SRIPOKU.COM – Piala Dunia 2026 resmi berakhir. Setelah menyajikan 104 pertandingan sejak 12 Juni hingga 19 Juli, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu akhirnya melahirkan juara baru, yakni Spanyol, yang tampil nyaris tanpa cela sepanjang kompetisi.
La Furia Roja sukses mengakhiri penantian 16 tahun untuk kembali mengangkat trofi Piala Dunia setelah terakhir kali menjadi kampiun pada 2010. Keberhasilan ini sekaligus melanjutkan era keemasan Spanyol usai menjuarai Piala Eropa 2024.
Namun, bagi pengamat sepak bola Sumatera Selatan, HM Masyaheril, gelar juara tersebut bukan sekadar hasil keberuntungan.
Menurutnya, Spanyol layak disebut sebagai tim paling sempurna sepanjang Piala Dunia 2026.
"Bukan hanya mengulang prestasi bergengsi, Spanyol juga membuktikan diri sebagai tim yang paling mendekati kata sempurna. Hanya gawang Tanjung Verde yang gagal dijebol para penggawa Spanyol pada pertandingan pertama mereka. Sepanjang turnamen, hanya Charles De Ketelaere dari Belgia yang mampu membobol gawang Unai Simon," ujar HM Masyaheril kepada Sripoku.com, Senin (20/7/2026).
Jalur Neraka, Spanyol Tetap Berdiri Tegak
Perjalanan Spanyol menuju tangga juara jauh dari kata mudah. Sejak memasuki fase gugur, satu per satu tim kuat berhasil mereka singkirkan.
Austria dibekuk 3-0 di babak 32 besar, disusul Portugal yang menjadi salah satu favorit juara dengan skor tipis 1-0 pada babak 16 besar.
Di perempat final, Belgia sempat memberikan perlawanan sengit. Namun mental juara membuat Spanyol bangkit dan menang 2-1.
Ujian terbesar datang di semifinal saat menghadapi Prancis.
Saat itu, Les Bleus datang dengan status tim paling produktif berkat torehan 16 gol dalam enam pertandingan dan baru kebobolan dua kali.
Ditambah lagi, Prancis diperkuat dua predator gol, Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele, serta raja assist turnamen Michael Olise.
Namun, semua keunggulan itu runtuh. Spanyol tampil disiplin, sabar, dan kolektif hingga menang meyakinkan 2-0 tanpa kebobolan.
Final, Messi Dibuat Tak Berkutik
Di partai puncak, tantangan yang dihadapi Spanyol jauh lebih besar.
Mereka harus menghadapi juara bertahan Argentina yang masih dipimpin Lionel Messi.
Tim Tango datang dengan modal 19 gol sepanjang turnamen dan diyakini banyak pihak mampu mempertahankan gelar.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Spanyol tampil mendominasi sejak menit pertama.
Bahkan statistik pertandingan menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok.
Argentina hanya mampu melepaskan tiga tembakan sepanjang laga, dengan tembakan pertama baru tercipta pada menit ke-116.
Lebih mengejutkan lagi, tidak satu pun dari tiga tembakan tersebut mengarah ke gawang.
Sebaliknya, Spanyol mencatatkan 20 tembakan, 11 di antaranya tepat sasaran.
Artinya, penjaga gawang Spanyol, Unai Simon, nyaris tanpa pekerjaan sepanjang pertandingan.
Gol kemenangan akhirnya lahir pada menit ke-116 lewat Ferran Torres yang memanfaatkan assist Nico Williams.
"Spanyol baru mampu mengonversi peluang menjadi gol pada awal babak kedua perpanjangan waktu melalui Ferran Torres setelah menerima assist dari Nico Williams," ujar Ketua Umum Pertama Sriwijaya Mania.
Argentina Kehilangan Kendali
Dominasi Spanyol juga membuat Argentina kehilangan kontrol permainan.
Enzo Fernandez menerima kartu merah setelah melakukan pelanggaran keras terhadap Pau Cubarsi pada menit 90+2.
Kericuhan bahkan berlanjut seusai pertandingan.
Leandro Paredes tertangkap mendorong sekaligus mencekik Eric Garcia.
Gavi yang berusaha melerai justru ikut diserang hingga terjatuh.
Wasit Slavko Vincic akhirnya mengeluarkan kartu merah untuk Paredes meski laga telah usai.
Pemain Argentina itu kini terancam mendapat hukuman tambahan dari FIFA.
Mbappe Pecahkan Rekor Messi
Meski gagal membawa Prancis menjadi juara, Kylian Mbappe tetap menorehkan sejarah.
Striker Prancis itu menyabet Golden Boot setelah mencetak 10 gol.
Tak hanya itu, Mbappe kini resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan koleksi 22 gol, melewati rekor Lionel Messi yang menutup karier Piala Dunia dengan 21 gol.
Penghargaan Fair Play Jadi Sorotan
Di balik sukses penyelenggaraan Piala Dunia 2026, masih ada keputusan FIFA yang menuai kritik.
HM Masyaheril mempertanyakan penghargaan Fair Play Team yang diberikan kepada Belanda.
Menurutnya, penghargaan tersebut kurang tepat karena Belanda hanya memainkan empat pertandingan sebelum tersingkir di babak 32 besar oleh Maroko.
"Penghargaan Fair Play Team lebih layak diberikan kepada tim yang minimal mencapai perempat final atau semifinal, seperti Maroko, Belgia, Portugal, Inggris, maupun Prancis," katanya.
Daftar Peraih Penghargaan Piala Dunia 2026
Golden Ball (Pemain Terbaik): Rodri (Spanyol)
Golden Glove (Kiper Terbaik): Unai Simon (Spanyol)
Young Player Award: Pau Cubarsi (Spanyol)
Top Assist: Michael Olise (Prancis) – 7 assist
Golden Boot: Kylian Mbappe (Prancis) – 10 gol
Piala Dunia 2026 pun resmi menjadi sejarah. Turnamen berikutnya akan digelar pada 2030 sebagai edisi spesial peringatan 100 tahun Piala Dunia, dengan tuan rumah lintas benua, yakni Maroko, Portugal, Spanyol, Uruguay, Argentina, dan Paraguay.