Laporan Kontributor Kuningan Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN – Dukungan untuk Tim Tango terus mengalir dari berbagai kalangan. Presiden Proton FC, Thony Indra Gunawan, mengaku menjagokan Argentina bukan tanpa alasan.
Diketahui Argentina bukan hanya sekadar tim yang dihuni pemain-pemain hebat. Lebih dari itu, Albiceleste memiliki identitas permainan yang kuat.
"Saya mendukung Argentina karena mereka bukan hanya punya pemain hebat, tetapi juga identitas yang kuat. Cara mereka bermain selalu mengutamakan kerja sama, mental juara, dan semangat pantang menyerah," ujar Thony.
Baca juga: Siap Hadapi Piala Presiden 2026, Adam Alis Ungkap Target Persib Bandung
Bagi Thony, tiga hal itu yang membuat Argentina selalu tampil berbeda di setiap turnamen besar. "Tim asuhan Lionel Scaloni dikenal solid, kompak, dan tidak mudah menyerah meski dalam kondisi tertinggal," ujarnya.
Melihat permainan Messi di sejumlah laga, bagi Thony tentu terdapat alasan emosional lain yang membuat Argentina bisa berjaya.
"Kami menyebut Piala Dunia ini bisa jadi panggung terakhir Lionel Messi di level internasional.
"Ditambah lagi, ini mungkin menjadi Piala Dunia terakhir Lionel Messi, jadi saya ingin melihat salah satu pemain terbaik sepanjang masa menutup karier internasionalnya dengan indah," katanya.
Pernyataan Thony ini mencerminkan banyak pecinta sepak bola di Indonesia. Nama Messi memang masih jadi magnet besar, dan harapan melihatnya mengangkat trofi Piala Dunia jadi cerita yang ingin dilihat banyak orang.
Sebagai presiden salah satu klub, Thony berharap nilai-nilai kerja sama dan mentalitas yang ditunjukkan Argentina juga bisa ditiru oleh tim-tim di dalam negeri, termasuk Proton FC.
"Kita bisa belajar banyak dari Argentina. Sepak bola itu bukan soal individu, tapi bagaimana satu tim punya hati yang sama untuk menang," katanya.
Melihat Argentina berhasil membalikkan keadaan dan menang 2-1 atas Inggris dalam laga yang berlangsung dramatis. Tertinggal 0-1 di babak pertama, Tim Tango bangkit di babak kedua dan mengamankan kemenangan.
"Sejak menit awal Argentina terlihat tidak panik meski kebobolan lebih dulu. Identitas permainan mereka tetap sama mengutamakan kerja sama, umpan-umpan pendek, dan terus menekan," katanya.
Pelatih Lionel Scaloni melakukan penyesuaian cerdas saat jeda. "Lini tengah Argentina mulai lebih agresif dalam merebut bola dan transisi dari bertahan ke menyerang jadi lebih cepat," kata Thony lagi.
Hasilnya langsung terlihat. Di awal babak kedua Argentina berhasil menjebol gawang Inggris.
Gol kedua di menit-menit akhir menjadi bukti efektivitas strategi menyerang habis-habisan saat Inggris mulai mengendur.
"Berbeda dengan Inggris yang terlihat terburu-buru mengejar gol, pemain Argentina justru tampil lebih tenang. Pengalaman para pemain senior, terutama di lini belakang dan tengah, membuat mereka mampu menjaga ritme dan tidak terpancing emosi," ungkapnya. (*)