TRIBUNTRENDS.COM - Kepergian dr. Alex Cristo Loris di usia 30 tahun masih menyisakan duka mendalam, terutama bagi sang istri, dr. Yuliati Marbun.
Rasa kehilangan tersebut ternyata juga dirasakan banyak warganet yang turut bersimpati meski tidak mengenal almarhum secara pribadi.
Hal itu terlihat dari ramainya kolom komentar pada unggahan lama di akun Instagram dr. Yuliati Marbun yang kembali menjadi perhatian publik.
Foto yang diunggah pada 6 Agustus 2024 itu memperlihatkan momen bahagia pasangan suami istri tersebut saat berpose bersama.
Kini, unggahan yang sebelumnya dipenuhi kenangan indah berubah menjadi tempat warganet menyampaikan ucapan belasungkawa dan doa.
Banyak pengguna media sosial memberikan dukungan moral serta berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan menghadapi cobaan ini.
Sejumlah komentar mengaku ikut merasakan kesedihan meski tidak memiliki hubungan langsung dengan dr. Alex maupun keluarganya.
Gelombang simpati tersebut menunjukkan besarnya empati publik terhadap kisah yang tengah dialami keluarga almarhum.
Unggahan itu pun menjadi ruang bagi banyak orang untuk menyampaikan doa terbaik bagi dr. Alex Cristo Loris serta memberikan penguatan kepada sang istri yang sedang berduka.
Baca juga: Sayang Ayo Kita Pulang!, Tangis Istri dr. Alex Christo Lihat Jasad Suami Ditemukan di Semak-semak
"Turut berdukacita ya dok. Tuhan yang memulihkan hati dan memberi penghiburan," tulis akun @dr.mas****.
"Nggak kenal sama kakak ini tapi merasakan sedihnya. Sabar ya kak, semangat kak," tambah akun @niss****.
"Kak Yuli, turut berduka cita ya kak. Semoga kakak diberikan ketabahan," timbal akun @sil***.
"Kak Yuli, Ezi turut belasungkawa ya kak. Sedih sekali rasanya dapat kabar seperti ini. Semoga kakak dan keluarga diberikan kekuatan dan kesabaran selalu," ujar akun @ezi****.
Hingga saat ini, pihak Kemenkes melalui Dirjen Kesehatan Lanjutan masih enggan berspekulasi lebih jauh terkait penyebab kematian korban dan memilih menunggu hasil autopsi resmi kepolisian keluar demi memastikan penyebab pasti kematian dr. Alex.
"Kak Yuli, turut berduka cita ya kak. Semoga kakak dan keluarga selalu diberikan kekuatan," pungkas akun @kani****.
Banyak warganet yang mengaku terenyuh setelah mengetahui kronologi kejadian pilu yang menimpa dokter residen anestesi tersebut.
Sebelum ditemukan meninggal dunia di samping pagar RSUD Tengku Rafian, Kabupaten Siak, korban sempat dilaporkan hilang sejak Senin sore.
Baca juga: Isi Surat Wasiat Dokter Icha, Trauma Diintimidasi DPRD TTU, Laporkan Pelaku: Cukup Dia jadi Korban
Pencarian dr. Alex dimulai Senin malam pukul 21.30 WIB.
Chief Residen Anestesi yang sedang bertugas di RSUD Tengku Rafian langsung menelepon dokter supervisor dan Chief Residen di Rumah Sakit Pendidikan Utama untuk mencari tahu keberadaan dr. Alex.
Setengah jam kemudian, sekitar pukul 22.00 WIB, mereka berinisiatif melacak posisi korban menggunakan aplikasi Find My iPhone.
Sayangnya, pelacakan digital dan pencarian sampai selasa pagi itu belum membawa hasil.
Karena buntu, dokter supervisor sempat berencana melapor ke polisi.
Namun pada Selasa siang sekitar pukul 11.30 WIB, petugas keamanan RSUD Tengku Rafian akhirnya menemukan dr. Alex sudah meninggal dunia di semak belukar samping rumah sakit.
Setelah ditemukan, pihak kampus langsung mengurus proses autopsi di RS Bhayangkara Polda Riau hingga membantu mengantarkan jenazah ke rumah duka di Bagan Batu, Rokan Hilir.
Baca juga: Alex Cristo, Jenazah Dokter PPDS Ditemukan di Semak-semak RSUD Tengku Rafian, Baru Seminggu Kerja
Polda Riau sejauh ini belum bisa memastikan apakah dokter muda asal Maluku tersebut merupakan korban pembunuhan atau bukan.
Misteri penyebab pasti kematian dr. Alex baru akan terjawab setelah hasil autopsi resmi diterbitkan.
"Hasil autopsi diperkirakan 2 minggu lagi baru keluar. Nanti hasil (autopsi) baru tampak terang, apakah itu korban dibunuh, kecelakaan, atau sejenisnya," jelas Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Riau, AKBP Rudi Samosir, Kamis (16/7/2026), dalam Tribunnews.com
Kendati demikian, tim forensik gabungan di RS Bhayangkara Pekanbaru telah menemukan sejumlah tanda kekerasan pada pemeriksaan luar sementara.
Rudi mengungkapkan terdapat luka berbentuk titik disertai pembengkakan pada punggung tangan kiri korban, serta memar di bagian kepala akibat kekerasan benda tumpul.
Penyidik juga menemukan beberapa luka pascakematian (post-mortem) di leher, dada, perut, dan lengan yang polanya diduga akibat gigitan serangga setelah korban meninggal dunia.
Pada organ dalam, ditemukan adanya pelebaran pembuluh darah dan pembendungan (kongesti).
"Dari hasil pemeriksaan sementara, penyebab kematian korban belum dapat ditentukan. Tim masih menunggu hasil pemeriksaan histopatologi forensik dan toksikologi forensik sebagai pemeriksaan konfirmasi," tambah Rudi. Korban diperkirakan sudah meninggal sekitar 12 hingga 24 jam sebelum diperiksa.
(TribunTrends/TribunSumsel.com/Putri Kusuma Rinjani)