TRIBUNNEWS.COM - Bentrokan antarkelompok warga masih menjadi persoalan yang kerap muncul di sejumlah daerah di Indonesia.
Kali ini, konflik terjadi di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan menyebabkan jatuhnya korban serta memicu kekhawatiran masyarakat.
Insiden itu langsung mendapat respons dari aparat keamanan yang diterjunkan ke lokasi untuk menghentikan aksi saling serang.
Langkah pengamanan dilakukan agar konflik tidak meluas ke wilayah lain.
Hingga kini, polisi masih mendalami kronologi bentrokan di Adonara.
Masyarakat juga diminta menahan diri dan tidak mudah terprovokasi demi menjaga situasi tetap aman.
Selengkapnya, berikut fakta-fakta bentrok di Adonara, Flores Timur, NTT, yang dirangkum dari TribunFlores.com, Minggu (19/7/2026).
Baca juga: Bentrok 2 Kader Golkar di DPRD Riau Berujung Security Terluka, Polisi Lakukan Penyelidikan
Konflik ini diketahui melibatkan Desa Waiburak dan Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, yang berada di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pulau Adonara memiliki delapan kecamatan yang tersebar di wilayah seluas 529,8 kilometer persegi (km⊃2;).
Hingga kini, kronologi pasti bentrokan yang terjadi pada Sabtu (18/7/2026) pagi masih belum diketahui.
Namun, pagi yang biasanya tenang tiba-tiba berubah mencekam saat terdengar suara ledakan yang diduga berasal dari bom rakitan di kawasan Dusun Bele, Desa Waiburak.
Tidak lama kemudian, warga dari kedua desa terlibat saling serang menggunakan senjata tajam dan senjata api rakitan.
"Suasana mencekam karena sudah ada korban dari kedua belah pihak," ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Korban mulai berjatuhan tidak lama setelah bentrokan pecah.
Korban pertama diketahui bernama Nayamudin Iskandar (21), warga Desa Waiburak, yang ditemukan tergeletak di jalan desa.
Ia menderita luka tembak di bagian dada kiri.
Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Ile Boleng, namun tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.
"Pria berusia 21 tahun meninggal karena luka tembak di dada kiri yang mengenai jantung. Pasien datang pukul 07.10 WITA dan dinyatakan meninggal pukul 07.22 WITA," kata Kepala Puskesmas Ile Boleng, Stefanus Ola Bura.
Ada dua korban luka lainnya, masing-masing bernama Purnama BL (19) dan Siti Soleha (63) yang terkena tembakan.
Baca juga: Korban Tewas Akibat Bentrokan di Adonara NTT Bertambah Jadi Tiga, Mediasi Damai Terus Diupayakan
Keduanya telah dibawa ke RSUD Lewoleba dan RSUD Larantuka untuk perawatan lebih lanjut.
Sementara itu, Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli melaporkan sudah ada tiga korban tewas dalam kejadian ini.
Oleh karena itu, ia akan segera turun tangan untuk mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik.
"Korban tiga orang. Fokus hari ini untuk korban yang meninggal. Mediasi damai tetap kita lakukan tanpa lelah," tegasnya.
Komandan Kompi 1 Batalyon B Pelopor Satuan Brimob Polda NTT, AKP Charles Marion Bere melalui Wadanki 4 Batalyon B Pelopor Brimob Polda NTT Iptu Simon Hedo menjelaskan pemicu bentrokan tersebut.
Ia mengatakan konflik tersebut merupakan permasalahan lama yang kembali memanas.
Pemicunya adalah sengketa tanah ulayat, yakni bidang tanah yang dimiliki, dikuasai, dan dikelola secara komunal oleh masyarakat hukum adat berdasarkan norma turun-temurun.
Dalam sengketa tersebut, warga Desa Waiburak dan Narasaosina saling mengklaim kepemilikan lahan.
"Konflik sudah terjadi untuk kedua kalinya. Yang pertama pada Maret 2026 dan sekarang kembali pecah. Permasalahan utamanya adalah sengketa tanah ulayat," kata Iptu Simon.
Untuk mencegah konflik meluas, personel gabungan telah diterjunkan.
Termasuk 32 personel Brimob Kompi 4 Batalyon B Pelopor dari Maumere ke Pulau Adonara.
Baca juga: Bawa Celurit dan Petasan untuk Tawuran, 4 Remaja di Cengkareng Jakbar Ditangkap Brimob
Pada Senin (11/5/2026), dua kepala desa menggelar pertemuan yang dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala Desa Waiburak dan Kepala Desa Narasaosina menyatakan sepakat untuk menyelesaikan konflik melalui jalur damai.
Wakil Bupati menegaskan hasil kesepakatan tersebut harus segera disampaikan kepada masyarakat. Selanjutnya, pemerintah daerah akan menggelar pertemuan bersama tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama untuk membahas akar persoalan.
"Niat baik ini harus segera disampaikan kepada masyarakat. Nanti kita duduk bersama dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama untuk membicarakan persoalan utama," ujarnya.
Kepala Desa Waiburak, Muhammad Saleh, mengatakan pihaknya siap menjalankan arahan pemerintah daerah dan akan mengimbau masyarakat agar tetap tenang melalui forum musyawarah desa.
"Harapan kami, semua persoalan dibicarakan bersama. Kami akan menyampaikan penegasan dari Pak Wakil Bupati kepada masyarakat agar bersama-sama mendukung penyelesaian yang baik," katanya.
Senada dengan itu, Kepala Desa Narasaosina, Yandris Tolan, menyatakan komitmennya menjaga situasi tetap kondusif sembari menunggu proses penyelesaian yang difasilitasi pemerintah daerah.
"Kami mengamini arahan dari Wakil Bupati dan aparat keamanan. Kami akan memastikan dialog segera dilaksanakan agar persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik," ujarnya.
Selain kesepakatan damai, warga dari kedua desa juga menyerahkan ratusan senjata tajam dan senjata api rakitan sebagai komitmen bersama mengakhiri konflik.
Perlu diketahui, pada bentrokan Mei 2026, lima orang terluka dan 12 bangunan terbakar.
Bangunan yang rusak berat terdiri atas 10 rumah warga, satu apotek, dan satu kios.
(Tribunnews.com/Endra)(Tribunflores.com/Arnol Welianto)