Tragedi Mematikan Sepekan di Pelalawan, Dua Orang Tewas Diterkam Harimau Sumatera
Muhammad Ridho July 19, 2026 09:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di Kabupaten Pelalawan, Riau, memakan dua korban jiwa hanya dalam rentang waktu sepekan. 

Seorang anak berusia 12 tahun dan seorang pekerja perusahaan tewas dalam dua serangan terpisah yang diduga dilakukan Harimau Sumatera di kawasan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau kini memperkuat operasi mitigasi sekaligus memburu keberadaan harimau yang diduga menjadi pelaku serangan. 

Petugas juga masih mendalami apakah dua insiden maut tersebut dilakukan oleh individu harimau yang sama.

Korban pertama adalah Jerlin Zalukhu (12), yang tewas diserang Harimau Sumatera pada Selasa (7/7/2026) sekitar pukul 04.30 WIB.

Saat kejadian, korban berada di luar kamar mandi camp pekerja. 

Hasil pemeriksaan di lapangan menemukan pagar pelindung bagian belakang camp dalam kondisi rusak dan terbuka. Korban ditemukan sekitar 10 meter di belakang camp dengan luka gigitan pada leher kiri dan kanan.

Belum genap sepekan, serangan kembali terjadi.

Kali ini menewaskan seorang pekerja bernama Eko Prastio (29), Jumat (10/7/2026).

Baca juga: Harimau Terkam 2 Pekerja HTI di Pelalawan, Tokoh Masyarakat Sebut Ada Pantangan Dilanggar

Eko terakhir terlihat sekitar pukul 19.15 WIB saat berpamitan kepada rekan sekamarnya untuk mencari sinyal telepon guna mengirim informasi pekerjaan melalui grup WhatsApp.

Namun hingga tengah malam ia tak kunjung kembali ke mess.

Rekan kerja bersama petugas keamanan kemudian melakukan pencarian dan menemukan sandal, headset, ceceran darah, serta bekas seretan yang mengarah ke semak. Jejak Harimau Sumatera juga ditemukan di sekitar lokasi.

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau yang sejak awal masih bersiaga di lokasi langsung bergabung melakukan pencarian menggunakan drone thermal dan lampu halogen hingga radius sekitar tiga kilometer.

Korban akhirnya ditemukan pada Sabtu (11/7/2026) sekitar pukul 06.03 WIB dalam kondisi meninggal dunia di dalam semak, sekitar 650 meter dari lokasi terakhir ia diketahui berada.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono mengatakan, pihaknya langsung memperkuat penanganan setelah serangan kedua terjadi. 

Salah satu fokus utama saat ini adalah memastikan apakah harimau yang menyerang kedua korban merupakan individu yang sama.

"Tim BBKSDA Riau masih berada di lapangan sejak kejadian pertama pada 7 Juli. Setelah kembali terjadi serangan yang menewaskan seorang pekerja, kami langsung memperkuat upaya penanganan, termasuk menganalisis apakah harimau yang terlibat merupakan individu yang sama dengan kejadian sebelumnya. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas, namun penanganan tetap dilakukan secara terukur dengan memperhatikan pelestarian Harimau Sumatera sebagai satwa yang dilindungi," ujar Supartono.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara pada dua lokasi, petugas menemukan jejak Harimau Sumatera berukuran sekitar 16 sentimeter x 15 sentimeter dengan jarak langkah sekitar 120 sentimeter.

BBKSDA Riau kemudian memasang sejumlah kamera jebak (camera trap), melakukan patroli intensif siang dan malam, serta menerbangkan drone thermal untuk memantau pergerakan satwa.

Hasil pemantauan menunjukkan Harimau Sumatera masih berada di sekitar lokasi kejadian pertama. 

Berdasarkan analisis petugas, kondisi itu diduga dipengaruhi keberadaan satwa mangsa yang dipelihara di dalam camp pekerja sehingga menarik harimau bertahan di kawasan tersebut.

Sebagai langkah mitigasi, satwa mangsa tersebut telah diamankan untuk menghilangkan faktor pemicu kedatangan harimau ke area camp.

Selain itu, BBKSDA Riau juga telah memasang box trap atau kandang jebak di sekitar lokasi konflik sebagai bagian dari upaya penanganan lanjutan.

Lokasi serangan kedua diketahui berjarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi tewasnya Jerlin Zalukhu, sehingga memperkuat dugaan adanya aktivitas Harimau Sumatera di kawasan tersebut.

Supartono menegaskan, penanganan akan terus dilakukan bersama perusahaan dan pihak terkait dengan mengedepankan keselamatan masyarakat tanpa mengabaikan upaya pelestarian Harimau Sumatera sebagai satwa yang dilindungi.

"Tim terus melakukan pemantauan dan patroli untuk mengawasi pergerakan Harimau Sumatera sekaligus menentukan langkah penanganan berikutnya berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan," katanya.

BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat dan para pekerja yang beraktivitas di sekitar habitat Harimau Sumatera agar meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas seorang diri terutama pada malam hingga dini hari, memastikan sistem pengamanan camp dalam kondisi baik, serta segera melapor kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa liar di sekitar lokasi.

(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.