BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan memastikan kesiapsiagaan personel dan armada dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah ancaman cuaca ekstrem dan fenomena El Nino.
Kesiapan itu dilakukan seiring masih tingginya jumlah kejadian kebakaran yang didominasi karhutla sepanjang tahun 2026. Masyarakat juga diminta segera melaporkan setiap kemunculan titik api agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Bangka Selatan, Wardi berujar hingga saat ini pihaknya masih memiliki empat armada yang siap dioperasikan, terdiri dari tiga unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit truk tangki air.
Seluruh personel juga disiagakan di pos untuk merespons laporan masyarakat selama 24 jam. Kesiapan armada dan petugas menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.
“Alhamdulillah kita masih punya tiga kendaraan pemadam yang aktif dan satu truk tangki air, sementara personel sampai saat ini tetap standby (Siaga-Red) di pos,” kata dia kepada Bangkapos.com, Senin (20/7/2026).
Wardi mewanti-wanti masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama saat cuaca panas dan angin kencang. Warga diminta segera melaporkan apabila melihat titik api agar tidak meluas menjadi kebakaran besar.
Untuk mempermudah pelaporan, Damkar Bangka Selatan membuka layanan melalui nomor call center 0812-7832-3970 dan 0812-7102-9510.
Menurutnya, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka karhutla. Karena itu, masyarakat dilarang membakar hutan maupun lahan dalam bentuk apa pun, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan tidak meninggalkan api menyala di kawasan hutan atau lahan. Ia juga mengajak masyarakat menggunakan metode yang lebih ramah lingkungan saat membuka lahan.
“Kami mengimbau masyarakat agar segera melaporkan apabila melihat titik api ke Damkar Bangka Selatan,” sebut Wardi.
Selain berisiko pidana, kebakaran hutan dan lahan juga menimbulkan dampak serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Kebakaran menyebabkan kerusakan ekosistem, sementara asap yang ditimbulkan dapat mengganggu pernapasan dan aktivitas masyarakat.
Sepanjang Januari hingga pertengahan Juli 2026, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar 20 hingga 30 hektare.
Data Satpol PP dan Pemadam Kebakaran mencatat sejak Januari hingga Juli 2026 petugas telah menangani 38 kejadian. Sebanyak 31 kejadian merupakan kebakaran, sedangkan tujuh lainnya merupakan penanganan non-kebakaran berupa kebocoran tabung gas maupun regulator LPG.
Dari seluruh kasus kebakaran tersebut, sebanyak 16 kejadian merupakan karhutla sehingga menjadi jenis kebakaran yang paling dominan sepanjang tahun ini.
“Kebanyakan kejadian yang kami tangani masih kebakaran hutan dan lahan,” ucapnya.
Wardi menambahkan sebagian besar karhutla terjadi di Kecamatan Toboali, terutama di kawasan Tambang 10 Kepoh, Parit 3, dan Sukadamai.
Ia menduga mayoritas kebakaran dipicu aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar, sedangkan puntung rokok dinilai bukan penyebab utama karena kondisi lahan masih dipengaruhi hujan.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pihaknya akan memasang spanduk dan banner berisi imbauan pencegahan kebakaran di sejumlah titik rawan, termasuk wilayah Rindik yang berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau.
“Kami sudah menghimbau agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar maupun membuang puntung rokok sembarangan,” kata Wardi.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)