Regenerasi Kulit Mulai Melambat di Usia 25 Tahun, Dokter Sarankan Anti-Aging Dimulai Lebih Dini
Willem Jonata July 16, 2026 11:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perawatan anti-aging kini tidak lagi hanya identik dengan mengatasi kerutan yang muncul pada usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan perawatan kulit bergeser ke arah pencegahan (preventive skincare), yakni menjaga kesehatan kulit sebelum tanda-tanda penuaan tampak jelas.

Memasuki usia pertengahan 20-an, kemampuan kulit untuk beregenerasi secara alami mulai melambat. Pada fase ini, produksi kolagen dan elastin—dua protein yang berperan menjaga kekencangan serta elastisitas kulit—mulai menurun sehingga kulit lebih rentan mengalami garis halus, tampak kusam, kehilangan kelembapan, hingga berkurangnya elastisitas.

Selain faktor usia, paparan sinar ultraviolet (UV), polusi udara, stres, kurang tidur, kebiasaan merokok, dan pola makan yang kurang sehat juga dapat mempercepat photoaging atau penuaan dini akibat faktor lingkungan.

Baca juga: 7 Tips Ampuh Menjaga Kesehatan Kulit Saat Cuaca Panas Ekstrem Melanda Indonesia

Karena itu, para ahli menilai perawatan kulit tidak cukup hanya mengandalkan produk kosmetik, tetapi juga harus dibarengi kebiasaan hidup sehat dan perlindungan dari paparan sinar matahari.

Pendekatan tersebut sejalan dengan rekomendasi American Academy of Dermatology (AAD). 

Dokter spesialis kulit Rajani Katta menyatakan bahwa kebiasaan merawat kulit sejak usia 20-an akan sangat memengaruhi kondisi kulit pada dekade berikutnya.

Rajani menekankan bahwa keputusan seseorang dalam merawat kulit saat ini akan menentukan kondisi kulitnya pada masa mendatang.

Sementara itu, dokter spesialis kulit Rebecca Baxt mengingatkan bahwa melindungi kulit dari paparan sinar matahari setiap hari merupakan salah satu langkah paling efektif untuk menjaga kulit tetap sehat dan memperlambat penuaan dini.

American Academy of Dermatology juga menjelaskan bahwa proses pergantian sel kulit mulai melambat sejak usia 20-an.

Karena itu, bahan aktif seperti retinol dinilai dapat membantu mempercepat proses regenerasi sel kulit sehingga kulit tampak lebih sehat dan segar.

Selain retinol, perkembangan riset dermatologi juga melahirkan berbagai bahan aktif lain yang ditujukan untuk mendukung regenerasi kulit.

Salah satunya adalah Polydeoxyribonucleotide (PDRN), senyawa berbasis fragmen DNA yang telah lama digunakan dalam berbagai prosedur perawatan kulit di Korea Selatan dan kini mulai diadaptasi ke dalam produk skincare harian.

Tren tersebut mendorong sejumlah produsen kosmetik mengembangkan formulasi berbasis PDRN, termasuk melalui pemanfaatan Ginseng PDRN yang menggunakan ekstrak ginseng sebagai sumber Sodium DNA.

Product & Innovation Manager Amura, Catherine, mengatakan pendekatan tersebut menjadi alternatif dari PDRN yang selama ini lebih banyak dikenal berasal dari sumber hewani.

Menurutnya, formulasi itu dipadukan dengan berbagai bahan aktif lain, seperti Pureblome, Exosome Centella, Hyaluronan Complex, Soybean Extract, Mangosteen Extract, Glycerin, dan 5x Ceramides, untuk membantu menjaga kelembapan kulit sekaligus memperkuat lapisan pelindung kulit (skin barrier).

"Tren skincare kini tidak lagi hanya berfokus pada memperbaiki tampilan kulit, tetapi juga mendukung regenerasi kulit agar tetap sehat dalam jangka panjang," ujarnya.

Perkembangan tersebut mencerminkan meningkatnya tren science-based skincare, di mana konsumen semakin memperhatikan kandungan bahan aktif dan bukti ilmiah yang mendukung efektivitas suatu produk.

Dokter spesialis kulit asal Amerika Serikat, Dennis Gross, juga menilai salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah baru memulai perawatan anti-aging ketika kerutan telah terlihat jelas.

Menurutnya, pendekatan pencegahan sejak usia 20-an lebih efektif dibanding menunggu tanda-tanda penuaan muncul.(Eko Sutriyanto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.