8 Bulan Pascabanjir, Warga Kapalo Koto Belum Terima Jadup, Syafrizal: Sehari Bisa Tanpa Pemasukan
Rahmadi July 21, 2026 10:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Delapan bulan telah berlalu sejak banjir bandang menerjang Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

Bencana itu terjadi pada akhir November 2025 lalu. Menghancurkan rumah, lahan pertanian, harta benda masyarakat hingga fasilitas publik.

Akan tetapi, Syafrizal (56), warga Simpang, Kelurahan Kapalo Koto, mengaku belum menerima bantuan jaminan hidup (Jadup) sama sekali.

Bantuan itu dijanjikan pemerintah untuk korban bencana, dengan anggaran Rp15.000 per kepala untuk setiap harinya.

Di tengah kondisi tersebut, beban ekonomi yang dirasakannya juga semakin berat.

Baca juga: Ganti Rugi Lahan Pertanian Belum Cair, Penyintas Huntara Padang Masih Menunggu Kepastian

Syafrizal mengatakan, rumahnya hanyut saat banjir bandang menerjang kawasan itu. Beruntung, bengkel miliknya berada cukup jauh dari lokasi sehingga tidak ikut terdampak.

"Belum menerima bantuan jaminan hidup sama sekali sejak bencana. Bahkan sudah delapan bulan pascabencana," katanya, Selasa (21/7/2026).

Saat ini, Syafrizal masih tinggal di hunian sementara (huntara) bersama keluarganya dengan kehidupan seadanya.

Pria berumur 56 tahun itu, hanya bisa menggantungkan penghasilan dari usaha bengkel. Namun, kondisi ekonomi tak lagi seperti sebelum bencana terjadi.

Menurutnya, bengkel kini sering sepi karena Jembatan Gunung Nago putus.

Baca juga: Optimalisasi ZIS Solok Selatan, Pemkab Perkuat Peran UPZ Masjid untuk Tingkatkan Pengumpulan Zakat

"Pendapatan sekarang tidak seperti biasa, tidak ada orang. Bahkan dalam sehari tidak ada pemasukan," sebutnya.

Pria tiga anak itu mengaku, hanya bisa menyembunyikan kesedihannya di hadapan keluarga.

Bahkan kata dia, banyak orang menganggap hidupnya baik-baik saja. Terlebih masih bisa membuka usaha pasca bencana.

"Kadang kosong sama sekali, untuk biaya anak saja tidak dapat. Saya cuma tertawa, tapi tidak ditampakkan," terangnya.

Syafrizal memiliki tiga orang anak. Dua di antaranya masih menempuh pendidikan, satu masih berkuliah dan satu di SMK.

Sementara, satu anak lainnya telah tamat sekolah.

Baca juga: Wakidul Kohar Raih Jabatan Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Ini Sosok dan Rekam Jejaknya

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, keluarganya masih mengandalkan bantuan dari masyarakat.

"Untuk biaya makan, beruntung ada bantuan beras dari masyarakat, kadang ada donatur yang memberi beras," katanya.

Syafrizal berharap dirinya dapat segera menerima bantuan jaminan hidup agar dapat meringankan beban ekonomi keluarganya di tengah kondisi saat ini.

"Harapan bisa menerima bantuan jadup, bisa meringankan beban masyarakat, di tengah ekonomi saat ini," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.