Spanyol Kembali Menemukan Identitas Sepak Bolanya di Piala Dunia, Tapi Apakah Gaya Mereka Membosankan?
Hendra Wijaya July 18, 2026 04:38 AM

Saat para pemain Spanyol melangkah ke lapangan di Dallas pada hari Selasa, motivasi mereka melampaui sekadar mencapai final Piala Dunia. Mereka ingin melakukannya dengan cara yang membuktikan sesuatu yang lebih besar—menyelesaikan perdebatan, bukan hanya memenangkan semifinal.

Spanyol sadar betul akan sorotan besar terhadap serangan Prancis, sampai-sampai sang juara Eropa kerap dianggap sebagai tim yang kurang berbahaya. Mereka tidak hanya ingin membuktikan diri lebih unggul, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka memiliki ide permainan yang lebih baik.

Kemenangan 2-0 Spanyol begitu mencolok karena mereka menegaskan superioritas itu dengan penuh keyakinan. Ungkapan itu bukan sekadar kiasan. Meski banyak yang gentar menghadapi lini depan Prancis yang menakutkan, tim asuhan Luis de la Fuente berani memainkan bola di area sempit dan tetap berpegang pada filosofi permainan mereka. Itu adalah keberanian dalam arti sebenarnya di dunia sepak bola. Lupakan sundulan besar di bawah tekanan—setiap umpan ke depan adalah pernyataan. Bagi Spanyol, setiap sentuhan bola menjadi simbol bahwa la seleccion telah kembali ke akar permainan mereka.

Gol kedua yang indah, diselesaikan melalui satu-dua menawan dari Pedro Porro, dianggap mencerminkan gerakan yang dulu menandai lahirnya dominasi Spanyol. Pada Oktober 2007, ketika tim Luis Aragones masih dibayangi keraguan setelah tersingkir di Piala Dunia 2006, mereka mulai menemukan ritme permainan dalam laga kualifikasi Euro 2008 melawan Denmark. Dari menit ke-39, rangkaian 28 umpan berujung pada Sergio Ramos yang dengan indah melambungkan bola melewati Thomas Sorensen. Sebuah ide permainan mulai terbentuk.

Itulah mengapa gol Porro kali ini dianggap sebagai penegasan kembali dari filosofi tersebut—diperbarui dan dimodernisasi. Unsur-unsur permainan mereka juga mengingatkan pada final Euro 2012, di mana tekad untuk membuktikan sesuatu begitu terasa. “Apakah kalian tidak terhibur?” mungkin itulah seruan Porro saat ia mengepalkan tinjunya. Karena yang dibangkitkan bukan hanya gaya bermain khas Spanyol, tetapi juga perdebatan panjang di sekitarnya.

Seperti di Piala Dunia 2010 dan terutama Euro 2012, muncul lagi keluhan bahwa permainan penguasaan bola mereka “membosankan”. Keluhan itu semakin kuat ketika dibandingkan dengan gaya ekspresif Prancis, yang justru menambah semangat Spanyol untuk tampil lebih tajam. Namun, realitasnya jauh lebih kompleks daripada sekadar reaksi emosional terhadap tontonan di lapangan.

Banyak kritik pada periode 2010–2012 yang terasa tidak adil, seolah hanya permainan Spanyol yang dievaluasi. Padahal, dinamika evolusi taktik juga memainkan peran besar. Tim juara Euro 2008 Spanyol dulu dipuji dengan cara yang sama seperti Prancis juara Euro 2024, karena lawan belum siap menghadapi mereka. Namun, pada 2010, segalanya berubah drastis setelah pendekatan Jose Mourinho di Inter Milan terhadap Barcelona asuhan Pep Guardiola. Jika Spanyol selalu menguasai bola, maka solusi lawan adalah menutup ruang di sekitar gawang. Mereka menghadapi pertahanan ekstrem seperti belum pernah ada sebelumnya. Bahkan Brasil 1970 pun mungkin akan kesulitan melawan sistem seperti ini.

Perubahan ini menimbulkan kecemasan di kubu Spanyol, terutama karena garis pertahanan tinggi mereka sering dimanfaatkan lawan melalui serangan balik cepat. Vicente del Bosque menanggapi hal itu dengan menurunkan Sergio Busquets dan Xabi Alonso sebagai poros ganda, serta mendorong Xavi dan Andres Iniesta lebih ke depan sambil mengorbankan pemain sayap. Spanyol tetap mendominasi bola, tetapi sering kali hanya berputar-putar tanpa hasil.

Sejak 2014, ketika generasi emas mulai kehilangan sentuhan ajaibnya, Spanyol menjadi terlalu kaku. Mereka begitu terobsesi menjaga penguasaan bola hingga kehilangan spontanitas. Ini mencapai titik terendah saat tersingkir oleh Rusia pada 2018 dan gagal memenangkan laga gugur Piala Dunia selama 16 tahun, sampai akhirnya mereka menyadari perlunya evolusi.

Luis Enrique memulai proses itu, namun menarik bahwa pelatih klub terbaik sekalipun tak mampu membawanya sampai tuntas. Pada 2022, ketika Spanyol tersingkir oleh Maroko, mereka kembali ke pola lama setelah kebebasan yang sempat muncul di Euro 2020. Pada akhirnya, Luis Enrique tidak seharmonis De la Fuente dalam memahami filosofi permainan ini.

De la Fuente telah bekerja dalam sistem sepak bola nasional sejak 2013, tahun yang sama ketika UEFA mengadakan kelompok studi dan banyak asosiasi lain meniru pendekatan Spanyol. Surat kabar olahraga AS menulis bagaimana pelatih senior Gines Melendez bersedia membagi hampir semua rahasia, kecuali “formula rahasia” yang ia simpan sebagai bentuk kehati-hatian.

Sebagian dari formula itu bukanlah rahasia, melainkan sesuatu yang sulit ditiru: budaya sepak bola jalanan di Spanyol yang menekankan permainan di ruang sempit. Sejak Olimpiade Barcelona 1992, sistem ini diinstitusikan dalam infrastruktur sepak bola negara tersebut. Generasi demi generasi pemain tumbuh dengan teknik luar biasa yang kemudian dipoles dengan pelatihan terbaik.

Inilah yang kini dimanfaatkan De la Fuente—sebuah filosofi yang semakin mendarah daging. Tentu, keberadaan Nico Williams dan Lamine Yamal membantu, tetapi yang lebih penting, ia mengenal mereka dengan baik. De la Fuente telah melatih hampir semua pemain ini di berbagai level usia. Tujuh pemain di skuad saat ini bermain di final Olimpiade 2020 (yang digelar pada 2021) di bawah asuhannya. Pemahaman mendalam itu memperkuat efektivitas pendekatannya.

Kedekatan itu sangat penting pada awal Piala Dunia ini, terutama setelah Williams mengalami cedera di tengah banyaknya masalah kebugaran di lini depan. Spanyol kehilangan daya vertikalnya. Dalam hasil imbang 0-0 melawan Tanjung Verde, mereka tampak seperti akan mengulang masalah dari turnamen-turnamen sebelumnya. Namun De la Fuente kembali ke filosofi dasar, dan dengan pemahamannya, ia berhasil membawanya ke level yang lebih tinggi.

Rodri menjadi simbol dari pendekatan ini. Tim lawan yang tidak mampu meniru gaya bermain Spanyol terpaksa bertahan sangat dalam. Jadi, masalahnya bukan tentang Spanyol yang “membosankan”, tetapi tentang eksekusi teknis sempurna melawan respons yang kurang ideal. Prancis berisiko ketika mencoba menekan ke depan, sementara Spanyol tidak akan hanya mengumpan ke samping—mereka akan menembus Anda.

Para pengamat pengembangan sepak bola Eropa menambahkan bahwa talenta dan pelatihan Spanyol juga terus berevolusi. Mereka kagum melihat kenyamanan pemain muda dalam ruang sempit—seperti saat melawan Prancis—serta peningkatan dalam sentuhan dan pengambilan keputusan. Hanya sedikit negara yang bisa menghasilkan pemain seperti ini, seperti yang dialami Thomas Tuchel, namun Spanyol kini memproduksi seluruh skuad dengan kualitas tersebut. Mereka baru saja menjuarai Euro U-19. Tuchel mungkin berharap bisa “bosan” dengan cara seperti ini.

Menariknya, Argentina di final nanti memiliki pendekatan yang bisa menandingi Spanyol. Lionel Scaloni telah menghidupkan kembali konsep “la nuestra”, gaya khas Argentina yang menekankan umpan-umpan pendek. Pertanyaan besarnya adalah apakah Scaloni akan menantang Spanyol dengan gaya itu, atau memilih bertahan dan bertarung, sesuatu yang Argentina lakukan lebih baik dari siapa pun.

Spanyol memiliki kemampuan untuk membuat sang juara dunia frustrasi dan bahkan menambah tekanan. Pendekatan mereka memberi peluang terbaik untuk menang, meski tidak menjamin hasil. Mereka mungkin unggul secara teknis, tetapi tetap memiliki sisi lemah yang bisa dimanfaatkan. Untuk menembusnya, Spanyol harus tampil paling berani dan percaya diri. Karena bagaimanapun, sebuah ide tetap membutuhkan bentuk nyata—dan tak ada panggung yang lebih besar dari Piala Dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.