TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebagian besar perjalanan kariernya di Badan Pusat Statistik (BPS), ia habiskan di Jakarta.
Baru setahun terakhir ini ia bertugas di Gorontalo, lalu ke Sulawesi Utara.
Bertugas di Provinsi Sulawesi Utara sejak April 2026, Watekhi langsung dihadapkan dengan program utama Badan Pusat Statistik (BPS), yakni Sensus Ekonomi 2026.
Baca juga: Sensus Ekonomi 2026 Mulai Berjalan, Kepala BPS Sulut Ingatkan Warga Jangan Tolak Petugas Lapangan
Bersama jajaran BPS hingga tingkat kota dan kabupaten, pria asal Tegal, Jawa Tengah, ini berkoordinasi dengan banyak pihak, terutama pemerintah daerah, agar program ini terlaksana dan berkualitas.
Berbincang dalam wawancara eksklusif di studio podcast Tribun Manado, Rabu (8/7/2026), Watekhi mengulas tentang Sensus Ekonomi 2026 yang sementara berlangsung.
Selain itu, ia juga bercerita tentang perjalanan hidup dan kariernya, serta pesan-pesan penting yang menjadi pijakan hidupnya.
Berikut petikan wawancara Kepala BPS Provinsi Sulawesi Utara Watekhi bersama jurnalis Tribun Manado Maximus Geneva yang selengkapnya dapat disimak di Facebook Tribun Manado atau Youtube Tribunnews Manado:
Sebelum bertugas di Sulawesi Utara, Bapak bertugas di mana?
Saya bekerja di Badan Pusat Statistik itu sudah 31 tahun.
Setelah 30 tahun di Jakarta kemudian pimpinan menugaskan saya menjadi Kepala BPS Provinsi Gorontalo per 20 Januari 2026.
Itu 3 bulan, lalu April saya ditugaskan di Provinsi Sulawesi Utara.
Bisa diceritakan masa kecil Bapak?
Saya asli orang Jawa, lahir di Jawa Tengah, di Tegal. He Tegal. Sekolah sampai SMA di sana.
Kenapa akhirnya saya saya kerja di statistik, waktu saya SD, saya dikasih tahu bahwa Bapak saya itu dulu lulus SR namanya, Sekolah Rakyat.
Oleh Jepang, beliau disuruh ngajar matematika.
Waktu itu kan zaman Jepang, masih pakai baju karung namanya karung goni.
Sehingga bapak saya mundur karena berpikir dari dagang bisa mendapatkan lebih daripada mengajar.
Akhirnya bapak mundur dari guru.
Tapi saya terinspirasi dari bapak, bahwa saya harus jadi ahli matematika.
Dan itu tercapai sampai sekarang karena banyak ikut lomba, juara matematika, SMP, SMA, juga jurusannya memenuhi saya bisa masuk ke sekolahnya BPS.
Dulu namanya Akademi Statistik.
Jadi kuliah di Jakarta, kemudian sampai sekarang di Jakarta.
Lama tuh makanya saya rumah di Jakarta.
Sekolah statistisi itu lama ya Pak?
Dulu masih D3 Akademi Ilmu Statistik, kemudian ditempatkan karena itu ikatan dinas.
Saya ditempatkan di Jakarta.
Berikutnya, saya kuliah statistik di Universitas Terbuka (UT).
Saya kemudian dapat tugas belajar S1 di ITS Surabaya.
Kemudian setelah itu dapat tugas belajar juga S2, ilmu ekonomi di UI (Universitas Indonesia).
S3-nya juga ilmu ekonomi di UI. Ini tugas belajar semua.
Saya enggak ada biaya sendiri.
Karena pemerintah mampu dan kita harus bisa, saya yakin semuanya bisa asal selalu kerja keras.
Apa tantangan bekerja sebagai statistisi?
Tantangan utama kami sebenarnya adalah meng-komunikasikan data kepada masyarakat.
Statistik itu kan ruwet ya.
Nah, kalau kita bisa meng-komunikasikan itu dengan baik kepada masyarakat, masyarakat juga akan senang.
Semua kebijakan terkait pemerintah berdasarkan statistik.
Misalnya tentang inflasi dikatakan meningkat.
Nah, kalau hanya meningkat saja kan susah tuh orang menerjemahkannya.
Apa sih yang membuat meningkat?
Misalnya di Sulawesi Utara kebanyakan harga cabai meningkat kan.
Nah, komunikasi itu yang mungkin kita perlu kepada masyarakat.
Nah, bagaimana angka inflasi itu diterjemahkan misalnya melihat distribusi, stok agar harganya bisa stabil.
Itu sebenarnya menarik.
Tidak hanya data-data tapi memang benar-benar real menjadi sebuah kebijakan di masyarakat.
Itu yang menariknya meng-komunikasikan data itu dan itu enggak mudah.
Prinsip apa yang kuat tertanam yang diwariskan oleh orang tua?
Saya ingat banget, karena saya muslim, itu orang tua saya setiap malam bangun mendoakan anak-anaknya.
Itu yang menjadi pengingat bahwa kita harus kerja keras.
Kalau kerja keras pasti akan bisa berhasil.
Dan untuk bisa berhasil, kata orang tua saya,
"Kamu harus berbuat baik-baik kepada semua orang. Harus berbuat baik." Itu ditanamkan.
Dan itu saya kemas dengan bahasa integritas.
Saya membaca buku Mere Christianity, itu berbuat baik walaupun tidak ada yang melihat.
Luar biasa itu.
Tidak ada kesempatan untuk kita berbuat tidak baik.
Berprasangka positif itu penting.
Kita bergaul dengan semua orang, dengan semua kalangan.
Jangan hanya yang setingkat saja.
Itu penting karena kebaikan-kebaikan itu akan akan datang ketika kita berbuat baik dulu.
Itu yang saya dapat dari bapak saya.
Apa kesan pertama saat bertugas di Manado?
Yang pertama lingkup BPS dulu ya.
Saya optimis bahwa BPS Provinsi Sulawesi itu akan maju.
Kenapa? Ya modal awalnya saya melihat budaya kerjanya sudah bagus.
Kemudian eksternal, saya lihat orang Manado ramah-ramah.
Saya senang.
Sebagai orang Jawa, saya cocok dengan Manado.
Seperti kolaborasi, alhamdulillah tuh saya bisa masuk Pak Gubernur dengan baik, ditolong oleh banyak orang seperti acara pencanangan kemarin, itu kan kolaborasi luar biasa.
Kulinernya bagaimana, apakah sudah mencoba yang sebelumnya belum dirasakan?
Mungkin di Sulawesi Utara ini, yang jelas rahang tuna ya.
Rahang tuna itu kan kalau di Jakarta luar biasa susah tuh mendapatkan.
Susah dan mahal.
Kalau sini alhamdulillah, memang banyak sih.
Yang penting tidak pedas, saya cocok semua.
Waduh, di sini pedas-pedas.
Sekarang Bapak sibuk meng-koordinasikan Sensus Ekonomi 2026, tapi juga harus menjaga kebugaran dan kesehatan.
Bagaimana Bapak menjaga keseimbangan itu?
Ini penting, keseimbangan.
Saya baca buku tentang 12 Rules for Life, 12 pedoman hidup, itu di antaranya ada disiplin.
Orang itu kalau mau berhasil harus disiplin.
Disiplinnya tidak sekadar ee bekerja dan sebagainya.
Disiplin mulai dari bangun pagi, ibadah.
Setelah itu saya biasakan jalan kaki.
Walaupun di depan rumah tapi langkahnya 6 ribu gitu kan.
Setengah jam lah.
Kemudian jangan lupa juga kita tuh bekerja, tapi jangan lupa yang menentukan hidup itu adalah Tuhan.
Disiplin ibadah.
Kemudian sempatkan juga baca buku walaupun sedikit.
Saya hobi baca buku dari kecil.
Saya kan memang aslinya pengajar, dosen.
Saya coba baca buku walaupun 5 menit karena itu bagian meningkatkan kompetensi kita.
Karena kalau kita enggak baca buku, maka kita akan stagnan di situ aja. (gry/max)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini