Sejarah dan Rekomendasi Angkringan, Tempat Makan Sederhana yang Menjamur di Jogja
Joko Widiyarso July 16, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Jika berkunjung ke Yogyakarta, Anda mungkin akan menyadari satu hal yang cukup unik. Hampir di setiap sudut jalan, terutama saat sore hingga malam hari, selalu ada angkringan yang ramai didatangi pembeli.

Bahkan dalam satu ruas jalan, bukan hanya satu atau dua angkringan yang berjualan, melainkan bisa ada beberapa sekaligus.

Meski begitu, para pedagang tetap hidup berdampingan dan memiliki pelanggan masing-masing.

Angkringan merupakan warung makan sederhana yang identik dengan gerobak kayu. Menu yang dijual pun cukup beragam, mulai dari nasi kucing, aneka gorengan, sate-satean atau sundukan, hingga berbagai minuman hangat seperti teh, kopi, jahe, dan minuman tradisional lainnya.

Selain dikenal sebagai tempat makan yang sederhana, angkringan juga menjadi favorit banyak orang karena harganya yang ramah di kantong. 

Dengan uang mulai Rp2.000 hingga Rp5.000 saja, pengunjung sudah bisa menikmati berbagai pilihan makanan.

Di balik kesederhanaannya, ternyata angkringan memiliki sejarah yang cukup panjang dan menarik. Lalu, bagaimana awal mula angkringan hadir hingga akhirnya identik dengan Kota Yogyakarta?

Sejarah Angkringan

Dikutip dari Kompas.com, angkringan pertama kali bermula dari Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

Sosok yang dikenal sebagai pelopornya adalah Karso Djukut atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Djukut.

Pada era 1930-an, Mbah Djukut merantau ke Solo saat usianya masih sekitar 15 tahun setelah sang ayah meninggal dunia. Saat itu ia berjualan makanan dengan cara dipikul berkeliling kampung.

Awalnya dagangan yang dibawa hanya berupa aneka gorengan, singkong rebus, dan ubi rebus. 

Namun ketika pembeli mulai berkurang, Mbah Djukut kemudian berinovasi dengan menambahkan minuman seperti teh, kopi, dan jahe agar dagangannya semakin diminati.

Nama "angkringan" sendiri berasal dari kebiasaan para pembeli yang membeli sambil berdiri atau "nangkring". Hal ini karena saat itu angkringan masih menggunakan pikulan sehingga belum tersedia tempat duduk seperti sekarang.

Memasuki tahun 1950-an, usaha angkringan mulai berkembang seiring banyaknya perantau asal Bayat yang membuka usaha serupa di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta. 

Kehadiran banyak mahasiswa di Kota Pelajar membuat angkringan semakin dikenal karena menawarkan makanan yang murah, mengenyangkan, dan mudah dijangkau.

Sekitar tahun 1970-an, para pedagang mulai beralih menggunakan gerobak dorong. Selain lebih praktis, gerobak juga mampu membawa lebih banyak makanan dan minuman dibandingkan pikulan.

Sementara itu, berdasarkan wawancara Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten bersama Ketua Pokdarwis Desa Ngerangan, Suwarna, angkringan memiliki hubungan erat dengan tiga daerah, yakni Solo, Yogyakarta, dan Klaten.

Ia menyebut hubungan tersebut sebagai "segitiga emas". Solo menjadi kota tempat angkringan pertama kali lahir, Yogyakarta menjadi kota yang membesarkan popularitas angkringan, sedangkan pelaku sekaligus perintis usaha angkringan sebagian besar berasal dari Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

Sosok pencetus angkringan diketahui adalah Karso Dikromo atau Mbah Djukut yang berasal dari Dukuh Sawit, Desa Ngerangan. Dalam perjalanannya, ia juga dibantu rekannya, Wiryo Jiman, yang ikut mengembangkan berbagai racikan makanan dan minuman yang kemudian menjadi ciri khas angkringan hingga sekarang.

Rekomendasi Angkringan di Jogja

1. Angkringan Balap Paseban

Bagi Anda yang ingin menikmati suasana angkringan khas Jogja, Angkringan Balap Paseban bisa menjadi pilihan. Lokasinya berada di kawasan Lapangan Paseban, Kurahan, Kabupaten Bantul.

Angkringan ini mulai buka sekitar pukul 16.00 WIB hingga malam hari, sekitar pukul 22.00 sampai 00.00 WIB.

Harga makanan yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp1.000 hingga Rp5.000. Menu favorit di tempat ini antara lain nasi kucing, aneka gorengan hangat, serta berbagai sundukan sate yang selalu menjadi incaran pengunjung.

2. Angkringan Pak Tomi

Angkringan Pak Tomi berlokasi di Jalan Abu Bakar Ali Nomor 7, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Salah satu daya tarik tempat ini adalah lokasinya yang berada di tepi Sungai Code. Area duduknya menghadap langsung ke sungai dan jalur rel kereta api sehingga pengunjung dapat menikmati suasana malam sambil melihat kereta melintas dari arah Stasiun Tugu.

Pilihan menu yang tersedia cukup beragam, dengan kisaran harga mulai Rp3.000 hingga sekitar Rp15.000 per porsi maupun per tusuk.

3. Angkringan Timbang Tebu

Angkringan Timbang Tebu berada di Jalan Timbang Tebu, Bodeh, Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Tempat ini menawarkan suasana yang berbeda karena berada di tengah area persawahan. Jika cuaca cerah, pengunjung dapat menikmati pemandangan Gunung Merapi sekaligus melihat kereta api yang melintas tidak jauh dari lokasi.

Angkringan ini buka setiap hari mulai pukul 17.00 WIB. Menu yang tersedia meliputi nasi bungkus, aneka sate, jajanan pasar, hingga berbagai minuman tradisional dengan harga yang tetap ramah di kantong.

4. Angkringan Senja Gurau

Angkringan Senja Gurau terletak di kawasan Tamantirto, Kabupaten Bantul, tepatnya tidak jauh dari Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dari area kampus, lokasinya hanya sekitar dua menit berjalan kaki.

Sesuai namanya, angkringan ini menawarkan pemandangan sawah dengan suasana matahari terbenam yang menjadi daya tarik utama saat sore hari.

Tempat ini buka setiap hari mulai pukul 15.00 WIB, kecuali hari Kamis.

5. Waroeng Klangenan

Jika ingin merasakan pengalaman makan angkringan yang sedikit berbeda, Waroeng Klangenan bisa menjadi pilihan. Lokasinya berada di Jalan Patangpuluhan Nomor 28, Wirobrajan, Kota Yogyakarta.

Tempat ini mengusung konsep self service. Pengunjung dapat mengambil sendiri berbagai lauk yang tersedia, kemudian memasaknya langsung di tungku yang telah disediakan di setiap meja.

Menu yang tersedia cukup lengkap, mulai dari nasi kucing, aneka sate, gorengan, hingga berbagai minuman khas angkringan. Selain itu, tersedia pula menu bakmi dengan harga mulai sekitar Rp14.000, sedangkan sate dan gorengan dibanderol mulai Rp2.000. Secara keseluruhan, harga makanan di Waroeng Klangenan berkisar antara Rp2.000 hingga Rp18.000.

(MG ABIL PRAMUDYA)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.