Satu Laga Lagi untuk Menyempurnakan Warisan Lionel Messi
Arif Tio Buqi Abdulah July 16, 2026 10:57 AM

TRIBUNNEWS.COM - Lionel Messi hanya berjarak satu pertandingan dari penutup karier Piala Dunia yang nyaris mustahil dirancang lebih sempurna.

Setelah mengantarkan Argentina menyingkirkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026, La Pulga kini berpeluang melengkapi perjalanan lebih dari dua dekade bersama timnas dengan trofi dunia kedua secara beruntun, Kamis (16/7/2026).

Bila Argentina menjadi juara Piala Dunia 2026, maka Lionel Messi hampir tidak menyisakan lagi pencapaian yang belum diraih dalam kariernya.

Pencapaiannya terbilang langka karena sangat sedikit pesepak bola pada era modern yang mampu menggabungkan kesuksesan di level klub, tim nasional, dan penghargaan individu seperti yang dilakukan Messi.

Bahkan tanpa melihat hasil final nanti, nama Messi telah menempatkan dirinya di jajaran pesepak bola terbesar sepanjang sejarah. Jika kembali membawa Argentina menjadi juara dunia, warisannya akan semakin sulit disamai.

Dari level junior hingga senior, Messi akhirnya berhasil mempersembahkan hampir seluruh gelar utama yang bisa diraih bersama Argentina.

Mulai dari juara Piala Dunia U20 tahun 2005, lalu Olimpiade tiga tahun kemudian, hingga di level senior yang intens sejak tahun 2021.

Lionel Messi meraih dua gelar juara Copa Amerika (2021, 2024), Finalissima yang mempertemukan dengan juara Piala Eropa (2022), kemudian kesempatan mengawinkan dua gelar Piala Dunia secara beruntun.

Di level klub, Messi telah merasakan hampir semua trofi bergengsi, mulai dari gelar domestik, Liga Champions, Piala Super Eropa, hingga Piala Dunia Antarklub.

Pun dengan berbagai penghargaan individu, Messi hampir memiliki semua trofi di lemari koleksinya.

Yaitu peraih gelar Ballon d'Or terbanyak (8), Pemain Terbaik FIFA, Pemain Terbaik Piala Dunia dan top skor Eropa, hingga berbagai gelar pemain terbaik dan top skor lainnya. Termasuk jadi Pemain Terbaik di Copa Amerika.

Football Enthusiast, Bayu Ajianto pernah mengungkapkan bahwa Lionel Messi adalah representasi dari bakat, kreativitas, dan visi bermain yang luar biasa dalam permainan sepak bola.

"Messi merepresentasikan bakat, kreativitas, dan visi bermain yang luar biasa," kata Bayu dalam podcast Tribunnews yang bertajuk Super Taktik: Prediksi Grup A-F Piala Dunia 2026 dan Last Dance Ronaldo vs Messi di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

"Konsistensi mereka dinilai berdasarkan dari tiga faktor, kualitas individu di atas rata-rata, kemampuan adaptasi terhadap perubahan sepak bola, dan mentalitas juara yang tidak pernah puas meski sudah meraih berbagai penghargaan bergengsi," lanjut Bayu.

Warisan yang Nyaris Tak Tertandingi

Jika ingin dibandingkan dengan pesepak bola modern, sulit rasanya menyandingkan pencapaian Lionel Messi, bahkan sekelas Cristiano Ronaldo, hingga para legenda, Zidane, Pele, dan Maradona.

Masing-masing legenda memiliki keunggulannya sendiri. Pele mengoleksi tiga gelar Piala Dunia, Maradona menjadi ikon kemenangan Argentina pada 1986, Zidane memimpin Prancis menjadi juara dunia, sedangkan Cristiano Ronaldo mendominasi berbagai rekor individu. 

Namun, jika melihat kombinasi prestasi di level klub, tim nasional, dan penghargaan individu, karier Messi menjadi salah satu yang paling lengkap dalam sejarah sepak bola modern.

Di level Piala Dunia, Messi belum seperti Pele yang sukses meraih 3 gelar juara turnamen empat tahunan tersebut.

Tetapi Pele tidak pernah merasakan gelar Ballon d'Or dan Liga Champions karena hanya bermain di Brasil.

Sementara Maradona yang ikonik hanya sekali juara dunia, koleksi trofi klubnya juga jauh di bawah Lionel Messi.

Dengan Zinedine Zidane yang berhasil juara dunia, Eropa, dan Ballon d'Or, tetapi karier di klub maupun statistik individunya dalam meraih gelar berada di bawah Messi.

Franz Beckenbauer juga memiliki warisan besar sebagai juara dunia dan peraih Ballon d'Or. Namun, perbedaan era membuat perbandingan langsung menjadi tidak sederhana.

Perbandingan lintas generasi memang tidak pernah mudah. Namun, belum banyak pemain yang mampu menggabungkan hampir seluruh pencapaian tersebut dalam satu karier seperti yang dilakukan Messi.

13 Tahun Penantian

Setelah Olimpiade 2008, Messi harus menunggu 13 tahun hingga usia 34 tahun baru bisa mengangkat trofi bersama timnas Argentina.

Pencapaian itu sekaligus menghapus stigma kegagalan Messi dengan tim Tango.

Di usia itulah Messi menunjukkan kematangan, ditunjang dengan kompetensi pelatih dan tim yang selalu mendukungnya hingga menjadi satu-kesatuan unit yang lengkap.

Di usia 35 tahun Messi meraih gelar juara dunia pertamanya. Dua tahun kemudian juara Copa Amerika lagi.

Yang terbaru saat berusia 39 tahun, Messi membawa Argentina ke final dan berpeluang mempertahankan gelar juara dunia.

2022 yang Berbeda dengan 2026

Jika Qatar 2022 menjadi panggung Lionel Messi mengejar trofi yang belum pernah ia miliki, maka Piala Dunia 2026 adalah kesempatan menyempurnakan warisan yang sudah ia bangun. 

Gelar dunia sudah diraih, Copa America sudah dimenangkan, Ballon d'Or sudah dikoleksi delapan kali. Yang dipertaruhkan kini bukan lagi statusnya sebagai pemain terbaik, melainkan bagaimana sejarah akan mengingat penutup karier internasionalnya.

Argentina pernah kalah dari Jerman di final Piala Dunia 2014, lalu gagal dalam 3 kali final Copa Amerika, sehingga sempat membuat Messi ingin pensiun dari timnas.

Motivasinya sederhana, yakni menjadi juara dunia, dan itu sudah terwujud.

Di Amerika Serikat, narasinya berubah. Messi tidak lagi mengejar sesuatu yang belum dimiliki, melainkan berusaha menyempurnakan warisan yang telah ia bangun

Secara prestasi, Messi sebenarnya tidak lagi memiliki kewajiban tampil di Piala Dunia 2026. Bahkan kondisi fisiknya sempat membuat kehadirannya diragukan.

Namun bagi Argentina, sosok sang kapten tetap menjadi pusat permainan sekaligus pemimpin di ruang ganti. Pengaruhnya tidak hanya terasa di lapangan, tetapi juga pada mental dan kepercayaan diri rekan-rekannya.

Di mata publik Argentina, Messi telah melampaui status sebagai pemain sepak bola. Setelah membawa negaranya kembali menjadi juara dunia pada 2022, ia kini dipandang sebagai penerus warisan Diego Maradona yang berhasil mengembalikan kejayaan Albiceleste.

Piala Dunia 2026 bukan lagi tentang membuktikan diri seorang Lionel Messi, tetapi mengukuhkan warisan yang mungkin tidak akan pernah terulang.

Pertaruhan itu akan berlangsung di Stadion New Jersey pada Senin (20/7/2026) dengan melawan Spanyol. Negara yang belum pernah mereka hadapi sejak tahun 1966 di turnamen Piala Dunia. Argentina menang 2-1 ketika itu.

Delapan tahun lalu, Argentina dipermalukan Spanyol 1-6 dalam laga uji coba di Madrid. Kini panggungnya jauh berbeda. 

Bukan lagi pertandingan persahabatan, melainkan final Piala Dunia. Bagi Argentina, ini kesempatan mempertahankan mahkota juara. 

Bagi Lionel Messi, ini mungkin menjadi 90 menit terakhir untuk menyempurnakan perjalanan yang telah dimulai sejak debutnya di Piala Dunia 2006. Jika trofi itu kembali terangkat, sulit membayangkan penutup karier internasional yang lebih sempurna daripada itu.

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.