WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan segera mengendalikan kenaikan harga sejumlah komoditas sayuran melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menyusul lonjakan harga yang terjadi di sejumlah pasar, termasuk Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Timun, cabai rawit hijau, tomat, kembang kol hingga kacang panjang kompak mengalami lonjakan harga hingga Rp10.000 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut dikeluhkan pedagang maupun pembeli karena membuat daya beli masyarakat menurun. Sejumlah pedagang mengaku kesulitan menjual dagangannya lantaran konsumen memilih mengurangi jumlah belanja.
Berdasarkan pantauan Wartakotalive.com di Blok III Pasar Senen, Jumat (17/7/2026), timun menjadi komoditas yang mengalami kenaikan paling signifikan.
Harganya melonjak dari sekitar Rp15.000 menjadi Rp25.000 per kilogram.
Cabai rawit hijau juga naik dari Rp60.000 menjadi Rp70.000 per kilogram. Sementara harga tomat meningkat dari Rp15.000 menjadi Rp20.000 per kilogram.
Baca juga: DLH Bekasi Selidiki Dugaan Pencemaran Udara di Bantargebang
Kenaikan serupa terjadi pada kembang kol yang kini dijual Rp20.000 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp12.000 per kilogram. Adapun kacang panjang naik dari Rp15.000 menjadi Rp20.000 per kilogram.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga bawang putih kating justru turun dari Rp50.000 menjadi Rp45.000 per kilogram, sedangkan bawang putih bulat dijual sekitar Rp40.000 per kilogram.
Sementara itu, harga wortel saat ini berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Komoditas tersebut mulai mengalami penurunan harga setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp25.000 per kilogram.
Pramono mengatakan, meski saat ini terdapat kenaikan harga pada sejumlah komoditas, inflasi Jakarta hingga semester pertama 2026 masih menjadi yang terendah di Pulau Jawa.
"Hal yang berkaitan dengan inflasi, Jakarta ini di semester sampai dengan bulan Juni kemarin inflasinya itu terendah di seluruh Jawa. Dan kami akan mengontrol, TPID akan mengontrol mengenai kenaikan ini," kata Pramono saat ditemui di Balai Kota Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Ia menegaskan, Pemprov DKI akan segera mengecek penyebab kenaikan harga yang terjadi di lapangan agar dapat diambil langkah penanganan yang tepat.
"Karena yang dilihat spot pada hari ini, tentunya kami akan mengecek untuk itu. Tapi yang jelas bahwa Pemerintah DKI Jakarta segera akan menangani ini," ujarnya.
Pedagang sayur di Blok III Pasar Senen, Yani, mengatakan kenaikan harga mulai dirasakan sekitar satu minggu terakhir.
Menurutnya, hampir seluruh sayuran didatangkan dari luar kota sehingga pasokan sangat bergantung pada kondisi daerah penghasil.
"Yang naik itu wortel, tomat, timun, terus kacang panjang, buncis, oyong juga mulai naik," ujar Yani.
Ia mencontohkan harga timun yang biasanya dijual Rp15.000 per kilogram kini mencapai Rp25.000 per kilogram.
Sementara oyong yang sebelumnya dijual sekitar Rp18.000 per kilogram kini berada di kisaran Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram.
Menurut Yani, para pemasok menyebut musim kemarau menjadi penyebab utama kenaikan harga. Cuaca yang kering membuat hasil panen menurun bahkan sebagian gagal panen sehingga pasokan ke pasar berkurang.
"Katanya di daerah asal lagi musim kemarau. Panennya jadi gagal, makanya barang susah," ucap perempuan yang sudah berjualan 7 tahun itu.
Selain pasokan yang berkurang, biaya operasional juga ikut meningkat. Pedagang menyebut harga plastik kemasan mengalami kenaikan sehingga turut menambah beban biaya penjualan.
Yani mengaku kondisi tersebut berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Banyak pelanggan, terutama ibu rumah tangga, mengeluhkan harga yang semakin mahal.
"Sering bilang, 'Aduh Bu, sekarang mahal ya'. Mereka tetap belanja, tapi jumlahnya dikurangi. Biasanya beli satu kilo, sekarang beli seadanya saja," ucapnya.
Ia menambahkan sayuran merupakan komoditas yang tidak bisa disimpan terlalu lama sehingga pedagang juga harus berhati-hati dalam mengambil stok agar tidak mengalami kerugian.
Pedagang lainnya, Budi (45), juga merasakan hal serupa. Ia mengatakan kenaikan harga sudah berlangsung sekitar sepekan.
Menurutnya, musim kemarau menjadi faktor utama terganggunya pasokan dari daerah.
Budi yang mengambil barang dagangan dari Pasar Induk Kramat Jati mengaku penjualan ikut menurun karena banyak pembeli mengurangi belanja.
Kondisi tersebut juga bertepatan dengan kebutuhan rumah tangga yang meningkat saat memasuki tahun ajaran baru sekolah.
"Pembeli banyak yang ngeluh. Daya beli turun karena harga naik, apalagi sekarang anak-anak baru masuk sekolah," ujarnya.
Meski harga sejumlah komoditas naik, aktivitas perdagangan di Pasar Senen masih berlangsung normal. Sejak pagi, pembeli tetap memadati lorong-lorong pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Suasana tawar-menawar masih terlihat di hampir setiap lapak.
Di Blok III Pasar Senen sendiri, berbagai komoditas dijual mulai dari sayur-mayur, daging, ikan hingga kebutuhan pokok lainnya.
Salah seorang pembeli, Nena (32), mengaku harus mengurangi jumlah belanja sayur karena harga yang terus naik. Biasanya ia membeli wortel satu kilogram untuk kebutuhan memasak di rumah.
Namun kini, ia hanya mampu membeli setengah kilogram agar pengeluaran tetap sesuai anggaran.
"Anak saya suka wortel buat sop ayam. Biasanya beli satu kilo, sekarang jadi setengah kilo saja karena harganya naik. Sekarang sekitar Rp20.000 per kilogram," katanya.
Baik pedagang maupun pembeli berharap harga sayuran segera kembali stabil agar aktivitas jual beli kembali normal. Pedagang juga berharap pasokan dari daerah penghasil kembali lancar sehingga harga tidak terus melonjak dan masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. (m27)