BATAM, TRIBUNBATAM.id - Laga final Piala Dunia 2026 diprediksi bakal menjadi pertarungan dua kekuatan besar sepak bola dunia.
Spanyol dan Argentina akan saling berhadapan dalam duel memperebutkan trofi paling bergengsi.
Selain itu juga menjadi simbol peralihan generasi antara legenda hidup Lionel Messi dan bintang muda Lamine Yamal.
Pengamat sepak bola Kepri, Buralimar, menilai partai puncak ini akan berlangsung sangat ketat karena kedua tim memiliki karakter permainan yang berbeda, namun sama-sama efektif.
"Ini final yang sulit diprediksi. Spanyol memang sedikit lebih diunggulkan dari sisi permainan dan konsistensi, tetapi Argentina punya mental juara yang tidak boleh diremehkan," ujar Buralimar, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, perjalanan Spanyol menuju final menunjukkan perkembangan permainan yang sangat signifikan.
Setelah sempat mendapat perlawanan sengit di fase grup, La Roja tampil semakin matang dengan gaya bermain yang lebih cepat, agresif, dan langsung mengancam pertahanan lawan.
Di bawah arahan Luis de la Fuente, Spanyol sukses melewati Arab Saudi, Uruguay, Austria, Portugal hingga Belgia sebelum menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0 di semifinal.
"Spanyol sekarang tidak hanya mengandalkan penguasaan bola. Mereka bermain lebih vertikal dan efektif. Rodri menjadi pengatur ritme permainan, sementara Lamine Yamal menjadi pembeda lewat kecepatan dan kreativitasnya di sisi sayap," ujarnya.
Sementara itu, Argentina datang ke final dengan modal sebagai juara bertahan.
Tim Tango menunjukkan karakter pantang menyerah sepanjang turnamen.
Semifinal melawan Inggris menjadi bukti kekuatan mental mereka setelah mampu membalikkan keadaan melalui dua assist brilian Lionel Messi yang berujung gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.
"Pengalaman dan ketenangan Argentina di pertandingan besar menjadi senjata utama. Selama Messi masih berada di lapangan, mereka selalu punya peluang menciptakan sesuatu yang tidak terduga," kata Buralimar.
Ia menilai laga final akan menjadi benturan dua filosofi sepak bola.
Spanyol diperkirakan akan menguasai jalannya pertandingan melalui dominasi bola dan tekanan tinggi.
Sebaliknya, Argentina kemungkinan memilih menunggu, bertahan dengan disiplin, lalu melancarkan serangan balik cepat melalui kombinasi Messi, Julian Alvarez, dan Lautaro Martinez.
Buralimar juga menyoroti duel yang paling dinantikan publik dunia, yakni pertemuan Lionel Messi dengan Lamine Yamal.
Pertandingan ini dinilai sarat makna, karena mempertemukan ikon sepak bola dunia dengan pemain muda yang digadang-gadang menjadi penerusnya.
"Messi bermain untuk memperkuat warisannya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Sementara Yamal ingin membuktikan bahwa generasi baru sudah siap mengambil alih panggung dunia. Ini bukan hanya duel dua pemain, tetapi juga simbol pergantian era sepak bola," ujarnya.
Secara statistik, superkomputer Opta menempatkan Spanyol sebagai favorit dengan peluang kemenangan sebesar 56,31 persen, sedangkan Argentina memiliki peluang 43,69 persen.
Meski demikian, Buralimar menegaskan bahwa statistik bukan jaminan dalam pertandingan final.
"Final selalu berbeda. Tekanan, pengalaman, dan mental bertanding sering kali lebih menentukan daripada statistik. Karena itu saya melihat peluang kedua tim tetap terbuka. Jika Spanyol mampu menjaga konsistensi permainan, mereka berpeluang menjadi juara. Namun jika Argentina mampu membawa pertandingan sesuai ritme mereka, pengalaman Messi dan mental juara bisa kembali menjadi pembeda," tuturnya. (TribunBatam.id/bereslumbantobing)