Pusat Data Amazon Jadi Target Serangan IRGC, Konflik AS-Iran Kini Merambah Infrastruktur Digital
Bobby Wiratama July 22, 2026 04:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus menunjukkan eskalasi baru. 

Jika sebelumnya konfrontasi lebih banyak menyasar pangkalan militer, jalur pelayaran, dan fasilitas energi, kini ketegangan mulai merambah sektor teknologi. 

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang dan menghancurkan pusat data (data center) milik Amazon di Bahrain menggunakan rudal jelajah.

Menurut laporan itu, serangan diarahkan ke infrastruktur data Amazon yang disebut sebagai bagian dari jaringan teknologi Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Hingga kini, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. CNBC melaporkan telah meminta konfirmasi kepada Pemerintah Bahrain dan pihak Amazon, namun keduanya belum memberikan tanggapan resmi mengenai klaim tersebut.

Apabila benar terjadi, serangan itu akan menjadi salah satu insiden paling signifikan yang menargetkan infrastruktur digital Amerika Serikat sejak konflik terbaru Washington dan Teheran kembali memanas. 

Peristiwa ini juga menandai perubahan pola serangan yang tidak lagi hanya berfokus pada target militer, tetapi mulai menyasar fasilitas teknologi yang menopang aktivitas ekonomi dan komunikasi digital.

Konflik Meluas ke Infrastruktur Teknologi

Pengamat menilai serangan terhadap pusat data memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan serangan terhadap instalasi militer. 

Data center diketahui menjadi tulang punggung berbagai layanan digital, mulai dari komputasi awan (cloud computing), penyimpanan data, layanan internet, hingga operasional ribuan perusahaan yang bergantung pada sistem digital.

Baca juga: AS Hadapi Dilema Besar, Stok Rudal Menyusut saat Konflik dengan Iran Terus Memanas

Dengan menyasar fasilitas tersebut, gangguan yang ditimbulkan berpotensi mempengaruhi layanan lintas negara, terutama di kawasan Timur Tengah yang banyak memanfaatkan infrastruktur cloud milik perusahaan teknologi Amerika.

Ancaman terhadap perusahaan teknologi sebenarnya telah muncul sejak beberapa bulan lalu. 

Pada April 2026, IRGC memperingatkan bahwa sejumlah perusahaan teknologi asal Amerika Serikat yang beroperasi di Timur Tengah dapat menjadi sasaran apabila konflik terus berkembang.

Sebelumnya, pada Maret 2026, sejumlah layanan digital di Uni Emirat Arab juga dilaporkan mengalami gangguan setelah serangan drone yang diklaim menghantam fasilitas Amazon Web Services (AWS). Sebagian infrastruktur digital di Bahrain disebut ikut terdampak dalam insiden tersebut.

Selat Hormuz Semakin Sepi, Harga Minyak Dunia Naik

Di tengah meningkatnya ketegangan, dampak konflik juga mulai terlihat pada jalur perdagangan energi dunia. 

Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz mengalami penurunan tajam.

Sebelum konflik kembali memanas, lebih dari 100 kapal melintasi jalur strategis tersebut setiap hari. 

Namun, pada akhir pekan terakhir jumlahnya dilaporkan turun menjadi sekitar 30 kapal. Sejumlah kapal bahkan mematikan sistem identifikasi otomatis (transponder) ketika melewati Selat Hormuz demi alasan keamanan.

Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat menegaskan jalur pelayaran internasional itu masih terbuka dan pengiriman minyak tetap berlangsung di bawah perlindungan militer AS.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia. Sekitar 20 juta barel minyak mentah atau hampir seperempat perdagangan minyak global yang diangkut melalui laut melewati kawasan tersebut setiap hari. 

Sebagian besar pasokan tersebut dikirim ke negara-negara Asia, termasuk China dan India.

Gangguan terhadap jalur ini langsung mempengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah Brent kembali menguat, sementara minyak mentah Amerika Serikat (WTI) sempat menembus level 90 dolar AS per barel, tertinggi dalam lebih dari satu bulan.

Analis Energy Aspects, Amrita Sen, memperingatkan bahwa apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlangsung hingga Agustus, produksi minyak dari kawasan Teluk dapat menurun sehingga harga minyak dunia berpotensi kembali menembus angka 100 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kenaikan biaya transportasi, meningkatkan tekanan inflasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.

Iran Dinilai Masih Mampu Melancarkan Serangan

Di sisi lain, sejumlah analis menilai Iran masih memiliki kemampuan militer yang cukup besar meski terus menjadi sasaran operasi militer Amerika Serikat.

Teheran disebut masih memiliki persediaan rudal balistik, drone, dan kemampuan menyerang kapal-kapal komersial maupun fasilitas militer di kawasan Teluk.

Salah satu insiden terbaru menimpa kapal tanker milik perusahaan pelayaran Yunani, Dynacom, yang dilaporkan terbakar setelah terkena proyektil di sekitar Selat Hormuz.

Serangan-serangan tersebut juga telah menyebabkan bertambahnya korban di pihak Amerika Serikat, termasuk personel militer yang bertugas di sejumlah pangkalan di Timur Tengah.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran akan menghadapi konsekuensi yang lebih besar atas setiap serangan terhadap kepentingan Amerika. 

Ia juga menekankan bahwa Washington akan terus menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia.

Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara mediator masih berupaya membuka kembali jalur diplomasi. 

Namun, meluasnya sasaran konflik dari sektor militer ke infrastruktur digital menunjukkan bahwa konfrontasi AS-Iran kini memasuki fase baru dengan potensi dampak yang lebih luas terhadap keamanan siber, perdagangan global, serta stabilitas ekonomi internasional.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.