Kuala Lumpur (ANTARA) - Sekitar 74 persen warga Malaysia menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu belanja, menurut hasil survei yang dirilis platform teknologi keuangan Adyen pada Selasa, kendati sebanyak 52 persen merasa tidak nyaman membiarkan teknologi tersebut menyelesaikan pembelian atas nama mereka.

Dalam konferensi pers mengenai Laporan Retail Malaysia Adyen Index 2026, Country Manager Adyen Malaysia Lee Soon Yean mengatakan meskipun AI semakin banyak dimanfaatkan konsumen untuk mencari produk, membandingkan berbagai pilihan, serta memperoleh rekomendasi belanja, kepercayaan terhadap teknologi tersebut masih menjadi hambatan utama bagi penerapan transaksi berbasis AI secara lebih luas.

Menurut Lee, kekhawatiran terhadap aspek keamanan tampaknya menjadi faktor utama di balik keraguan tersebut, seraya menambahkan keamanan selalu menjadi kekhawatiran mendasar bagi konsumen, bahkan sebelum AI menjadi bagian dari pengalaman berbelanja.

"Bukan hanya keamanan data, tetapi juga kualitas produk Anda, tingkat kenyamanan saat berurusan dengan layanan pelanggan, serta layanan purnajual. Semua hal itu, dalam bentuk apa pun, memberikan rasa aman bagi Anda," ujar dia sebagaimana warta Xinhua.

Lee menambahkan bahwa keamanan sistem pembayaran juga memegang peranan penting dalam membangun kepercayaan konsumen.

Survei menunjukkan 59 persen konsumen menilai kesalahan dalam proses pembayaran sangat merusak persepsi mereka terhadap suatu merek. Sementara itu, 26 persen responden mengatakan akan membatalkan transaksi dan tidak lagi berbelanja di pengecer yang sama setelah mengalami kendala pembayaran.