TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rencana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung kembali menuai perhatian.
Wakil Ketua DPRD Majalengka, Asep Eka Mulyana, meminta Gubernur Jawa Barat Jawa Barat Dedi Mulyadi, menunda kebijakan tersebut dan lebih memprioritaskan pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang telah dibangun dengan anggaran mencapai triliunan.
Menurut Asep, BIJB bukan hanya milik masyarakat Majalengka, melainkan aset strategis milik seluruh warga Jawa Barat yang harus dimaksimalkan sebelum pemerintah kembali menghidupkan Bandara Husein sebagai bandara penumpang.
"BIJB itu milik masyarakat Jawa Barat. Sudah seharusnya ini menjadi pertimbangan bagi Pak Gubernur sebelum melakukan reaktivasi Bandara Husein."
"Kami berharap ada upaya yang lebih sungguh-sungguh untuk memprioritaskan Bandara Kertajati agar benar-benar berfungsi optimal," kata Asep, Kamis (16/7/2026).
Ia menilai, jika Bandara Husein kembali melayani penerbangan komersial secara penuh, peluang BIJB Kertajati berkembang sebagai pusat penerbangan penumpang akan semakin kecil.
Baca juga: Soroti Usulan Reaktivasi SPP, Dedi Mulyadi Tegaskan SMA/SMK Negeri Harus Tetap Gratis
"Kalau Bandara Husein diaktifkan lagi sebagai bandara penumpang, otomatis peluang pengembangan Kertajati akan semakin sempit. Padahal sejak awal BIJB memang dirancang menjadi bandara utama di Jawa Barat," ujarnya.
Asep mengingatkan, pembangunan BIJB tidak lepas dari pengorbanan masyarakat Majalengka.
Ribuan hektare lahan pertanian dibebaskan dan banyak warga harus meninggalkan tempat tinggalnya demi pembangunan bandara yang kini memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter dan terminal berkapasitas jutaan penumpang per tahun.
"Harapan masyarakat yang sudah berkorban tentu pemerintah pusat dan pemerintah provinsi benar-benar memaksimalkan potensi Bandara Kertajati," katanya.
Selain itu, ia menilai Kertajati memiliki keunggulan dari aspek keselamatan penerbangan karena berada di kawasan yang relatif jauh dari permukiman padat, berbeda dengan Bandara Husein yang berada di tengah Kota Bandung.
"Dari sisi keselamatan penerbangan, Kertajati jauh lebih aman karena berada di kawasan yang tidak padat penduduk," ucapnya.
Meski demikian, Asep mendukung langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda).
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mengembangkan kawasan Kertajati sebagai pusat industri kedirgantaraan, termasuk pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) pesawat.
Menurutnya, pengembangan industri penerbangan merupakan langkah awal yang positif agar aset BIJB mulai memberikan manfaat ekonomi sebelum berkembang menjadi bandara dengan rute penerbangan komersial yang lebih luas.
"Kami mengapresiasi langkah Pak Gubernur melakukan MoU dengan PT Dirgantara Indonesia. Paling tidak itu menjadi awal agar Bandara Kertajati yang sudah menghabiskan anggaran puluhan triliun bisa berfungsi sebagai pusat industri penerbangan nasional. Mudah-mudahan ke depan berkembang menjadi bandara komersial dengan lebih banyak rute," katanya.
Terkait wacana kerja sama yang berpotensi menyentuh sektor pertahanan, Asep menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah pusat. Menurutnya, apabila menyangkut aspek keamanan nasional, keputusan harus melalui kajian mendalam oleh pemerintah dan DPR RI.
Di akhir pernyataannya, Asep mengajak seluruh tokoh Jawa Barat, khususnya dari wilayah Majalengka dan sekitarnya, untuk bersama-sama memperjuangkan optimalisasi BIJB Kertajati.
"Kami mengimbau seluruh tokoh Jawa Barat ikut memperjuangkan agar Bandara Kertajati bisa berfungsi maksimal. Sekali lagi, BIJB adalah bandara milik masyarakat Jawa Barat," tegasnya.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyaksikan penandatanganan MoU antara PT Dirgantara Indonesia dan PT BIJB (Perseroda) di Jakarta.
Kerja sama itu diharapkan menjadi pintu masuk pengembangan kawasan Kertajati Aerocity sebagai pusat industri aviasi nasional sekaligus memperkuat masa depan BIJB sebagai simpul transportasi udara dan kawasan ekonomi baru di Jawa Barat.(*)