TRIBUNNEWSMAKER.COM - Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada tradisi warisan leluhur yang terus dijaga dengan penuh penghormatan oleh masyarakat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Salah satunya adalah Tradisi Wiwitan, sebuah ritual sakral yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur menjelang musim panen padi.
Tradisi ini masih rutin dilaksanakan oleh warga Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, dan menjadi salah satu wujud nyata pelestarian budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.
Seperti dikutip dari akun Instagram @kahananpictures pada Rabu (15/7/2026), Tradisi Wiwitan tahun ini digelar pada Kamis Pahing, 9 Juli 2026.
Prosesi tersebut dipimpin oleh pasangan suami istri lanjut usia, Sukardi Mardi Wiyoto atau yang akrab disapa Mbah Mardi (86) dan Sutiyem (73).
Bagi masyarakat Desa Tumpukan, keduanya bukan sekadar pelaku tradisi.
Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Trump, Sebut Air Mata Jutaan Warga Iran di Pemakaman Ali Khamenei Palsu
Mbah Mardi dan Mbah Sutiyem dipandang sebagai penjaga nilai-nilai leluhur yang selama puluhan tahun terus merawat warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.
Tradisi Wiwitan sendiri merupakan ritual yang dilaksanakan menjelang panen padi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, prosesi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, yang dikenal sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran dalam budaya agraris.
Keunikan Tradisi Wiwitan tidak hanya terletak pada prosesi doa yang dilakukan di tengah hamparan sawah, tetapi juga pada nilai kebersamaan yang menyertainya.
Seluruh rangkaian ritual berlangsung sederhana, namun sarat makna dan penuh penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.
Dalam prosesi tersebut, Mbah Mardi bertugas memimpin doa dengan khusyuk menggunakan bahasa Jawa krama inggil.
Doa-doa yang dipanjatkan berisi harapan agar panen berjalan lancar, hasilnya melimpah, serta membawa keberkahan bagi seluruh warga Desa Tumpukan.
Baca juga: Mengejutkan! Intelijen Israel Beberkan Dugaan Rencana Iran untuk Membunuh Donald Trump: Diotaki IRGC
Sementara itu, Mbah Sutiyem memiliki peran penting dalam menyiapkan ubarampe atau perlengkapan sesaji.
Seluruh perlengkapan ritual disusun dengan teliti mengikuti tata cara yang telah diwariskan para leluhur selama bertahun-tahun.
Namun, salah satu bagian paling menarik dari Tradisi Wiwitan justru terjadi setelah doa selesai dipanjatkan.
Alih-alih dibawa pulang oleh keluarga penyelenggara, makanan sesaji yang telah didoakan justru dibagikan kepada masyarakat yang hadir.
Tetangga, anak-anak, hingga para pekerja tani yang berada di sekitar sawah ikut menikmati makanan tersebut sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, dan harapan agar berkah panen dapat dirasakan oleh semua orang.
Tradisi berbagi inilah yang menjadi keunikan tersendiri dari Wiwitan di Desa Tumpukan.
Ritual ini tidak hanya mempererat hubungan manusia dengan Tuhan dan alam, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga melalui semangat gotong royong dan saling berbagi.
Hingga kini, Tradisi Wiwitan masih terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Tumpukan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Kehadiran Mbah Mardi dan Mbah Sutiyem menjadi bukti bahwa nilai-nilai luhur warisan nenek moyang tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga tradisi penuh makna ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
(Tribunnewsmaker.com/Candra)