CdM Tim Indonesia Asian Games Aichi-Nagoya 2026 Todotua Sambangi Pelatihan Cabor di Bali
Putu Kartika Viktriani July 17, 2026 01:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kesiapan panitia Asian Games 2026 Aichi-Nagoya dari sisi akomodasi athlete village yang dirasa menjadi tantangan tidak menyurutkan mental bertarung skuad Merah Putih. 

Alih-alih mendapatkan fasilitas penginapan terpusat yang mewah, lebih dari 400 atlet Indonesia dari 32 cabang olahraga justru harus bersiap menghadapi situasi tidak biasa, terpecah di kamar kontainer, hotel, hingga kapal pesiar.

Tantangan di sektor akomodasi ini ditemukan langsung oleh Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia Aichi Nagoya 2026, Todotua Pasaribu, saat meninjau langsung kesiapan athlete village di Jepang. 

Kendati fasilitas tuan rumah terpecah ke dalam 25 hotel, model kontainer (containerized), hingga kapal pesiar (cruise), Todotua menegaskan Indonesia tidak akan mencari-cari alasan.

"Apapun situasinya, kita harus mengikuti dengan kesiapan daripada panitia dan tuan rumah setempat. Whatever the story, yang namanya game pertandingan itu adalah tantangan yang harus kita ikuti," tegas Todotua saat melakukan visitasi pelatnas di Bali, pada Kamis 16 Juli 2026.

Baca juga: Desak Rita Tak Ingin Terlena Jadi Nomor Satu Dunia, Langsung Bidik Emas Asian Games Nagoya 2026

Untuk mengantisipasi celah minus pelayanan tuan rumah, pihak CdM bergerak cepat merancang strategi mitigasi.

Salah satu langkah konkretnya adalah menjamin pemulihan fisik atlet tidak terganggu akibat perjalanan panjang. 

Pihak CdM telah mengunci kesepakatan dengan maskapai Garuda Indonesia sebagai official flight demi menyediakan penerbangan langsung (direct flight) menuju bandara Nagoya.

"Kita mau memastikan supaya atlet kita jangan terlalu jauh. Kita harapkan atlet bisa direct flight supaya penerbangannya tidak terlalu jauh, sehingga mereka punya waktu untuk istirahat lebih baik," tambah Todotua.

Komitmen penuh para atlet di lapangan ini membuat CdM optimis target 4 medali emas yang dipatok oleh Kemenpora bisa dilewati. 

Tim CdM juga menepis anggapan bahwa kunjungan perdana ke Bali ini sengaja menghindari cabang olahraga populer.

"Semua cabor itu adalah cabor unggulan. Kita tidak mau membedak-bedakan terhadap itu. Kita coba sisir dulu yang memang atletnya melakukan pelatihan di luar daerah agar semua mendapat dukungan maksimal," pungkas Todotua.

Di sisi lain, tantangan non-teknis ini justru menjadi bahan bakar tambahan bagi atlet lompat jauh senior, Maria Natalia Londa, yang ditemui di sela-sela latihannya di Pantai Sanur. 

Bagi Maria, gelaran pada 19 September hingga 4 Oktober 2026 nanti akan menjadi panggung internasional terakhir dalam kariernya. 

Pembatasan usia regulasi nasional di angka 35 tahun memaksa sang ratu lompat jauh untuk segera gantung sepatu.

"Ini menjadi pertandingan terakhir saya di kejuaraan internasional. Di Indonesia juga saya sudah tidak boleh bertanding lagi karena batas maksimal di cabor atletik itu 35 tahun," ungkap Maria Londa.

Menghadapi pensiun yang sudah di depan mata, peraih emas Asian Games 2014 Incheon ini memilih fokus penuh menebus kegagalannya pada edisi Hangzhou lalu. 

Kali ini, Maria menargetkan bidikan utama pada nomor lompat jangkit untuk membawa pulang medali terakhir bagi Indonesia. Persiapannya kini telah menyentuh angka 80 persen dan mulai memasuki fase khusus.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.