Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Pantai Selatan Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (18/7/2026) sekitar pukul 15.11.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M4.8 pada kedalaman 52 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 7,74° LS; 106,44° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 79 Km arah barat daya Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ujar Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/7/2026)
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, kata dia, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas deformasi batuan di dasar laut.
Baca juga: Igor Tolic Pastikan Beri Kesempatan Seluruh Pemain Mendapat Menit Bermain di Piala Presiden
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser-naik oblique thrust fault," katanya.
Ia mengatakan, berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas III MMI. Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela atau pintu berderik, dan dinding berbunyi.
Kondisi itu dirasakan di Cikotok, Kalapanunggal, Cidolog, Cisaat, Simpenan, Kota Sukabumi, Nagrak, Panggarangan, Cimahi, Banjaran, Lembang, Parongpong, Cililin, Sariwangi, Katapang, Bandung, Cianjur, Ciwidey, Ciawi, Cikole dan Pelabuhan Ratu.
"II MMI getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu di Soreang, Ciracap dan Bogor," ucap Wijayanto.
Hingga pukul 15:40 WIB, kata dia, hasil monitoring BMKG menunjukkan belum adanya aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.
"BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat," katanya.
Dengan adanya kejadian ini, dia mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, kemudian menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi.
"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi seperti media sosial @infoBMKG, website www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id, dan Mobile Apps infobmkg atau wrs-bmkg," ujar Wijayanto. (*)