Pakar ISAD Aceh Ungkap Ancaman Besar di Balik Pudarnya Rasa Malu Masyarakat
Nur Nihayati July 17, 2026 08:03 AM

Pakar ISAD Aceh Ungkap Ancaman Besar di Balik Pudarnya Rasa Malu Masyarakat

SERAMBINEWS.COM - Pudarnya rasa malu menjadi salah satu penyebab utama merosotnya akhlak di tengah masyarakat.

Ketika rasa malu kepada Allah SWT dan sesama manusia mulai hilang, berbagai bentuk kemaksiatan, korupsi, kebohongan, hingga penyimpangan moral semakin mudah dilakukan tanpa rasa bersalah.

Karena itu, umat Islam diingatkan untuk menghidupkan kembali sifat malu sebagai bagian dari keimanan dan benteng menjaga kehormatan diri.

Pakar Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Alumni Dayah (DPP ISAD) Aceh, Tgk H Akmal Abzal SHI MH, mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali sifat malu sebagai benteng akhlak, iman, dan peradaban di tengah berbagai tantangan moral yang dihadapi masyarakat saat ini.

Menurutnya, rasa malu merupakan salah satu akhlak paling mulia yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia.

Sifat tersebut tidak hanya menjaga kehormatan pribadi, tetapi juga menjadi penghalang seseorang untuk melakukan dosa dan kemaksiatan.

"Islam menempatkan rasa malu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda, 'Malu adalah salah satu cabang dari iman'," ujar Tgk Akmal Abzal, mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Kamis (16/7/2026).

Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya di antara perkataan para nabi terdahulu yang masih dikenal manusia adalah: apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu." (HR. Bukhari).

Menurutnya, hadis tersebut bukanlah perintah untuk berbuat bebas, melainkan peringatan bahwa ketika rasa malu hilang, seseorang akan kehilangan kendali moral sehingga tidak lagi merasa bersalah melakukan berbagai kemungkaran.

Pimpinan LPI Al Anshar Kayee Lee Aceh Besar ini menjelaskan, para ulama memaknai malu (al-haya') bukan sebagai sikap rendah diri, melainkan kemampuan moral untuk menahan diri dari segala sesuatu yang dibenci Allah SWT. 

Imam Al-Ghazali bahkan menyebut rasa malu sebagai buah dari hidupnya hati. Selama hati masih hidup, rasa malu akan tetap menjadi penjaga akhlak.

Sebaliknya, ketika hati mulai mati, kemaksiatan akan dianggap sesuatu yang biasa.

Dalam Islam, kata Tgk Akmal, rasa malu memiliki dua dimensi. Pertama, malu kepada Allah SWT, yakni kesadaran bahwa setiap ucapan, perbuatan, bahkan isi hati senantiasa berada dalam pengawasan-Nya.

Kesadaran itu membuat seseorang menjauhi maksiat meski tidak ada seorang pun yang melihat.

Dimensi kedua adalah malu kepada sesama manusia, yaitu menjaga kehormatan diri agar tidak melakukan perbuatan yang merendahkan martabat pribadi, keluarga, maupun masyarakat.

Dari rasa malu inilah lahir sikap jujur, sopan, bertanggung jawab, dan menghormati hak orang lain.

Tgk Akmal menilai, fenomena sosial saat ini menunjukkan rasa malu semakin memudar.

Korupsi, manipulasi data, perjudian, perzinaan, hingga penyebaran fitnah di media sosial kerap dilakukan tanpa rasa bersalah.

Bahkan, sebagian pelaku justru merasa bangga mempertontonkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Ia menyebut sedikitnya ada lima faktor yang menyebabkan hilangnya rasa malu, yakni lemahnya iman, dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadap dunia, lingkungan yang permisif terhadap kemaksiatan, budaya digital yang mengikis batas moral, serta lemahnya pendidikan akhlak.

“Ingat, rasa malu tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia harus dipelihara melalui pendidikan dan latihan jiwa. Seperti memperkuat iman dengan memperbanyak ibadah, zikir, membaca Al-Qur'an, dan menghadirkan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi,” tegasnya.

Tgk Akmal juga menekankan pentingnya keteladanan dari orang tua dan para pemimpin. Menurutnya, anak-anak lebih banyak belajar dari perilaku dibandingkan sekadar nasihat.

"Malu bukanlah kelemahan, melainkan kemuliaan. Ia adalah pagar yang menjaga iman, kehormatan, dan peradaban. Ketika rasa malu hidup dalam diri pemimpin dan rakyat, kejujuran akan tumbuh, amanah terjaga, dan keadilan akan menemukan jalannya," pungkasnya. (ar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.