Runner Up Putri Hijabfluencer Sumut, Zahara Usung KAIVO untuk Cetak Generasi Berani Berkembang
Ayu Prasandi July 17, 2026 06:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Di usia yang baru menginjak 21 tahun, Niea Zahara Phonna telah mengoleksi lebih dari 100 prestasi dari berbagai bidang. Mulai dari lomba keagamaan, akademik, olahraga, hingga program kepemudaan internasional.

Namun bagi mahasiswi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan ini, prestasi bukan lagi tujuan akhir.

Ia kini ingin menghadirkan ruang bagi anak muda lain agar berani mengenali potensi diri dan berkembang bersama.

Perempuan yang akrab disapa Zahara ini lahir di Aceh Besar, 15 Januari 2005. Sejak usia lima tahun, kedua orang tuanya, Amran, S.Ag dan Safwai, S.Pd.I, sudah membiasakan putrinya tampil di depan publik.

Bukan untuk mengejar gelar, melainkan melatih kemandirian, keberanian, dan kemampuan bersosialisasi sejak dini.

“Orang tua selalu mengajarkan saya untuk berdiri di atas kaki sendiri, mandiri, tetapi tetap selalu ingat akhirat,” ujar Zahara.

Perjalanan kompetisinya dimulai dari lomba fotogenik saat berusia lima tahun. Tak disangka, ia berhasil meraih juara pertama. Pengalaman sederhana itu menjadi titik awal tumbuhnya rasa percaya diri.

Tak lama kemudian, Zahara mulai mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), tahfiz, pidato, tartil, tilawah, paduan suara, olimpiade, cerdas cermat hingga taekwondo.

Saat duduk di bangku MTs, ia kembali aktif mengikuti Fahmil Quran, Syarhil Quran hingga lomba lari tingkat kabupaten dan kota.

Memasuki SMA, minatnya semakin luas. Ia mengikuti berbagai olimpiade, paduan suara, hingga kompetisi nasional.

Kini, saat menjadi mahasiswa, langkahnya bahkan melampaui batas negara.

Berbeda dengan banyak mahasiswa yang memilih kampus dekat rumah, Zahara justru sengaja merantau ke Medan.

Baginya, meninggalkan Aceh merupakan bagian dari proses menguji kemampuan hidup mandiri.

Ia memilih UINSU karena ingin tetap berada di lingkungan pendidikan yang mampu menjaga nilai-nilai keislaman yang telah ia bangun sejak belajar di pesantren.

“Alasan pertama saya memilih UINSU adalah ingin menguji diri hidup jauh dari orang tua. Saya berharap dari perantauan ini bisa membuka perjalanan yang lebih luas, tidak hanya menjelajahi Indonesia tetapi juga negara-negara lain,” katanya.

Harapan itu ternyata menjadi kenyataan. Selama kuliah, Zahara mengikuti berbagai program internasional, termasuk International Youth Goals Chapter 2 yang membawanya belajar ke Malaysia, Singapura dan Thailand.

Ia juga kembali mengikuti program fully funded ke Bangkok. Tak sekadar berwisata, program tersebut mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai negara.

Mereka mengikuti seminar internasional, presentasi proyek, forum diskusi, kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia, hingga mengunjungi kampus-kampus terbaik dunia seperti National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), Universiti Malaya (UM), Chulalongkorn University dan Prince of Songkla University.

Menurut Zahara, pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Ia belajar bahwa setiap negara memiliki budaya, sistem pendidikan hingga kebijakan publik yang berbeda.

“Dari program internasional saya belajar kalau dunia ini sangat luas. Kita jadi tahu budaya, pendidikan, ekonomi sampai aturan yang berbeda di setiap negara. Hal-hal baik yang kita lihat bisa menjadi pembelajaran untuk diterapkan di Indonesia,” ujarnya.

Ia mencontohkan budaya disiplin masyarakat Singapura yang didukung aturan tegas terhadap pelanggaran kebersihan sehingga lingkungan tetap terjaga.

Meski terlihat penuh prestasi, perjalanan Zahara tidak selalu mulus. Ia mengaku pernah berkali-kali gagal dalam berbagai kompetisi. Bahkan di awal mengikuti berbagai ajang, ia sempat merasa ingin menyerah.

Namun kegagalan justru menjadi guru terbaik baginya. Ia mulai mengevaluasi setiap kekurangan, memperbaikinya satu per satu, lalu kembali mencoba.

Kini, kata Zahara, ia tidak lagi takut menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan.

“Gagal itu awal dari keberhasilan. Karena terlalu sering gagal, sekarang saya justru lebih mengenal kemampuan diri sendiri dan bisa mengukur peluang saya dalam setiap kompetisi,” katanya.

Baginya, kegagalan bukan alasan berhenti, tetapi kesempatan memperbaiki diri.

Salah satu pencapaian yang paling berkesan baginya adalah menjadi 1st Runner Up Putri Hijabfluencer Sumatera Utara.

Menariknya, ia mengaku awalnya mengikuti ajang tersebut bukan semata-mata ingin menjadi pemenang.

Ia justru ingin mencoba dunia pageant yang belum pernah ia masuki sekaligus membangun jaringan profesional dengan berbagai pelaku industri kreatif.

Seleksi yang dijalani pun tidak mudah. Mulai dari audisi, pembuatan konten, visit, karantina hingga grand final.

Pada malam unjuk bakat, Zahara bahkan membawakan penampilan yang baru dipelajari hanya satu minggu sebelum karantina. Baginya, gelar tersebut bukan sekadar prestasi pribadi.

“Ini bukan hanya sebuah title, tetapi amanah untuk memberikan dampak kepada masyarakat, baik melalui media digital maupun secara langsung,” ujarnya.

Sebagai Putri Hijabfluencer, ia juga memiliki tanggung jawab membantu mempromosikan berbagai UMKM dan brand lokal di bidang fesyen, kuliner, pendidikan hingga gaya hidup.

//Lahirkan KAIVO, Ruang Bertumbuh untuk Anak Muda

Di balik aktivitasnya sebagai mahasiswa, mentor, brand ambassador hingga public relations dalam berbagai program internasional, Zahara tengah membangun sebuah gerakan yang ia beri nama KAIVO (Knowledge and Innovation for Valuable Opportunities).

Program advokasi ini lahir dari kegelisahannya melihat banyak anak muda yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi terjebak dalam rasa ragu, overthinking dan takut gagal.

Menurutnya, banyak pemuda belum menemukan lingkungan yang mampu mendukung mereka berkembang.

Karena itu, KAIVO dirancang menjadi ruang belajar sekaligus tempat saling menguatkan.

Melalui konsep Learning, Growth dan Impacting, peserta nantinya akan mengikuti berbagai kegiatan seperti KAIVO Talk Inspiratif, kelas deep talk, konten pengembangan diri hingga berbagai program pendidikan.

“Saya ingin membantu siapa pun menemukan skill yang mereka miliki, berani keluar dari zona nyaman, berkembang, lalu kembali memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.

Advokasi tersebut juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor empat tentang pendidikan berkualitas.

Saat ini, Zahara mulai membangun komunitas tersebut melalui media sosial @kaivoverse.id.

Di akun tersebut ia rutin membagikan konten mengenai pengembangan diri, pendidikan serta motivasi bagi anak muda.

Sebelumnya, ia juga pernah menyelenggarakan webinar regional Provinsi Aceh yang diikuti lebih dari 400 peserta, jauh melampaui target awal.

Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar bukan terletak pada konsep program, melainkan sumber daya manusia.

“Tidak semua orang mau keluar dari zona nyamannya. Karena itu kami ingin memulai dari berbagi cerita inspiratif, lalu perlahan membangun komunitas yang saling mendukung,” ujarnya.

Kini, Zahara tak lagi menghitung jumlah penghargaan yang berhasil ia raih. Baginya, lebih penting memastikan setiap pencapaian mampu memberi manfaat bagi orang lain.

Perempuan yang pernah meraih medali emas tiga bidang olimpiade dalam ajang IYFSET, menjadi Mahasiswa Berprestasi UINSU, hingga dipercaya menjadi mentor dan pemimpin public relations dalam berbagai program internasional itu berharap suatu saat KAIVO mampu melahirkan lebih banyak pemuda yang berani berkembang.

Ia ingin setiap peserta nantinya dapat kembali membagikan perjalanan mereka sebagai inspirasi bagi generasi berikutnya.

“Siapa pun bisa menjadi apa pun. Karena itu saya selalu berusaha menjadi gelas kosong agar terus haus akan ilmu,” tutup Zahara.

(cr26/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.