmalang lantaran air baku dari Bendung Bongpes di Desa Gerdu, Kecamatan Pecangaan, tidak bisa diolah karena tercampur dengan air asin.

Meski dua sumur sudah diperbantukan untuk menyupali air bersih ke Kedungmalang, namun debit air tidak mencukupi sehingga tidak bisa menjangkau semua warga Kedungmalang.

Lukman mengungkapkan, setiap hari rata-rata 10 tangki air bersih berkapasitas 4.000 liter dikirim ke Kedungmalang.

“Total sudah ada 226 tangki atau 904.000 liter air bersih yang telah didistribusikan dalam waktu enam bulan terakhir,” kata Lukman kepada Tribun Jateng, Senin (13/7/2026).

Kata Lukman, rencananya bakal dibangun satu sumur lagi ditempatkan di wilayah Jepara bagian selatan pada tahun ini.

Pembangunan sumur baru diproyeksikan untuk menambah debit air yang nantinya dialirkan ke Desa Kedungmalang.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara, Bagus Ari Wibowo menambahkan, BPBD membantu upaya dropping air bersih atas permintaan dari Pemerintah Desa Kedungmalang.

Dari 870 KK yang terdampak kekurangan air bersih, BPBD bertugas memberikan suplai air bersih di empat RT yang terletak di RW 02.

Selebihnya suplai air bersih ditangani oleh Perumda Air Minum Tirta Jungpara.

Sebelumnya, data BPBD Jawa Tengah menunjukkan, 14 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah terdampak kekeringan.

Hingga minggu kedua Juli, eskalasi krisis ini telah berdampak langsung pada 20.393 Kepala Keluarga (KK) atau setara 57.413 jiwa yang tersebar di 40 kecamatan dan 60 desa.

Kabupaten Klaten

Sementara itu, krisis air bersih juga dialami warga Desa Tlogowatu, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten.

Bantuan air bersih dari BPBD Klaten menjadi penyelamat ribuan warga di lereng Gunung Merapi tersebut.

Warga Desa Tlogowatu, Hartoyo mengatakan, krisis air bersih sudah menjadi persoalan turun-temurun di wilayahnya.

Hampir setiap rumah mengandalkan tandon penampung air hujan saat musim hujan.

“Namun saat kemarau datang, persediaan hanya mampu bertahan sekitar dua bulan, sebelum akhirnya warga terpaksa membeli air,” kata Hartoyo, Selasa (14/72026).

Kepala Desa Tlogowatu, Suprat Widoyo mengatakan, pemerintah desa bersama BPBD menyiapkan bak penampungan air di setiap RT, agar warga yang tidak mampu membeli air tetap bisa mendapatkan pasokan.

Jika stok habis, desa segera mengajukan dropping air berikutnya kepada BPBD.

“Selama ini memang masih banyak mengandalkan dari bantuan BPBD untuk dropping air bersih ke tempat warga, ataupun ke bak-bak penampungan umum milik desa yang kita sediakan di tiap RT,” jelasnya.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna mengatakan, terdapat empat desa di Kecamatan Kemalang yang memiliki potensi kekeringan, sejak pertengahan Mei.

Keempat desa itu, yakni Tlogowatu, Tegalmulyo, Sidorejo, dan Kendalsari.

Hingga pertengahan Juli ini, kata Syahruna, BPBD Klaten telah menyalurkan 236 tangki atau sekitar 1.180.000 liter air bersih. 

Bantuan air bersih juga menjadi penolong warga Desa Kedungwuluh Lor, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, dari kekeringan.

Sabtu (11/7/2026) lalu, BPBD Banyumas mengirimkan bantuan air bersih bagi warga.

Sejak tiga bulan terakhir, warga Desa Kedungwuluh Lor, terutama di RT 05 RW 02, mulai kekurangan air.

Sumur-sumur di kampung itu kini berubah menjadi lubang tanah kering berbatu. Kondisi itu berdampak pada sekitar 60 kepala keluarga di RT tersebut.

Letak geografis pemukiman mereka yang berada di dataran tinggi memang menjadi langganan krisis air tahunan. 

Kepala Pelaksana BPBD Banyumas, Dwi Irawan Sukma menjelaskan, pihaknya telah memetakan wilayah rawan berkaca pada bencana kemarau ekstrem tahun 2023 lalu, dengan 81 desa di 19 kecamatan sempat lumpuh tanpa air.

"Kami menyiagakan mobil tangki milik BPBD, dibantu dari PMI, Dinas Lingkungan Hidup, dan Perumda Tirta Satria untuk skema jangka pendek," kata Dwi.

Kabupaten Kendal

Di Kabupaten Kendal, BPBD setempat mencatat, delapan kecamatan kerap dilanda kekeringan saat musim kemarau tiba.

Kedelapan kecamatan tersebut, yakni Pageruyung, Plantungan, Sukorejo, Patean, Boja, Singorojo, Limbangan, dan Kaliwungu Selatan.

Kasi Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan PDAM Kendal untuk menyiapkan pasokan air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.

BPBD juga telah menyiapkan tiga mobil tangki air yang siap siaga menyalurkan bantuan air bersih dengan kapasitas 5.000 liter di masing-masing tangki. 

"Kami selalu siaga manakala ada wilayah yang membutuhkan pasokan air bersih," kata Iwan, Rabu (15/7).

Di Kabupaten Brebes, BPBD setempat menyalurkan bantuan air bersih ke Blok Sondari, RT 03, 04, 05, dan 06 RW 01, Desa Pangebatan, Kecamatan Bantarkawung, pada Senin (13/7/2026).

BPBD mengerahkan dua mobil tangki air bersih dengan total volume 10.000 liter. 

“Dropping air bersih merupakan salah satu langkah yang dilakukan BPBD untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan pada musim kemarau,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Brebes, Wibowo Budi Santoso.

Data BPBD Brebes menunjukkan, 9 dari 17 kecamatan di wilayah itu terancam kekeringan dan krisis air bersih.

Kesembilan kecamatan tersebut, yakni Ketanggungan, Banjarharjo, Bantarkawung, Larangan, Wanasari, Tonjong, Sirampog, Paguyangan, dan Bumiayu.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Tegal, Untung Subagyo menyatakan, pihaknya sudah mengimbau kepada camat dan kepala desa di wilayahnya untuk segera membuat surat permintaan bantuan distribusi air bersih untuk nantinya dijadikan satu data.

Adapun sesuai informasi dan monitoring lapangan, Untung menyebut, ada enam kecamatan di Kabupaten Tegal yang mulai mengalami kekeringan.  

Keenam kecamatan itu, yakni Warureja, Suradadi, Pangkah, Kedungbanteng, Balapulang, dan Jatinegara. 

"Kalau posisi sekarang ya sudah ada yang kekeringan tapi statusnya masih landai belum terlalu parah,” kata Untung.

“Kami siap siaga 24 jam ketika ada masyarakat yang butuh bantuan," imbuhnya. (Saiful Ma'sim/Iwan Arifianto/Permata Putra Sejati/Wahyu Nur Kholik/Desta Leila Kartika/Agus Salim)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.