Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Dua puluh tahun sudah berlalu sejak tsunami menerjang pesisir Pangandaran, Jawa Barat pada 17 Juli 2006.
Namun, bagi Aah Sutiya (65), warga Perumahan Tsunami, RT 01/17, Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, peristiwa memilukan itu masih membekas kuat dalam ingatannya.
Perempuan yang menjadi satu penyintas tsunami Pangandaran itu mengaku masih mengingat detik-detik ketika gelombang besar datang menyapu kawasan Pantai Timur.
Saat itu, Aah melihat anaknya baru pulang dari laut. Mereka sama sekali tidak menyangka bencana dahsyat akan terjadi.
"Saya lagi di Pantai Timur bertiga sama anak. Anak baru pulang dari laut. Tiba-tiba terdengar suara air mengguruh. Anak saya melihat ke arah laut, lalu kami langsung lari mengikuti orang-orang. Kami tidak tahu arah dan harus lari ke mana," ujar kenang Aah ke sejumlah wartawan di Babakan, Jumat (17/7/2026) siang.
Dalam hitungan menit, ombak raksasa menghancurkan rumah dan seluruh harta benda miliknya.
"Rumah habis terseret ombak. Semua habis, termasuk peralatan rumah tangga dan alat untuk melaut. Mesin tempel perahu baru ditemukan dua hari kemudian dalam keadaan terkubur pasir," katanya.
Baca juga: 20 Tahun Tsunami Pangandaran 2006, Daryono: Ancaman Megathrust Nyata, Siap Siaga Jadi Kunci Selamat!
Di tengah kepanikan, Aah bahkan harus terpisah dengan anaknya.
Tanpa sadar, ia bersama ratusan warga lain berlari hingga masuk ke kawasan hutan di wilayah Desa Purbahayu demi menyelamatkan diri.
"Saya sampai dua hari tidak bertemu anak karena terpisah saat menyelamatkan diri. Suami waktu itu sedang berada di wilayah Banjarsari," ucap Aah.
Setelah selamat, Aah menjalani kehidupan sebagai pengungsi selama bertahun-tahun.
Sekitar satu minggu pertama ia tinggal di lokasi pengungsian darurat. Setelah itu, ia bersama keluarga menempati tenda pengungsian di sekitar pintu masuk kawasan selama kurang lebih dua tahun sebelum akhirnya memperoleh tempat tinggal tetap.
"Namanya hidup di pengungsian ya tidak enak. Tapi alhamdulillah banyak bantuan, jadi kami bisa bertahan," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Aah pun masih mengingat bagaimana dapur umum menjadi tumpuan hidup para penyintas setiap hari.
"Waktu itu, setiap hari dapat nasi bungkus dari dapur umum. Kami dipanggil untuk mengambil makanan. Ada juga yang memberikan beras, kompor, wajan, dan peralatan memasak," katanya.
Tak hanya kebutuhan pokok, bantuan uang tunai dari para relawan dan donatur pun terus mengalir.
"Hampir setiap hari ada yang memberi uang. Ada yang Rp 20 ribu, ada Rp 50 ribu. Banyak juga yang menyumbangkan pakaian bekas. Alhamdulillah, semua bantuan itu sangat membantu," ucap sedihnya.
Menurutnya, tanpa kepedulian para relawan dan masyarakat dari berbagai daerah, banyak korban yang mungkin akan mengalami tekanan mental lebih berat.
"Kalau tidak ada bantuan, mungkin banyak orang yang stres karena semuanya habis disapu tsunami," ucap Aah.
Meskipun sudah berlalu selama dua dekade, luka batin akibat bencana tersebut belum sepenuhnya sembuh.
Aah mengaku hingga kini masih trauma setiap kali mendengar suara ombak besar."Kalau dengar suara ombak, saya masih trauma," katanya.
Di usia yang tak lagi muda, kehidupan ekonomi keluarganya pun belum sepenuhnya pulih. Penghasilan masih bergantung pada pekerjaan suaminya sebagai buruh nelayan dengan peralatan milik orang lain.
"Sekarang usaha cuma dari melaut. Bapak sudah tua, ke laut juga hanya sebagai buruh karena peralatannya bukan punya sendiri. Kadang dapat ikan, kadang tidak. Kalau tidak dapat ya mau bagaimana lagi," ucap Aah. *