SERAMBINEWS.COM – Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) mengungkap gambaran mengerikan tentang kondisi pasukan Rusia di medan perang Ukraina. Menurut CIA, Rusia kini kehilangan hingga 7.000 tentara setiap pekan, baik tewas maupun terluka, akibat serangan drone canggih milik Ukraina.
Direktur CIA John Ratcliffe, saat berbicara dalam Defence and Innovation Summit di Pennsylvania, menyebut perkembangan teknologi drone telah mengubah wajah peperangan modern.
"Rata-rata harapan hidup seorang rekrutan Rusia yang baru tiba di medan perang Ukraina diperkirakan hanya 20 hingga 30 menit," kata Ratcliffe.
Ia menjelaskan, drone yang didukung kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi mesin pembunuh berbiaya rendah yang sangat efektif menghancurkan target di garis depan.
Baca juga: 50.000 Tentara Rusia dan Korut Serbu Ukaraina dalam Misi Merebut Kembali Wilayah Kursk
Jika angka tersebut terus berlanjut, Rusia diperkirakan akan kehilangan sekitar 364.000 personel dalam setahun.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebelumnya juga mengklaim lebih dari 80 persen target militer Rusia yang dihancurkan pasukannya berasal dari serangan drone.
Lembaga Centre for Strategic & International Studies (CSIS) memperkirakan sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai pada awal 2022, sekitar dua juta tentara dari kedua belah pihak telah tewas, terluka, atau dinyatakan hilang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1,4 juta merupakan personel Rusia. Namun, baik Moskow maupun Kyiv hingga kini tidak merilis data resmi mengenai jumlah korban militer mereka.
Meski memiliki keunggulan jumlah pasukan, Rusia dilaporkan masih kesulitan menembus pertahanan Ukraina di sepanjang garis depan sepanjang sekitar 1.200 kilometer.
Salah satu pertempuran paling sengit kini berlangsung di Kostiantynivka, wilayah Donetsk, yang menjadi bagian dari sabuk pertahanan utama Ukraina.
Di sisi lain, Ukraina terus meningkatkan serangan jarak jauhnya ke wilayah Rusia dengan menyasar infrastruktur energi yang menjadi sumber pendanaan utama perang Kremlin.
Sejumlah kilang minyak strategis dilaporkan terkena serangan drone, di antaranya:
Laporan dari sejumlah kanal Telegram menyebut aparat Rusia mulai melakukan perekrutan secara agresif di Kota Penza, sekitar 560 kilometer dari Moskow.
Warga mengaku melihat petugas perekrut yang didampingi pria bertopeng menyisir kota untuk mencari calon wajib militer. Beberapa laporan yang belum dapat diverifikasi menyebut target perekrutan mencapai ratusan orang setiap hari.
Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa Presiden Vladimir Putin dapat mempertimbangkan mobilisasi militer berskala besar.
Namun langkah tersebut dinilai berisiko. Mobilisasi pertama pada September 2022 memicu eksodus sekitar 700.000 warga Rusia, termasuk lebih dari 100.000 tenaga ahli teknologi informasi (IT), menurut laporan Forbes.
Pejabat Barat juga mengklaim Rusia kini mengalami sekitar 40.000 korban setiap bulan, sementara jumlah rekrutmen baru hanya sekitar 35.000 orang.
Sejumlah laporan menyebut militer Rusia kini semakin mengandalkan perekrutan dari wilayah miskin, kelompok minoritas, tunawisma, hingga narapidana untuk mengisi kekurangan personel di medan perang. (*)