Tren Film Bertema Keluarga Kian Menguat, FFB ke-39 Usung “Sinema Rona Keluarga”
Kemal Setia Permana July 16, 2026 10:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kisah tentang keluarga ternyata menjadi benang merah yang paling kuat dalam perfilman Indonesia selama setahun terakhir. 

Hubungan antara ayah, ibu, dan anak, hingga cerita tentang kehilangan, harapan, dan kehangatan keluarga muncul dalam berbagai genre, mulai dari drama, horor, komedi, hingga laga. 

Fenomena itu kemudian diangkat menjadi tema Festival Film Bandung (FFB) ke-39, yakni “Sinema Rona Keluarga”, yang diumumkan bersamaan dengan pengumuman nominasi FFB 2026.

Ketua Regu Pengamat Film Indonesia, Rosyid E. Abby, mengatakan tema tersebut lahir dari hasil pengamatan terhadap film-film yang tayang selama periode 1 September 2025 hingga 30 Juni 2026. 

“Sepanjang pengamatan dari September 2025 sampai 30 Juni 2026, kami menemukan satu benang merah yang sangat kuat, yaitu soal keluarga. Tema itu tergambar dalam film-film bergenre horor, drama, laga, bahkan komedi,” ujar Rosyid saat pengumuman nominasi Festival Film Bandung ke-39 di Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Kamis (16/7/2026).

Baca juga: Pencetak Gol Penentu Persib Hattrick Juara Dipastikan Bertahan Musim Depan, Bobotoh Kini Lega

Menurutnya, keluarga menjadi ruang yang menghadirkan berbagai emosi dan persoalan manusia. 

Kisah tentang ibu, ayah, anak, kehilangan, hingga harapan muncul begitu dominan dalam film-film Indonesia selama periode penilaian.

“Di drama sangat kuat, misalnya Bila Esok Ibu Tiada. Kemudian banyak sekali film yang berbicara tentang keluarga, tentang ayah, ibu, anak, kehilangan harapan, dan kehangatan keluarga. Itu sangat kental dalam film-film Indonesia sepanjang periode pengamatan ini,” katanya.

Rosyid menjelaskan, kata “rona” pada tema tahun ini memiliki makna warna. Menurutnya, sinema memberikan warna bagi kehidupan keluarga, begitu pula keluarga menjadi sumber warna bagi lahirnya berbagai karya perfilman Indonesia.

“Rona itu artinya warna, jadi sinema mewarnai keluarga kita, dan keluarga juga mewarnai sinema kita. Sinema hadir di dalam ruang keluarga, sementara keluarga dihadirkan dalam berbagai cerita film Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, meski periode penilaian tahun ini lebih singkat dibanding penyelenggaraan sebelumnya karena hanya berlangsung selama sepuluh bulan, jumlah karya yang diamati tetap tinggi.

Regu Pengamat Festival Film Bandung mencatat sebanyak 344 karya sepanjang periode penilaian, terdiri atas 144 film Indonesia, 151 film impor, 26 serial televisi, serta 23 serial web.

Rosyid mengatakan, pemendekan masa pengamatan sekitar dua bulan tidak terlalu memengaruhi proses penilaian karena tren perfilman nasional masih dapat dipetakan dengan jelas.

“Sebetulnya tantangannya sama saja. Memang ada dua bulan yang tidak teramati, tetapi kami masih bisa membaca arah perkembangan film Indonesia. Secara kuantitas jumlah film hampir sama dengan tahun lalu, dan yang masih mendominasi adalah film-film horor,” ujarnya.

Baca juga: Pengangguran dan PHK Tinggi, Pemkot Bandung Fokus Perbaiki Iklim Usaha

Meski genre horor masih menjadi yang paling banyak diproduksi, Rosyid menegaskan nilai-nilai keluarga tetap hadir di dalamnya.

Ia berharap tema yang diangkat tahun ini mampu mengajak masyarakat melihat kembali pentingnya keluarga melalui medium film.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, mengapresiasi konsistensi Forum Film Bandung yang telah menyelenggarakan Festival Film Bandung selama hampir empat dekade.

“Perjalanan yang hampir empat dekade ini menjadi bukti bahwa Bandung memiliki komitmen kuat dalam merawat ekosistem seni budaya dan perfilman nasional,” ujar Adi.

Adi menilai film bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan perjalanan sebuah bangsa. Melalui film, masyarakat dapat belajar mengenai nilai kemanusiaan, keberagaman, toleransi, sejarah, hingga harapan masa depan.

“Film merupakan cermin peradaban. Film menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai latar belakang sekaligus menggerakkan perubahan sosial. Pengumuman nominasi hari ini merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi dan kreativitas para insan film yang terus menghasilkan karya berkualitas di tengah dinamika industri,” katanya.

Ia juga meyakini setiap karya yang masuk nominasi membawa gagasan dan pesan penting yang akan menjadi bagian dari jejak sejarah perfilman Indonesia.

“Saya meyakini setiap film yang dinominasikan membawa pesan dan gagasan yang berharga. Setiap karya menjadi jejak peradaban yang akan dicatat oleh sejarah. Momentum ini harus menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas profesionalisme dan daya saing perfilman Indonesia,” ucapnya.

Menurut Adi, Bandung memiliki sejarah panjang sebagai kota kreatif yang melahirkan banyak talenta di bidang pendidikan, desain, musik, hingga perfilman. Potensi tersebut, katanya, perlu terus dijaga melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, akademisi, industri, dan media.

Ia menegaskan Pemerintah Kota Bandung berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dengan memberikan ruang bagi para pelaku seni dan budaya untuk terus berkarya.

Selain menjadi ajang penghargaan, Adi berharap Festival Film Bandung dapat menjadi ruang edukasi dan inspirasi bagi generasi muda.

“Saya berharap Festival Film Bandung tidak hanya menjadi ajang pemberian penghargaan, tetapi juga menjadi ruang diskusi, edukasi, dan inspirasi bagi generasi muda untuk berani berkarya, berani bercerita, dan berani mengangkat kekayaan budaya Indonesia melalui media film,” ujarnya.

Kepada seluruh nominator, Adi mengucapkan selamat atas pencapaian yang diraih dan berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus menghadirkan karya terbaik bagi perfilman nasional.

Forum Film Bandung sendiri didirikan pada 1986 oleh para seniman, budayawan, wartawan, dan akademisi, serta secara konsisten menyelenggarakan Festival Film Bandung sejak 1987. 

Berbeda dengan festival film lainnya, FFB menggunakan sebutan “Terpuji” sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karya yang dinilai memiliki kualitas artistik, teknis, dan nilai kemanusiaan yang layak menjadi rekomendasi bagi masyarakat.

Puncak malam penghargaan Festival Film Bandung ke-39 dijadwalkan berlangsung pada 22 Agustus 2026, sebagai penutup rangkaian apresiasi terhadap insan perfilman Indonesia yang dinilai berhasil menghadirkan karya-karya berkualitas sekaligus merekam denyut kehidupan keluarga dalam berbagai wajah dan warna cerita. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.