TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pemandangan tidak biasa menghiasi kawasan Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat pada Kamis (16/7/2026).
Deretan ember plastik beraneka warna, jeriken, hingga tangki penampung air atau tedmon tampak berjejer rapi di sepanjang depan rumah-rumah warga setempat.
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan wadah-wadah penampung air tersebut sengaja diletakkan di selasar dan tepi jalan.
Benda-benda itu seolah menjadi saksi bisu dari kepasrahan warga yang sedang mengantre dan menanti datangnya bantuan air bersih.
Baca juga: Manajemen Krisis Pagi di Kuranji Padang: Saat Jatah Air Mandi Anak Sekolah Harus Dihemat Ekstrem
Kondisi gersang dan deretan wadah kosong ini bukan tanpa alasan. Warga di Kelurahan Kuranji ternyata sudah harus bergelut dengan krisis air bersih yang cukup parah sejak akhir tahun lalu pascabencana alam melanda daerah mereka.
Jika menilik hitungan kalender, artinya pemandangan antrean ember ini sudah menjadi pemandangan harian warga selama kurang lebih delapan bulan terakhir.
Sebuah durasi yang sangat panjang bagi masyarakat untuk bisa bertahan hidup tanpa pasokan air yang normal.
Baca juga: Berbulan-bulan Menanti Air di Kuranji: Potret Krisis Air Bersih Pascabencana di Padang Belum Tuntas
Di antara deretan wadah yang berjejer, beberapa ember tampak sudah terisi air secara penuh.
Namun, air tersebut bukan berasal dari aliran pipa atau sumur, melainkan air hujan yang turun mengguyur wilayah setempat pada hari kemarin.
Di sudut lain pemukiman, terlihat juga pemandangan memilukan saat seorang wanita lanska tengah sibuk beraktivitas di depan rumahnya.
Dengan sisa-sisa tenaganya, wanita tua tersebut tampak sedang telaten menyalin air dari satu wadah ke ember lainnya untuk kemudian dibawa masuk ke dalam rumah.
Baca juga: Kasus Viral Ayu Disekap di Myanmar Jadi yang Pertama di Sumbar, BP3MI Telusuri Dugaan Jalur Ilegal
Nadia, salah seorang warga terdampak yang ditemui di lokasi, membenarkan bahwa deretan ember di depan rumah warga menjadi pemandangan wajib sejak delapan bulan lalu.
Menurutnya, sumur-sumur gali milik warga sudah tidak bisa lagi diandalkan untuk memenuhi kebutuhan harian.
"Kondisi ember berjejer seperti ini sudah terjadi sejak akhir tahun lalu, kurang lebih sudah delapan bulan. Sumur kami benar-benar kering meronta karena jalur airnya sudah berubah," ungkap Nadia kepada TribunPadang.com, Kamis (16/7/2026).
Nadia menceritakan, keringnya sumur warga dipicu oleh berubahnya bentang alam di sekitar bentaran sungai.
Tepat di kawasan depan SDN 10 Lambung Bukit, terlihat jelas bahwa aliran sungai sudah tidak sama lagi seperti sebelum bencana terjadi.
Pergeseran jalur air alami itulah yang membuat pasokan air ke sumur warga terputus total.
Baca juga: Normalisasi Sungai Batang Anai Rampung, Jembatan Darurat Difungsikan Lagi di Padang Pariaman
Untuk bertahan hidup, warga kini hanya bisa menggantungkan harapan pada armada tangki bantuan yang sesekali melintas di depan rumah mereka.
Bantuan air bersih sebenarnya sempat datang dari berbagai pihak mulai dari armada Pemadam Kebakaran (Damkar), BPBD, hingga PMI Kota Padang.
Namun, kedatangan mobil-mobil tangki pembawa air bersih tersebut tidak bisa dipastikan rutin setiap harinya.
"Bantuan air dari Damkar atau BPBD itu ada, tapi tidak rutin datangnya. Mungkin karena petugas juga harus membagi wilayah dan mengisi ke tempat lain yang juga kekeringan, jadi kami di sini harus ekstra sabar mengantre," lanjut Nadia.
Baca juga: Daihatsu Xenia Naik ke Taman Depan UNP, Warga Dengar Dentuman Kecelakaan Tunggal di Padang
Di tengah hamparan ember kosong yang menjamur di depan rumah warga, mereka menegaskan bahwa kebutuhan pokok saat ini tidak bisa ditawar lagi.
Warga mengaku sama sekali tidak mengharapkan bantuan materiil berupa uang, melainkan pasokan air bersih yang berkelanjutan.
Pemandangan ember berjejer ini diharapkan bisa segera hilang dari teras rumah warga Kuranji.
Masyarakat sangat mendambakan adanya solusi jangka panjang agar struktur sumur mereka bisa kembali terisi air seperti sedia kala dan aktivitas domestik tidak lagi lumpuh.(*)