Oleh : Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Selasa Biasa XVI Tahun A-II, Selasa 21 Juli 2026 dari Pater Fransiskus Funan Banusu SVD berjudul : 'Keluarga Rohani : Terhubung Berdasarkan Kasih'.
Renungan Harian Katolik dari Pater Fransiskus Funan Banusu SVD merujuk pada Bacaan I : (Mik. 7:14-15.18-20; Mzm. 85:2-4.5-6.7-8; Mat. 12:46-50).
"Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." (Mat. 12:47).
Logika dunia menjebak kita untuk memahami ikatan keluarga cukup sebatas keluarga inti, turunan biologis (berdasarkan darah saja), ikatan fisik - duniawi, ikatan berdasarkan kekerabatan, ikatan emosional belaka.
Ikatan fisik saja dalam relasi keluarga tidak membawa damai, sukacita dan kegembiraan dalam hidup. Yesus melalui pertanyaan tentang: Siapakah ibu-Ku? Siapakah saudara-saudara-Ku?
Menggugat logika duniawi kita tentang pemahaman ikatan keluarga yang sempit berdasarkan turunan biologis manusiawi.
Aspek rohani dalam ikatan keluarga itu penting. Yesus menawarkan ikatan keluarga rohani berdasarkan logika Ilahi Sabda Tuhan.
Logika ini memperluas penahaman kita sebagai keluarga Allah berdasarkan iman akan daya kekuatan Sabda Tuhan yang menjadikan segala sesuatu ada.
Sabda itu telah menjelma menjadi manusia dalam Diri Yesus Mesias. Beriman pada Yesus, percaya kepada-Nya berarti menjadi anak Allah sekaligus menjadi saudara-saudara-Nya juga.
Status menjadi keluarga Yesus ialah taat membaca Kitab Suci, setia mendengar, tekun melaksanakan kehendak Bapa-Nya dan mencintai Sabda Tuhan.
Yesus dalam misi-Nya, prihatin pada kehendak Allah yaitu supaya semua orang bertobat dan selamat. Fokus pada kehendak Allah sudah merangkum sepenuhnya perhatian tulus terhadap keluarga secara rohani dan bukan berdasarkan ikatan fisik yang semu.
Yesus mewartakan tentang ikatan keluarga lebih luas, mendalam dan bersifat lestari. Yesus mau supaya setiap orang oleh kekuatan Sabda Tuhan itu, terhubung satu sama lain berdasarkan kasih dan bukan karena ikatan emosional belaka yang tidak menyelamatkan.
Jika Sabda Tuhan berakar, bertumbuh dan berbuah dalam keluarga, rumah tangga, sudah pasti menjadi keluarga Allah (Yesus), menjadi keluarga rohani pelaksana Sabda Tuhan.
Karena kasih semua anggota keluarga dalam rumah terhubung, dan dalam lingkup sosial yang luas relasi terjalin baik dengan siapa saja karena hati terbuka untuk menerima setiap orang yang berkehendak baik.
Kehendak Ilahi Allah agar semua orang selamat dan menjadi keluarga besar-Nya, tampak dalam janji kudus-Nya zaman purbakala. Ia setia pada janji-Nya.
Nabi Mikha memberi kesaksian hebat tentang kasih Allah yang tak bertepi bagi manusia. Allah selalu memberi ruang harapan seluas-luasnya bagi setiap pribadi untuk bertobat, sebab Tuhan menghendaki yang terbaik untuk umat-Nya.
Ruang harapan Ilahi ini kadang tak dimafaatkan secara baik, karena manusia tidak mau dikasihani. Sementara orang yang sadar akan belas kasih Tuhan selalu berharap.
"Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapus kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut." (Mik. 14:19). Tuhan tidak mempersalahkan kita ketika berdosa. Tuhan bangga jika kita bertobat karena menjadi keluarga-Nya sendiri.
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Tidak maukah Engkau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacika karena Engkau? Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan, dan berilah kami keselamatan-Mu." (Mzm. 85:7-8).
Tuhan rela menuntun kita dengan kuasa Ilahi-Nya yang kokoh. Sebagai keluarga rohani, Allah menghendaki kita semua luput dari pelbagai bahaya yang mengancam, mau supaya dikasihani dan menerima kembali siapa saja yang bertobat dari dosa-dosanya.
Sesudah kita dikasihani dan diampuni sebagai keluarga Allah dan saudara-saudara Yesus, kita akhirnya terhubung secara tetap dengan Tuhan dan sesama karena kasih.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Selasa/Pekan Biasa XVI/A/II, 210726).(*)