Warga Garempay Tasikmalaya Bangun Penampungan Air Bersih secara Swadaya
ferri amiril July 16, 2026 10:08 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin 


TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Selama 15 tahun, warga di lingkungan RW 09, Kelurahan Singkup, Purbaratu, Kota Tasikmalaya terbantu dengan keberadaan penampung air bersih untuk kebutuhan setiap harinya.

Bahkan di musim kemarau saat ini, tidak hanya warga di empat RT Kampung Garempay yang mengambil air, tapi kampung lain di Kelurahan Singkup berbondong-bondong memanfaatkan air yang bersumber dari wilayah Cibeureum.

Proses pembangunan penampungan air bersih ini juga tidak mudah. Hal itu dikarenakan butuh kerja sama dan dukungan finansial untuk bertahan sampai sekarang.

Anggaran pembangunan penampungan ini pun berasal dari hasil patungan warga Garempay secara sukarela.

Baca juga: Krisis Air di Tasikmalaya Memaksa Warga Mengantre hingga Malam Hari

Hasilnya, setiap musim kemarau penampungan air selalu ramai didatangi warga untuk mengambil air sebagai kebutuhan mencuci, mandi, dan minum.

Setiap bulannya warga dimintai pembayaran dengan satu kubiknya Rp10.000,00 dari wilayah RW 09.

Namun, hasil pembayaran ini tidak lantas dibagikan ke pengurus, melainkan dikumpulkan di pengurus DKM sebagai pengelola penampung air bersih.

Total ada 150 Kepala Keluarga yang sudah terpasang meteran dari RT 2, 3, 4, dan 5 di lingkungan RW 09.

"Untuk penampungan air bersih ini sudah berdiri sejak tahun 2011, dan kami pusatkan di Kampung Garempay RT 05/09 Kelurahan Singkup, Purbaratu. Lalu, ini hasil dari swadaya warga sekitar," ungkap salah satu pengurus, Edi Supriyadi ditemui TribunPriangan.com, Kamis (16/7/2026).

Edi mengaku, keberadaan penampungan air ini tidak hanya dimanfaatkan warga sekitar tapi kampung lain di lingkungan Kelurahan Singkup mengambil air di sini.

"Jadi untuk warga yang punya meteran itu ada di empat RT, untuk pembayaran dihitung per kubik Rp10.000,00 dengan dikumpulkan ke pengurus DKM Al Ikhwan sebagai pengelola," jelas Edi.

Selain itu, dana yang terkumpul setiap bulannya kerap digunakan untuk kegiatan warga dan membantu pondok pesantren di sekitar.

"Dipakai keperluan syiar keagamaan, pengajian dibiayai di sini, kadang ke pesantren yang perlu kitab dan Al-Qur'an kita berikan dan kita tidak digaji, semua swadaya dari warga sekitar," pungkasnya.

Di musim kemarau menurutnya di wilayah Singkup dan sekitar memang sangat susah air. Atas dasar inilah penampungan air membantu kebutuhan air bersih.

"Di sini paling susah air dari dulu, makanya kita bangunkan penampungan air ini. Apalagi musim kemarau begini, dari kampung sebelah seperti Cintamanah, Babakan Nangerang, Singkup, juga mengambil air ke sini," ungkap Edi.

Ia menuturkan, selama musim kemarau sumber air tetap mengalir dengan dibantu 11 mesin untuk mendorong ke penampungan.

"Untuk panjang pipa dari sumber mata air ke pemukiman 1 km, dan setiap harinya kita pantau khawatir ada kebocoran pipa," tuturnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.