Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktris Kirana Larasati membagikan kisah di balik keputusannya menghapus tato yang pernah menghiasi tubuhnya.
Proses yang dijalani ternyata tidak mudah karena membutuhkan waktu bertahun-tahun, biaya yang besar, serta rasa sakit yang luar biasa.
Kirana mengungkapkan menghilangkan tato justru jauh lebih rumit dibandingkan saat membuatnya.
Ia mengaku pernah memiliki delapan tato di tubuhnya. Kini, sebagian besar tato tersebut telah berhasil dihapus dan hanya menyisakan satu tato yang masih menjalani proses penghilangan karena warna tintanya lebih sulit dihilangkan.
Kirana menceritakan rasa sakit yang dirasakannya selama menjalani prosedur laser penghapusan tato.
Bahkan mengibaratkan sensasi yang dirasakan ketika laser mengenai kulit seperti disayat menggunakan pisau.
"Jangan tanya sakit enggak lasernya. Kayak disayat-sayat pakai pisau neraka," tulis Kirana Larasati dikutip dari Threads, Jumat (17/7/2026).
Rasa sakit yang dirasakan membuat Kirana harus menjalani sedasi atau pembiusan saat menghapus beberapa tato berukuran besar.
Prosedur tersebut tentu menambah biaya yang harus dikeluarkan.
Biaya sedasi disebut berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp8 juta dalam satu kali tindakan, tergantung rumah sakit atau klinik yang dipilih.
Baca juga: Tato Nama Anaknya di Jari Bravy, Erika Carlina: Lebih Besar Cintanya ke Andrew daripada ke Aku
Selain menyakitkan, pemain film Rumput Tetangga itu juga mengungkap biaya penghapusan tato jauh lebih mahal dibandingkan biaya pembuatannya.
Menurutnya, biaya menghapus tato bisa mencapai 40 hingga 50 kali lebih besar daripada biaya saat membuat tato tersebut.
Untuk satu kali sesi laser, ia mengaku harus menyiapkan dana setidaknya Rp25 juta.
Hingga saat ini, Kirana telah menjalani lima sesi laser di Jakarta dan tiga sesi lainnya di Korea Selatan untuk membantu proses penghapusan tato di tubuhnya.
"Mahal? 40-50 kali lebih mahal menghilangkannya. Lasernya berkali-kali. Dari mesin laser dengan teknik di Indonesia sampai di Korea," ungkapnya.
"Per sesi recovery-nya 10-15 hari. Beberapa dalam keadaan sadar dan menjerit menangis," kenangnya.
Kirana juga mengungkap alasan dirinya memutuskan membuat tato di masa lalu.
Saat itu, ia menganggap tato sebagai bagian dari identitas diri sekaligus simbol perjalanan hidup yang penuh pengalaman pahit.
Namun, seiring bertambahnya usia, pandangannya mengenai tato dan kehidupan pun berubah.
Ia pun teringat nasihat kedua orangtuanya yang pernah memperingatkan dirinya akan menyesali keputusan membuat tato suatu saat nanti.
"Sekarang pun masih berproses. Tapi arahnya sudah beda," pungkas Kirana. (*)