Apakah Gunung Kawi Benar-benar Gunung Hoki? Atau Semata-mata karena Keuletan Peziarahnya?
Moh. Habib Asyhad July 17, 2026 07:35 PM

Gunung Kawi selama ini dianggap sebagai gunung hoki. Banyak orang ngalap berkah di sana. Apakah benar gunung hoki atau memang peziarahnya saja yang ulet bekerja?

Penulis: Herus Kustara | Tayang di Majalah Intisari edisi Maret 1991 dengan judul "Gunung Kawi Si Gunung Hoki"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Di balik indahnya pesona alam pegunungan, terselip sebuah aktivitas peziarahan yang tak pernah putus sejak puluhan tahun lalu. Makam Gunung Kawi: ia dikenal orang di mana-mana sampai di Timur Tengah.

Apakah di situ ada tempat mencari pesugihan? Wartawan Intisari, Al. Heru Kustara, pada awal 1991, sengaja ke sana untuk menyaksikan sendiri aktivitas yang berlangsung di sana.

… Kala senja tiba, siratan nuansa cahya mentari yang berangkat ke peraduan membayang elok di ufuk barat. Kicau burung-burung berebut tempat bertengger berpadu dengan eretan suara belalang, menggores kalbu.

Dan sisi barat kompleks makam terdengar alunan merdu suara azan Maghrib … Lambaian dedaunan yang diterpa angin seakan berucap selamat tinggal senja, dan selamat datang rembulan dan bintang … Sungguh, sebuah harmoni indah kehidupan alam yang sulit diukur dengan kata-kata …

Sungguh mati, ini bukan kecap untuk mengundang wisman (wisatawan mancanegara). Kalimat-kalimat rada puitis itu cumalah upaya pelukisan suasana sebuah tempat peziarahan terpencil, tapi kondang, nun di lereng Gunung Kawi (2.651 m), sekitar 40 km sebelah barat Kota Malang, Jawa Timur.

Makam Gunung Kawi. Begitulah merek dagang tempat itu dikenal. Suasana alam yang dilukiskan R. Soelardi Soerjowidagdo, dalam buku petunjuk “resmi” tentang tata cara ziarah dan riwayat Makam Gunung Kawi yang ditulisnya itu, memang tidak terlalu dibesar-besarkan.

Malah masih bisa ditambah lagi dengan unsur lain: hawa sejuk, udara bersih komplit dengan sejumlah penginapan dan hotel yang representatif, warung makan, restoran, dan fasilitas lain yang memadai. Pokoknya, soal itu rasanya tak perlu ditanya lagi. Semua beres.

Mau piknik atau berziarah? Itu terserah. Yang jelas, sejak puluhan tahun lalu Makam Gunung Kawi begitu kondang dan banyak dikunjungi para petualang ziarah yang ingin ngalap berkah di sana.

Konon, berkah apa saja boleh diminta. Keselamatan, enteng jodoh, lancar rezeki, ingin dapat anak atau harapan diwangsiti nomor kode buntut.

Markas lelembut

Sejak dari kapan-kapan yang namanya kuburan, makam, pesarean atau entah apa namanya, umumnya berkonotasi angker, seram dan lain-lain yang bisa bikin badan meriang. Konon, menurut yang diyakini sementara orang, kuburan itu merupakan markas segala macam marga lelembut atau roh halus, bahkan pos hantu berkumpul.

Tapi, yang ini rada lain. Berkesan mewah, berhiaskan lampu-lampu kristal yang megah, berlantai karpet merah, dengan bangunan berbentuk nisan raksasa, daya angker yang melekat pada sosok Makam Gunung Kawi seperti cair.

Padahal seperti umumnya areal sebuah kuburan Jawa, pemakaman itu pun dikepung pohon-pohon beringin dan entah pohon apa lagi yang besar-besar dan rimbun. Meski begitu, suasana khas sebuah kuburan suma sekali bukannya tak ada.

Suasana itu akan tercium tatkala orang memasuki ruangan tempat batu nisan berada. Aroma asap kemenyan yang berbaur dengan wangi asap hio dan harum bunga mawar, mau tak mau akan membawa pikiran orang ke alam magis dan sakral.

Namun, ruangan seluas 300 m2 yang mampu menampung hampir seribu manusia duduk bersila itu berubah pengap, manakala tiba saatnya peziarah memasuki pendopo makam untuknyekardan menyampaikan maksudnya lewat Mbah Asim Nitiredjo, sang juru kunci.

Waktu untuk berziarah memang diatur. Entah apa maksudnya. Pagi dimulai pukul 09.00, siang 14.00 dan malamnya 19.00. Sedangkan khusus bagi mereka yang mau berziarah keliling pendopo makam, dijatah mulai pukul 24.00 - 01.00.

Jumlah pengunjung atau peziarah memang agak mencolok. Pada hari-hari biasa saja, makam yang kondangnya sebagai tempat berburu hoki itu didatangi ratusan orang.

Apalagi ketika tiba malam Jumat Legi atau Senin Pahing, yang diyakini oleh yang percaya sebagai malam-malam paling afdol buat ngalap berkah,jumlah pengunjung melejit. Sejak pagi hingga petang hari arus anak manusia seperti tak putus-putus.

Tak heran jika malam-malam seperti itu, sekitar 5,000 orang tumplek blek di sana. Jumlah itu bakal mencapai klimaksnya pada tanggal 12 Suro (Muharam) setiap tahunnya, ketika berlangsung tahlil akbar, upacara khusus memperingati wafatnya salah seorang yang dimakamkan di sana.

Ketika itu jumlah pengunjung bisa menembus angka belasan ribu. "Kompleks makam seluas 1 ha itu seperti tak mampu menampung membludaknya pengunjung," kata seorang penduduk setempat.

Pengunjung Makam Gunung Kawi yang berada pada ketinggian sekitar 800 m dari permukaan laut itu, datang dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, pria atau wanita.

Ada pegawai, pengusaha, pejabat, tokoh atau pemimpin masyarakat dan juga rakyat kecil.

Mereka bukan hanya berasal dari Kota Malang, Surabaya atau daerah-daerah lain yang berdekatan dengan lokasi makam, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Malah dari catatan buku tamu, bisa dijumpai pengunjung asal mancanegara.

Dari Singapura, Malaysia, RRC, Taiwan, Hongkong, Jepang, India, Kangda, AS, Suriname, Inggris, Belanda, Jerman Barat, Australia, bahkan dari berbagai daerah di Timur Tengah. Sulit dilacak apa maksud kedatangan para wisnian ini.

Keturunan raja-raja

Dari sisi luasnya pengunjung paling tidak gampang diduga sampai di mana gaung popularitas Makam Gunung Kawi itu bergema.

Makam Gunung Kawi sebenarnya tak beda dengan tempat-tempat peziarahan lain yang bertaburan di Jawa. Seperti di Gunung Jati, Gunung Muria, Gunung Kemukus atau sejenisnya, aktivitas di sana juga berpusat pada makam orang yang dianggap punya daya linuwih atau “kesaktian”.

Yang jadi bintang pujaan spiritual di sana ada dua, Mbah Djoego dan Mbah Imam Soedjono. Konon kabarnya kedua eyang itu dimakamkan dalam satu liang lahat.

Menurut pakem “resmi” seperti dikemukakan oleh R. Soelardi Soeryowidagdo, putra juru kunci makam yang masih ada hubungan darah dengan R.M. Imam Soedjono keduanya tokoh kharismatik asal Kerajaan Mataram abad ke-19.

Djoego hanyalah nama samaran. Aslinya Kanjeng Kiai Zakaria II, keturunan penguasa Mataram Surakarta yang memerintah pada abad ke-18. Sedangkan Raden Mas Iman Soedjono, keturunan penguasa Keraton Mataram Yogyakarta yang berkuasa pada abad yang sama.

Semasa hidup, keduanya dikenal sebagai tokoh keagamaan, pendakwah (dai), dan juga sebagai pemimpin dan panutan masyarakat yang dekat dengan rakyat kecil, terutama di Jawa Timur. Mereka pun disegani karena sifat-sifat patriotiknya.

Keduanya, konon, adalah pengikut setia Pangeran Diponegoro di zaman perang melawan Belanda (1825 - 1830).

Kiai Zakaria II sendiri adalah cicit dari Sunan Paku Buwono I, penguasa Keraton Mataram tahun 1705 - 1719. Sedangkan R.M. Iman Soedjono adalah cucu Bendoro Pangeran Haryo Balitar, dan cicit Sri Sultan Hamengku Buwono I yang bertahta di Keraton Yogyakarta tahun 1755 - 1792.

Setelah Diponegoro ditangkap Kompeni di Magelang pada 1830, anggota laskarnya kocar-kacir dan pecah. Dalam pengembaraannya ke arah timur, Kiai Zakaria II sampai di Desa Sanan, Kesamben, Blitar (Jatim).

Dia menyandang nama samaran Sadjoego, yang arti harfiahnya sendirian, agar tidak diketahui musuh (Belanda). Di sanalah dia menetap, hingga meninggal pada tanggal 22 Januari 1871.

Jenazahnya baru dikebumikan empat hari kemudian, Kamis Kliwon 25 Januari 1871, mengingat perjalanan dari Blitar ke Gunung Kawi bukan perjalanan yang mudah. Iring-iringan pembawa jenazah harus melalui jalan setapak, menembus hutan lebat, lereng-lereng terjal dan tebing-tebing curam.

Sebelum meninggal, dia berpesan kepada Iman Soedjono agar jasadnya nanti dikuburkan di lereng Gunung Kawi.

Sepeninggal sesepuhnya, R.M. Iman Soedjono memutuskan untuk menetap di Desa Wonosari, tempat Mbah Djoego dimakamkan itu. Dialah yang kemudian merawat pusaranya, di samping sehari-harinya bertani padi gogo dan palawija.

Sementara itu, Iman Soedjono tetap melakukan dakwah kepada para pengikutnya maupun tamu yang datang ke rumahnya, sekaligus berziarah ke makam Mbah Djoego. Enam tahun setelah Mbah Djoego meninggal, yakni tanggal 12 Suro 1805 yang bertepatan dengan tanggal 8 Februari 1876, R.M. Iman Soedjono pun berpulang dan dimakamkan dalam satu liang lahat bersama almarhum Mbah Djoego, sesuai dengan wasiat pendahulunya itu.

Eyang belum memberi berkah

Lepas dari benar-tidaknya versi yang dianggap resmi itu, barangkali kedua eyang yang sudah di alam sana itu dulu tak pernah mengantisipasi, boleh jadi juga tak berharap, kelak makamnya bakal dijunjung para “cucu” dan “buyut”-nya dengan rupa-rupa permohonan macam sekarang.

Mulai dari yang meminta keselamatan, enteng jodoh, lancar rezeki, ingin mendapat anak, hingga yang berharap-harap diwangsiti nomor kode buntut SDSB—era SDSB berakhir sekitar akhir 1993, dan itu makanan apa kedua eyang itu mungkin juga tidak mudeng. Toh arus peziarah tetap deras mengalir ke sana, meskipun ada juga yang cuma berniat untuk piknik, secara pribadi atau lewat paket sebuah biro perjalanan.

Tapi, jauh-jauh dari Samarinda, Kalimantan Barat, Bu Karlita (bukan nama sebenarnya) tidak berniat piknik. Dia datang berbekal niat yang bulat: kembali berziarah dan melakukan hajat syukuran.

Sejak 14 tahun sebelumnya, wanita itu sudah empat kali bolak-balik ke sana. “Saya merasakan ada hasilnya. Kalau tidak, buat apa saya balik lagi kemari?” kilahnya terus terang.

Apakah keberhasilannya itu berkat berkah dari Gunung Kawi atau karena keuletannya agakanya tak mudah dijawab. Tapi, dari mulai membuka warung kopi, berjualan cakwe, hingga kemudian berhasil jadi pedagang besar, merupakan kenyataan yang tak bisa disangkal.

Paling tidak seperti diakui wanita berdarah Dayak-Cina ini. “Sekarang saya punya enam buah perahu bermotor untuk mengangkut barang-barang dagangan saya seperti minyak tanah, solar, beras, gula pasir dan sebagainya ke wilayah pedalaman di Kalimantan Barat dengan menyusuri Sungai Mahakam,” ceritanya ketika itu.

Begitu juga Pak Hokiwan (bukan nama sebenarnya), pemilik sebuah toko besar suku cadang kendaraan truk di Bandar Lampung. Untuk kesekian kalinya dia sowan Mbah Djoego sekalian. Sebenarnya dia hanya mengikuti naluri ayahnya saja.

Pada 1952, begitu kisahnya, perusahaan kontraktor ayahnya bangkrut. Bersama seluruh keluarga, termasuk dirinya yang masih berusia 10 tahun, ayahnya lalu berziarah ke Gunung Kawi.

“Di sini ayah saya mimpi. Balok-balok kayu segede lengan dikremus dengan enak, layaknya makan roti. Pak kuncen waktu itu menyarankan ayah saya banting setir, buka usaha dagang kayu saja,” kisah Pak Hokiwan yang mengaku dirinya keturunan Cina dan gemar berziarah ke tempat-tempat macam Gunung Kawi itu.

Singkatnya, saran itu dilakoni ayahnya. Bayangkan, mulai dengan modal sebuah truk, tahun 1989 lalu truk yang dimiliki ayahnya membengkak jadi 21 buah!

“Sayang, perusahaan kayu gergajian ayah saya kemudian bangkrut gara-gara pasokan kayu distop,” katanya tanpa nada sedih. Bersama dia, ayahnya yang ketika itu berusia 72 tahun kembali lagi berziarah, meski sang ayah membawa luka di kaki yang tak sembuh-sembuh akibat sakit gula.

Cerita kegagalan rupanya sama banyaknya dengan kisah sukses yang mewarnai obrolan antar-peziarah. Namun, kegagalan itu seringkali lebih ditanggapi dengan nada optimistis: “Memang belum nasib saya”, “Eyang belum memberi berkah”, atau ‘Saya harus berusaha lebih keras lagi” dan seterusnya.

Itu artinya, yang bersangkutan masih diuji ketabahannya untuk terus atau stop berziarah ke Gunung Kawi, atau berpindah ke tempat lain yang dianggap lebih “cocok” buat dirinya. Kembali, kembali dan kembali lagi itu mungkin salah satu kiat agar permohonan terkabul, meski tak ada syarat macam itu di sana.

Nyaris tertipu

Untuk bisa “memancing” berkah dari kedua eyang, peziarah memang tidak dituntut syarat yang aneh-aneh seperti di Gunung Kemukus, yang mengharuskan adanya hubungan seksual antar-peziarah. Sederhana saja caranya.

Peziarah mengajukan niatnya lewat sang juru kunci sembari nyekar dan memberikan uang sekadarnya. Usai acara tabur bunga yang dikerjakan pak kuncen, para peziarah boleh berdoa sejenak di depan pusara sesuai keyakinan agamanya.

Sebelum pamit mundur, sang juru kunci akan memberikan dua bungkus kecil kembang layon (bunga kering yang diambil dari pusara). Juga sebungkus kemenyan kepada si peziarah untuk dibawa pulang.

Bekal berupa kembang layon dan kemenyan itu konon antara lain dipercaya sebagai punya semacam “kekuatan” tertentu yang membawa hoki buat pemiliknya. Tak heran kalau kemudian benda itu seringkali disimpan di bawah bantal sebagai jimat, atau digantung di gawang pintu, meskipun tak jarang yang dipakai buat mandi, entah apa maksudnya, pada Jumat Legi dan Senin Pahing, hari-hari yang dianggap keramat itu.

Banyak pengunjung yang melengkapi ziarahnya dengan bertirakat sambil berdingin-dingin di pelataran seputar makam sampai pagi. Atau nimbrung duduk berjejal ria di bawah pohon sian tho (pohon dewa) alias dewandaru alias cerme londo (Eugenia uniflora) di sisi kanan makam, menunggu jatuhnya buah, yang dipercaya sebagai punya “tuah”.

Malah ada yang berkeyakinan, tak dapat buah, daunnya pun tak apa. Kata orang yang percaya, siapa pun yang kejatuhan buahnya bakal enteng rezekinya, atau paling tidak beroleh keberuntungan.

Padahal sampai tubuh berembun pun belum tentu ada daun yang rontok, apalagi buahnya. Tanaman yang termasuk suku jambu-jambuan (Myrtaceae) itu konon ditanam oleh Mbah Iman sendiri.

Tapi, kini sudah banyak dibudidayakan penduduk setempat, untuk dijajakan kepada pengunjung dengan harga tertentu per batang.

Bagi Bu Karlita, bukannya tuah yang diperoleh ketika dia ikutan menunggu jatuhnya buah keberuntungan itu. “Seorang pemandu wisata nyaris berhasil menipu saya," katanya.

Pasalnya, ketika berada di bawah pohon itu, dia didekati seorang pemuda tanggung yang dikenalnya sebagai salah seorang pengantar tamu di sana. Dia dibujuk agar membeli seekor kambing, jika nanti berhasil mendapat buahnya.

“Supaya tuahnya betul-betul bisa diandalkan, buah itu harus diketuk-ketukkan pada kedua lutut kaki depan si kambing. Sesudah itu kambing Ibu harus dilepas," katanya, menirukan pemuda itu.

Di tengah keraguannya, Bu Karlita melihat ada buah jatuh lalu diambil pemuda itu dan diberikan kepadanya. “Saya cepat-cepat menolak, sebab kebetulan saya melihat buah itu sengaja dipetik dari pohonnya lalu dilempar ke tanah,” katanya.

Kalau saja Bu Karlita menerima buahnya dan melepas kambing, bisa dipastikan tuah dari buah itu bakal jatuh ke tangan anak muda itu. Paling tidak mendapat kambing gratislah dia.

Hari Natal dan tahun baru ramai

Dari segi pengunjung, Gunung Kawi agaknya rada spesifik dibandingkan dengan tempat-tempat peziarahan lain. Yang mencolok, pada hari Sabtu (malam Minggu) atau menjelang hari libur, hampir 90% pengunjung adalah orang keturunan, meskipun pada hari-hari yang dianggap keramat persentasenya kira-kira tinggal 50%.

Tapi secara absolut tetap besar karena pada pada hari-hari keramat itu keseluruhan jumlah pengunjung membengkak. “Jumlah mereka mencapai puncaknya justru pada hari-hari setelah hari Natal hingga tahun baru. Boleh dikata pada saat-saat macam itu, hanya mereka yang berkunjung ke sini,” kata Idris, ketika itu kepala keamanan yang membawahi seregu satpam di sana.

Bisa dimaklumi kalau kemudian muncul sebutan Twa Lo Soe (guru besar pertama) bagi Mbah Djoego, Djie Lo Soe (guru besar kedua) buat Mbah Iman Soedjono. Juga tidak heran kalau kios-kios yang berderet di kanan-kiri jalan berlantai tegel sepanjang 750 m menuju ke kompleks makam, lalu banyak menyediakan rupa-rupa sarana peribadatan macam lilin, hio, dupa cina, minyak kelapa dan lain-lain untuk melayani kebutuhan mereka.

Ciri khas pengunjung Gunung Kawi itu menjadi tampak makin menonjol, karena kedua tokoh yang dimakamkan di situ adalah tokoh keagamaan dan pendakwah agama Islam (dai). Kemenonjolan itu lalu menimbulkan kesan seolah-olah Gunung Kawi merupakan tempat peziarahan bagi sejumlah orang keturunan.

Padahal tidak seluruhnya benar. Pada hari-hari misalnya setelah hari raya Idul Fitri atau tanggal 12 Suro, ketika diadakan tahlil akbar memperingati wafatnya Mbah Iman Soedjono, jumlah pengunjung atau peziarah di luar mereka itu justru dominan.

Konon, Makam Gunung Kawi mulai banyak dikunjungi orang-orang dari kalangan keturunan, sejak berdirinya tempat peribadatan Pat Kwa Teng (bangunan bersegi delapan) 50 tahun lalu (1940). Pat Kwa Teng didirikan atas saran orang bernama Tan Kie Yam, orang pertama keturunan yang mencari pengobatan di sana.

Konon, aktivitas peziarahan yang dilakukan Tan Kie Yam belakangan diikuti oleh seorang familinya, Ong Hok Liong, yang sehari-harinya pedagang tembakau. Ong Hok liong meminta agar usaha dagang tembakaunya maju di kemudian hari.

Bersama istrinya dia sering berziarah ke Gunung Kawi.

Belakangan, hajat Ong Hok Liong terkabul. Bukan usaha dagang tembakaunya yang tambah maju, tetapi justru perusahaan rokoknya.

Ketika suatu kali dia berziarah ke makam Mbah Djoego, menurut penduduk setempat, konon dia diberi dua biji bentul oleh Mbah Juwul, penjaga makam. Dari sanalah Ong Hok Liong mendapat inspirasi, untuk mendirikan sebuah perusahaan rokok dengan mereka Bentoel yang di kemudian menjadi sangat terkenal itu.

Dengan nama itu ternyata Ong berhasil. Atas keberhasilannya, Tan Kie Yam lalu menyarankan Ong Hok Liong, membangun tempat peribadatan tadi sebagai rasa syukur. Tempat peribadatan yang dulu berada di sisi makam itu, sekarang sudah dipindahkan ke luar kompleks.

Mirip etalase toko jam

Sejak itulah barangkali, dari mulut ke mulut, para leluhur Makam Gunung Kawi mulai diperhitungkan oleh kalangan orang-orang keturunan, terutama kaum pedagang atau pengusaha, untuk di-alap berkahnya. Bahkan sampai saat ini pun generasi penerus pengelola Perusahaan Rokok Bentoel dikenal di kalangan penduduk setempat, dari anak-anak sampai orang dewasa, sebagai peziarah setia di Gunung Kawi.

Apalagi, bantuan berbagai rupa masih terus mengalir dari perusahaan itu sampai masa yang lebih belakangan, semakin melekatkan nama perusahaan itu di benak warga setempat.

Sumbangan-sumbangan, entah itu ungkapan rasa terima kasih atau demi pelestarian makam, tak hanya mengucur dari kocek pengusaha besar itu. Dari berbagai kota di Indonesia dan berbagai kalangan, bantuan berupa uang atau materi terus mengalir.

Misalnya saja sumbangan yang kemudian diwujudkan menjadi tempat-tempat peribadatan macam Masjid Agung Iman Soedjono, tempat pemujaan terhadap Dewi Kwan Im, tempat ciamsi yang terletak persis di depan pintu gerbang kompleks makam. Belum lagi yang kecil-kecil macam lampu-lampu kristal, karpet, belasan buah grandfather's clock, dan sejumlah jam dinding yang dipasang di dalam pendopo makam.

Yang disebut belakangan ini membuat ruang pendopo makam itu sulit dibedakan dengan etalase toko penjual jam di Glodok.

Agaknya sudah menjadi semacam kebiasaan, peziarah yang merasa permohonannya terkabul memberikan sumbangan sebagai ungkapan rasa syukur. Bahkan rasa syukur itu acap diungkapkan juga melalui upacara slametan, istilah yang lazim di kalangan peziarah dan pengelola makam.

Bentuk upacara slametan ini — mungkin lebih pas disebut syukuran — memang tak beda dengan upacara kenduri biasa. Yang empunya hajat menyediakan besekan berisi nasi plus lauk-pauknya, bisa daging ayam atau kambing yang bisa dipesan di loket khusus, dengan harga tertentu per beseknya.

Lalu dimintakan doa kepada mudin di dalam pendopo makam persis tengah malam, sebelum disantap oleh masing-masing peziarah yang menyelenggarakan upacara slametan itu. Pada hari-hari keramat pak mudin bisa nyembayangin 3.000 buah besek!

Buat yang punya rezeki lebih, masih ada, sarana lain untuk mengungkapkan rasa syukurnya, yakni dengan menanggap wayang kulit. Empat buah gedung disediakan pihak pengelola makam, khusus untuk itu.

Tak heran jika pada satu ketika, orang menyaksikan tiga atau empat pertunjukan sekaligus, dengan dalang-dalang lokal. Untuk itu peziarah perlu merogoh koceknya lebih dalam untuk sekali pertunjukan.

Rambu-rambu lalu lintas

“HANYA ALLAH TUHAN YANG MAHA ESALAH YANG PATUT DISEMBAH. MOHONLAH KEPADA ALLAH TUHAN YANG MAHA ESA. NASIB SAUDARA DI TANGAN TUHAN YANG MAHA ESA”

Kehadiran papan besar bertuliskan kalimat-kalimat bernada peringatan yang terpancang di tepi jalan menuju kompleks makam itu ibarat sebuah rambu-rambu lalu lintas di tepi atau di sudut-sudut persimpangan jalan. Ia mudah sekali untuk dilanggar, dicuekin, diabaikan kehadirannya, ketika sang pengemudi lebih memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Padahal di balik itu sebenarnya keselamatan dirinya pun sedang ikut terancam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.