Kisah Inspiratif Zhafira: Siswi SLB yang Berhasil Tembus FSRD ITB, Keterbatasan Tak Jadi Halangan
Seli Andina Miranti July 17, 2026 09:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tak ada suara yang pernah Zhafira Lutfiadinda dengar sejak lahir. Namun, keterbatasan itu tak pernah menghalangi perempuan yang akrab disapa Dinda tersebut untuk mendengar panggilan mimpinya. 

Berbekal prestasi dan karya seni, siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Santi Rama itu berhasil lolos ke Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.

Perjalanan Dinda menuju kampus impiannya memiliki makna yang jauh lebih besar. Sejak lahir, Dinda merupakan penyandang disabilitas tuli.

Berdasarkan data Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026, sebanyak 806.242 siswa mengikuti SNBP. 

Baca juga: ITB Jemput Calon Mahasiswa dari Pelosok Daerah Pastikan Anak Tak Mampu yang Lolos SNBP Bisa Kuliah

Dari jumlah tersebut, hanya tersedia 189.017 kursi di 146 perguruan tinggi negeri. Di tengah persaingan yang begitu ketat, Dinda berhasil mengamankan satu kursi di FSRD ITB yang memiliki tingkat keketatan sekitar enam hingga tujuh persen.

Bagi Dinda, diterima di ITB bukan hanya soal berhasil masuk perguruan tinggi negeri. Ada mimpi yang telah ia simpan sejak lama.

“Akhirnya, saya menjadi mahasiswa ITB seperti Abi dan Abang saya,” ungkap Dinda melalui bahasa isyarat yang dikutip dari akun Youtube Direktorat PKPLK, Kamis (16/7/2026).

Ia mengaku memang sejak awal ingin melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi sebelum memasuki dunia kerja.

“Saya ingin memiliki gelar S1 dulu sebelum bekerja, karena kalau bekerja itu minimal persyaratannya harus S1. Selain itu, saya ingin melanjutkan untuk S2 lagi,” ujarnya.

Perjalanan Panjang

Di balik keberhasilan tersebut tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi latihan, ketekunan, dan deretan prestasi.

Sejak duduk di bangku sekolah, Dinda aktif mengikuti berbagai perlombaan seni. Bakatnya terus diasah melalui latihan, termasuk mengikuti kursus seni di GridScovila. Portofolio karya yang ia bangun selama bertahun-tahun kemudian menjadi bekal utama saat mendaftar melalui jalur prestasi.

“Saya mengikuti banyak lomba-lomba di bidang seni, saya juga mengikuti les di GridScovila. Ini hasil karya saya untuk syarat SNBP,” katanya sambil menunjukkan karya yang menjadi bagian dari portofolionya.

Kecintaannya terhadap seni bukan tanpa tujuan. Dinda telah memiliki cita-cita yang jelas setelah lulus kuliah.

“Saya ingin bekerja di bidang animasi, ingin bekerja dalam tim membuat film animasi di Indonesia,” tuturnya.

Di balik senyum Dinda hari ini, ada perjuangan panjang yang dilalui keluarganya sejak ia masih kecil.

Baca juga: Lekat dengan Masa Kecil, Dosen Fisika ITB Pilih Beternak dan Olah Sampah Organik

Ibunda Dinda, Melsi Sinara, mengingat saat pertama kali mengetahui putrinya merupakan penyandang tunarungu. 

Awalnya keluarga mengira Dinda hanya mengalami keterlambatan bicara. Namun setelah menjalani pemeriksaan tumbuh kembang dan tes pendengaran, kenyataan itu akhirnya diketahui.

“Tadinya saya pikir hanya terlambat bicara. Kami periksa ke dokter tumbuh kembang, lalu diminta periksa pendengaran. Baru saat itu ketahuan bahwa Dinda ada disabilitas tunarungu,” kenangnya.

Meski sempat diliputi kebingungan, keluarga memilih untuk tidak membatasi mimpi Dinda. Justru ketika melihat ayah dan kakaknya menempuh pendidikan tinggi, Dinda menyampaikan keinginannya untuk kuliah.

“Dia bilang, ‘Kalau umi kuliah? Kalau abi kuliah?’ Saya jawab, iya kuliah. Dia bilang, ‘Kalau begitu saya pengen kuliah.’ Saya sempat berpikir, apakah anak SLB bisa? Tapi kemudian saya bilang, kalau kakak mau kuliah, kita berjuang. Kakak harus punya prestasi nasional, harus aktif organisasi,” ujar Melsi.

Perjuangan itu kemudian mendapat dukungan penuh dari sekolah. Wali kelas Dinda di SLB Santi Rama, Restu Ningrum, mengatakan bakat seni Dinda sudah terlihat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. 

Sekolah kemudian terus mengembangkan potensinya melalui berbagai pembinaan hingga menghasilkan sederet prestasi tingkat nasional.

“Dinda anak yang baik, sangat baik dalam pembelajaran di kelas, dan juga memiliki bakat yang luar biasa, khususnya di bidang seni,” katanya.

Sudah Berprestasi sejak SD

Menurut Restu, sejak SD Dinda telah meraih Juara II Lomba Melukis Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat nasional. 

Prestasinya terus berkembang saat SMP dengan meraih Juara I Desain Grafis FLS2N tingkat nasional dan Juara II Desain Grafis Ajang Kreasi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (AKPDBK) tingkat nasional.

Saat SMA, Dinda kembali menorehkan prestasi sebagai Juara I Lomba Cipta Komik Strip FLS2N tingkat nasional. Tahun lalu, ia juga meraih Juara II Lomba Melukis FLS3N tingkat nasional.

“Bakat yang dimiliki Dinda terus kami kembangkan. Setiap ada capaian baru, kami dorong lagi supaya potensinya semakin berkembang,” ujar Restu.

Keberhasilan Dinda juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi SLB Santi Rama.

Kepala SLB Santi Rama, Ekoyono Wahyu Sugiasto, mengaku sempat terkejut karena kurikulum di jenjang SMALB pada dasarnya lebih diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik hidup mandiri, bukan melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Dengan pembinaan, bimbingan yang khusus, dan pembinaan mental yang baik, insyaallah anak-anak disabilitas juga mampu mencapai perguruan tinggi,” ujar Ekoyono.

Menurutnya, keberhasilan Dinda membuktikan bahwa kesempatan pendidikan tinggi terbuka bagi siapa saja selama memiliki tekad dan prestasi.

Ia pun mengajak seluruh penyandang disabilitas di Indonesia agar tidak menyerah pada keadaan.

Baca juga: Akulturasa ITB Hadirkan Inovasi Pangan, Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan UMKM

“Kepada anak-anakku penyandang disabilitas di seluruh Indonesia, jangan kecil hati. Saya yakin dengan tekad yang kuat dan kemauan yang kuat, insyaallah kalian juga bisa menempuh perguruan tinggi melalui jalur-jalur prestasi seperti Ananda Dinda,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.