Manuskrip Kuno Cirebon Kini Dikaji untuk Bahan Belajar Masyarakat, Perkuat Literasi Sejarah Lokal
Seli Andina Miranti July 16, 2026 10:11 AM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Manuskrip kuno yang selama ini identik sebagai koleksi museum kini mulai diposisikan sebagai sumber pembelajaran bagi masyarakat.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menggandeng guru, mahasiswa, hingga pegawai internal untuk mengkaji sekaligus menyebarluaskan isi manuskrip kuno agar nilai sejarah dan budaya Cirebon dapat dipahami lebih luas.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi sejarah lokal sekaligus memastikan warisan budaya Cirebon tidak hanya tersimpan di ruang penyimpanan museum, tetapi juga hadir dalam ruang-ruang pendidikan, penelitian dan kehidupan masyarakat.

Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, mengatakan, pelibatan guru, mahasiswa dan pegawai dinas merupakan strategi agar hasil kajian manuskrip dapat menjangkau lebih banyak kalangan.

Baca juga: Melihat Isi Manuskrip Peninggalan Raden Bagus Aria Wiralodra, Pendiri Indramayu, Ditulis Abad Ke-16

"Kami perlu sekali mengkajinya (manuskrip), menyampaikannya dan memperkenalkannya kepada masyarakat," ujar Fajar saat diwawancarai media, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, manuskrip kuno bukan sekadar benda koleksi museum, melainkan sumber sejarah yang merekam perjalanan masa lalu, nilai budaya, hingga identitas masyarakat Cirebon.

Karena itu, isi yang terkandung di dalamnya perlu terus dikaji dan disampaikan kepada publik secara benar.

Fajar menjelaskan, pengetahuan mengenai sejarah lokal tidak boleh berhenti di lingkungan akademisi maupun instansi pemerintah. 

Guru dan mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis untuk menyampaikan hasil kajian tersebut kepada masyarakat melalui proses pembelajaran di sekolah, kegiatan penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Dengan keterlibatan berbagai kalangan tersebut, informasi mengenai sejarah Cirebon diharapkan dapat dipahami secara lebih luas oleh generasi muda dan masyarakat umum.

Tak hanya menggandeng peserta dari luar instansi, Disbudpar juga mendorong seluruh pegawainya memahami koleksi museum, termasuk manuskrip kuno yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Kabupaten Cirebon.

"Kami ingin seluruh pegawai di Disbudpar mengetahui dan mengenal museum yang kita miliki, termasuk koleksi manuskrip yang menjadi bagian penting dari sejarah Cirebon," ucapnya.

Ia menuturkan, pemahaman terhadap koleksi museum menjadi bekal penting bagi pegawai agar mampu memberikan informasi yang benar kepada masyarakat maupun wisatawan yang datang berkunjung.

Fajar menegaskan, penyebarluasan informasi yang akurat sangat diperlukan agar sejarah Cirebon tidak berkembang berdasarkan informasi yang keliru ataupun belum terverifikasi.

Baca juga: Guru Besar Unpad Sebut Nama Tempat Sunda Simpan Sejarah: Jangan Asal Diganti

Untuk mendukung tujuan tersebut, Disbudpar menghadirkan akademisi serta pemerhati budaya yang memiliki kompetensi dalam kajian manuskrip dan sejarah lokal untuk memaparkan hasil penelitian mereka kepada para peserta.

"Para narasumber hadir untuk menularkan ilmunya sehingga pemahaman tentang manuskrip Cirebon dapat tersampaikan dengan benar kepada masyarakat," jelas dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.