TRIBUN-MEDAN.COM,- Pernah kah kalian mendengar tentang nama Ismail Banda?
Bagi anak kekinian, mungkin nama Ismail Banda terasa asing didengar.
Namun siapa sangka, pria anak Medan ini ternyata tokoh penting dalam perkembangan Al Jam'iyatul Washliyah atau Al Washliyah.
Baca juga: Tugu dan Makam Raja Silahisabungan atau Tumaras Beserta Sejarahnya
Bagi organisasi Al Washliyah, Ismail Banda merupakan satu diantara founding father Al Washliyah.
Di masa mudanya, ia menghabiskan waktu dalam dunia pendidikan dan dakwah.
Jasanya begitu besar dalam perkembangan Islam di Tanah Air, termasuk di Kota Medan, Sumatera Utara.
Lantas, seperti apakah rekam jejaknya?
Tuanku Haji Ismail Banda lahir pada 1910 di Sumatera Utara.
Baca juga: Hotel De Boer atau Grand Inna, Hotel Tertua di Medan yang Pernah Didatangi Raja Leopold II
Ia tumbuh pada masa ketika pendidikan Islam modern mulai berkembang di Medan melalui berbagai madrasah yang didirikan para ulama Melayu dan Mandailing.
Sejak muda, Ismail Banda dikenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Ia menempuh pendidikan agama di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan, salah satu lembaga pendidikan Islam modern yang pada awal abad ke-20 melahirkan banyak tokoh penting.
Dari lingkungan inilah lahir gagasan untuk membentuk organisasi yang kelak dikenal sebagai Al Jam'iyatul Washliyah.
Baca juga: Sejarah Raja Sisingamangaraja XII di Sionom Hudon, Perjuangan dan Misreri Makamnya
Berkat prestasi akademiknya, Ismail Banda memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, yang saat itu menjadi pusat pendidikan Islam dunia.
Di sana ia tidak hanya mendalami ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga aktif membangun jaringan intelektual dan organisasi mahasiswa Indonesia di Timur Tengah.
Sejarah mencatat, Al Jam'iyatul Washliyah resmi berdiri pada 30 November 1930 (9 Rajab 1349 H) di Kota Medan.
Organisasi ini lahir dari diskusi rutin para pelajar Maktab Islamiyah Tapanuli yang merasa perlu membangun wadah untuk menyatukan ulama, guru, pelajar, dan masyarakat Islam dalam bidang pendidikan serta dakwah.
Baca juga: Sejarah Kerajaan Huristak di Padang Lawas, Kerajaan Batak di Tepi Sungai Barumun Keturunan Hasibuan
Nama "Al Washliyah" sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti yang menghubungkan atau yang mempersatukan, mencerminkan cita-cita organisasi sebagai perekat persaudaraan umat Islam.
Dalam musyawarah pendirian tersebut, Ismail Banda dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar pertama Al Jam'iyatul Washliyah.
Kepercayaan itu diberikan karena kapasitas intelektualnya, kemampuan memimpin, serta pengaruhnya di kalangan pelajar dan ulama muda.
Keputusan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi yang hingga kini telah berusia hampir satu abad.
Baca juga: Kota Perdagangan, Saksi Kejayaan Kerajaan Nagur dan Pusat Ekonomi Masa Lampau
Ismail Banda bukan sekadar tercatat sebagai ketua pertama secara administratif. Ia merupakan salah satu motor penggerak yang membentuk arah perjuangan Al Washliyah pada masa-masa awal.
Beberapa peran pentingnya antara lain:
Pada masa awal berdiri, Al Washliyah masih merupakan organisasi yang sangat muda.
Baca juga: Asal Usul Hamparan Perak Cikal Bakal Pemerintahan Adat Kesultanan Deli
Ismail Banda berperan menyusun pola kepemimpinan, membangun struktur organisasi, dan mengonsolidasikan para ulama, guru, serta pelajar agar memiliki visi yang sama.
Di bawah kepemimpinannya, Al Washliyah berkembang sebagai organisasi yang menggabungkan dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial dalam satu gerakan.
Sejak awal, Ismail Banda meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan utama membangun umat.
Karena itu, ia aktif mendorong berdirinya madrasah, memperkuat sistem pembelajaran Islam modern, dan meningkatkan kualitas guru.
Baca juga: Masjid Jamik Ismailiyah, Sudah Berusia 143 Tahun, Peninggalan Kesultanan Deli di Sergai
Gagasan tersebut kemudian menjadi ciri khas Al Washliyah yang hingga kini dikenal memiliki ribuan sekolah, madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi.
Semangat pendidikan yang diwariskannya menjadikan Al Washliyah tidak hanya fokus pada dakwah, tetapi juga mencetak generasi Muslim yang memiliki ilmu agama sekaligus pengetahuan umum.
Pada awal abad ke-20, terdapat beragam kelompok Islam dengan latar belakang pendidikan dan pemikiran yang berbeda.
Baca juga: 16 Tokoh Masyarakat Diganjar Penganugerahan Gelar Adat Kesultanan Deli di Istana Maimoon
Ismail Banda berusaha menjadikan Al Washliyah sebagai ruang yang mempertemukan para ulama, guru, dan pelajar agar dapat bekerja sama membangun masyarakat tanpa mengedepankan perbedaan.
Semangat inilah yang membuat Al Washliyah dikenal sebagai organisasi yang mengedepankan persatuan umat dan pengembangan pendidikan.
Setelah aktif membangun Al Washliyah, Ismail Banda melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo.
Keberangkatannya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Al Washliyah karena menunjukkan bahwa organisasi tersebut mampu melahirkan kader yang menempuh pendidikan di salah satu universitas Islam tertua di dunia.
Selama berada di Mesir, Ismail Banda tidak hanya belajar.
Ia juga aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa Indonesia dan menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh dunia Islam.
Ismail Banda juga dikenal sebagai koresponden beberapa media nasional, seperti Pewarta Deli dan Pemandangan, sehingga masyarakat Indonesia dapat mengikuti perkembangan dunia Islam dan perjuangan bangsa melalui tulisan-tulisannya.
Setelah Indonesia merdeka, Ismail Banda mengabdikan diri kepada negara.
Ia pernah bertugas di Kementerian Agama, kemudian berpindah ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Karier diplomatiknya membawanya bertugas di Yogyakarta, Jakarta, hingga akhirnya menjadi bagian dari perwakilan Indonesia di Teheran, Iran.
Pada masa awal kemerdekaan, diplomasi merupakan salah satu ujung tombak perjuangan Indonesia untuk memperoleh pengakuan internasional.
Berkat jaringan yang dimilikinya di Timur Tengah sejak menjadi mahasiswa Al-Azhar, Ismail Banda ikut berkontribusi memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara Muslim yang mulai mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Selain bergerak di bidang pendidikan dan diplomasi, Ismail Banda juga aktif dalam Partai Masyumi, yang pada masa itu menjadi salah satu kekuatan politik terbesar umat Islam Indonesia.
Melalui jalur organisasi dan diplomasi, ia turut memperjuangkan kepentingan bangsa Indonesia di tingkat internasional.
Perjuangannya menunjukkan bahwa ulama tidak hanya berperan di mimbar dakwah, tetapi juga dalam membangun negara.
Pengabdian Ismail Banda berakhir ketika ia masih aktif sebagai diplomat.
Ia wafat pada 1951 di Teheran, Iran, saat menjalankan tugas negara.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar, baik bagi Al Washliyah maupun bangsa Indonesia, karena pada usia yang relatif muda ia telah memberikan kontribusi besar di bidang pendidikan, dakwah, dan diplomasi.
Meski telah wafat lebih dari tujuh dekade lalu, warisan Ismail Banda masih terasa hingga sekarang.
Di lingkungan Al Washliyah, ia dikenang sebagai pemimpin pertama yang membangun dasar organisasi dengan menempatkan pendidikan sebagai pilar utama perjuangan.
Di tingkat nasional, kiprahnya sebagai diplomat menunjukkan bahwa tokoh Islam Indonesia mampu berperan dalam percaturan internasional.
Perjalanan hidupnya menjadi contoh bahwa perjuangan umat tidak hanya dilakukan melalui dakwah di dalam negeri, tetapi juga melalui pendidikan, diplomasi, media, dan pengabdian kepada negara.
Hingga kini, nama Ismail Banda tetap tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri Al Washliyah yang berjasa membangun organisasi tersebut sejak masa awal berdiri.
Nilai-nilai yang diperjuangkannya, ilmu pengetahuan, persatuan, moderasi, dan pengabdian kepada bangsa, masih menjadi bagian dari identitas Al Washliyah dalam menjalankan dakwah dan pendidikan.
Biodata Ismail Banda
Nama lengkap: Tuanku Haji Ismail Banda
Lahir: 1910
Wafat: 1951 di Teheran, Iran
Profesi: Ulama, pendidik, diplomat, aktivis
Pendidikan: Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan, Universitas Al-Azhar Kairo
Organisasi: Al Jam'iyatul Washliyah, Masyumi
Bidang perjuangan: Pendidikan Islam, dakwah, diplomasi, kemerdekaan Indonesia
(ray/tribun-medan.com)