Kisah Lovanya: Selamat dari Kecelakaan Maut Hari Pertama Sekolah, tapi Kehilangan Seluruh Keluarga
Moch Krisna July 16, 2026 08:01 PM

 

TRIBUNSUMSEL.COM - Kecelakaan maut yang melibatkan sebuah truk kontainer pengangkut air mineral di kawasan Gronggong, jalan raya Cirebon-Kuningan pada Senin (13/7/2026), menyisakan duka yang mendalam.

Kecelakaan tragis ini menghancurkan satu keluarga yang sedang dalam perjalanan pulang setelah menjemput sang anak di hari pertama masuk sekolah.

Dari empat anggota keluarga yang berada di atas satu sepeda motor tersebut, tiga orang dinyatakan meninggal dunia, yakni pasangan suami istri, Enggar Amicithya Kautsar dan Neneng Intan Permatasari, serta putri kedua mereka yang masih bayi berusia tujuh bulan, Naraya Anashera Kautsar.

Satu-satunya korban selamat adalah sang anak sulung, Lovanya Evelyn Kautsar, yang harus merelakan kehilangan kedua orang tua, dan adik bayinya.

Pilunya lagi, ia harus kehilangan kaki kanannya yang terpaksa diamputasi akibat luka parah.

Baca juga: Debu Tebal Halangi Jarak Pandang Disebut Jadi Penyebab Kecelakaan Maut di Muratara, Sopir Truk Tewas

 

Kronologi Kejadian: Pulang Menjemput Sekolah

Tragedi ini bermula ketika Enggar bersama Intan dan bayi mereka, Naraya, baru saja menjemput Lovanya pulang sekolah di SDN Guntur, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Keluarga ini tengah dalam perjalanan pulang menuju kediaman mereka di Perumahan Taman Kota Beber, Kabupaten Cirebon.

Namun, saat memasuki jalan menanjak di kawasan Gronggong, sebuah truk kontainer bermuatan berat yang melaju dari arah Kuningan kehilangan kendali di jalan turunan.

Truk tersebut masuk ke jalur berlawanan, menyapu beberapa sepeda motor termasuk kendaraan yang dikemudikan Enggar, hingga menghantam warung semipermanen di pinggir jalan hingga hancur berantakan.

Deden, seorang saksi mata di lokasi kejadian, memberikan kesaksiannya mengenai detik-detik mencekam tersebut.

"Truk dari arah Kuningan mau ke Cirebon, pas turunan dia tidak belok, tapi lurus aja, akhirnya nabrak beberapa motor dan warung ini. Ada tiga (motor), Korbannya lima," kata Deden saat ditemui Kompas.com pada Senin (13/7/2026) siang.

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Maut Truk Batu Bara di Muratara, 1 Orang Tewas Terjepit, Melaju Beriringan

Kondisi Enggar yang mengemudi sepeda motor untuk membawa keluarganya pulang ke rumah, terpental.

Saat dievakuasi, sang ibu (Intan) dan bayi Naraya dilaporkan meninggal dunia seketika di lokasi kejadian akibat tergencet badan truk.

Sementara itu, Enggar dan Lovanya dilarikan ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Cirebon dalam kondisi luka kritis.

Begitu pun Lovanya yang juga luka parah di bagian kaki kanan dan tangan kanan.

Hanya berselang sekitar satu jam, Enggar, yang sudah dievakuasi ke rumah sakit, dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit.

 

Kaki Lovanya Diamputasi

Ika Komala, Ketua Tim Kerja Evaluasi Pelayanan dan Sarpras RSD Gunung Jati Cirebon, menjelaskan penanganan medis yang diberikan kepada para korban.

"Di kita, nah itu untuk ayahnya sudah mendapatkan perawatan selama 1 jam, tapi kemudian tidak bertahan, sehingga meninggal dunia pada saat masih di ruang rawat darurat," ujar Ika saat dikonfirmasi pada Rabu (15/7/2026) pagi.

Mengenai kondisi Lovanya yang kini dirawat intensif di ruang PICU, Ika menyebutkan bahwa tim medis terpaksa mengambil tindakan amputasi pada kaki kanan bocah tersebut.

Mengingat kondisinya yang sudah hancur hingga ke bagian lutut demi mencegah infeksi yang lebih parah.

Operasi amputasi dilakukan untuk mencegah infeksi dan potensi kondisi yang semakin memburuk.

 

Duka Mendalam Sekolah di Hari Pertama Kelas VI

Kejadian memilukan ini meninggalkan awan hitam di SDN Guntur.

Pasalnya, musibah tersebut terjadi tepat di hari pertama Lovanya masuk sekolah sebagai siswa kelas VI.

Muhamad Winarno, wali kelas VI SDN Guntur yang baru saja berkenalan dengan Lovanya beberapa jam sebelum kecelakaan, mengaku sangat terpukul atas musibah yang menimpa anak didiknya:

"Kaget, kami sangat kaget, pagi hari masih perkenalan di kelas VI. Kebetulan hari ini hari pertama Lovanya dan teman-teman belajar di kelas VI, tiba-tiba sore hari kami dengar Lovanya kecelakaan parah," ungkap Winarno dengan nada sedih saat ditemui di sekolah pada Rabu (15/7/2026) pagi.

Winarno menegaskan pihak sekolah tidak akan membiarkan Lovanya berjuang sendirian.
Pihaknya berkomitmen penuh untuk mengawal kesembuhan serta kelanjutan pendidikan Lovanya dengan menyiapkan skema pembelajaran khusus:

"Kami benar-benar bersedih, dan akan terus mendukung proses penyembuhan Lovanya. Kami akan siapkan skema khusus dengan berkoordinasi ke Dinas Pendidikan. Ini bukan kecelakaan biasa, tapi peristiwa tragis bagi Lovanya," pungkas Winarno.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.