Pesona Geurutee, Ketika Alam Jadi Penjaga Harapan Aceh Jaya
mufti July 22, 2026 09:03 AM

PIPI MURFIZA, S.Pd., guru SMA, alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UBBG Banda Aceh, melaporkan dari Calang, Aceh Jaya

Aceh Jaya merupakan salah satu dari 18 kabupaten di Provinsi Aceh yang banyak menyimpan keindahan alam dan sejarah.

Sebelum menjadi kabupaten otonom, wilayah Aceh Jaya merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Barat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002, Aceh Jaya resmi menjadi kabupaten baru sebagai hasil pemekaran dari kabupaten induknya. Calang ditetapkan sebagai ibu kotanya.

Pemekaran diperlukan untuk meningkatkan pelayanan pemerintahan, memperpendek rentang kendali, dan untuk mempercepat laju pembangunan daerah. Peristiwa paling bersejarah bagi Aceh Jaya adalah gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004. Calang menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah di Aceh. Sebagian besar bangunan hancur dan ribuan warga menjadi korban. Setelah bencana tersebut, Aceh Jaya dibangun kembali melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional.

Di setiap perjalanan menyusuri jalan nasional Banda Aceh–Meulaboh, ada satu tempat yang hampir selalu mengundang pengendara untuk memperlambat laju kendaraannya. Sebagian  malah memilih berhenti sejenak, mengabadikan panorama melalui kamera telepon genggam, sementara yang lain menikmati secangkir kopi sembari memandang hamparan laut yang membentang luas. Tempat itu adalah Gunung Geurutee.

Sebagai putri asli Aceh Jaya, saya ingin menceritakan bagaimana sejarah penciptaan gunung yang satu ini serta denyut perekonomian di sekitarnya.

Geurutee kini dikenal sebagai destinasi wisata favorit di pantai barat Aceh. Di balik keindahannya tersimpan kisah panjang tentang terbentuknya bentang alam yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh Jaya itu.

Berdasarkan kajian geologi, kawasan ini merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Bukit Barisan yang terbentuk akibat aktivitas tektonik selama jutaan tahun. Proses tumbukan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia membentuk relief perbukitan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.

Bentang alam yang kini menjadi objek wisata itu sesungguhnya merupakan hasil perjalanan panjang Bumi yang berlangsung jauh sebelum manusia menghuni wilayah ini.

Sejak dahulu, jalur yang melintasi Geurutee memiliki arti penting bagi masyarakat pesisir barat Aceh. Jalan ini menjadi penghubung antardaerah, memperlancar mobilitas masyarakat, perdagangan hasil bumi, serta mempererat hubungan sosial antarkampung.

Pada masa Perang Belanda Melawan Aceh (1873–1904), kawasan Geurutee juga memiliki nilai strategis. Medannya yang curam dan berhutan lebat dimanfaatkan oleh para mujahid Aceh sebagai jalur gerilya, berlindung, dan menyerang musuh.

Gunung Geurutee saat itu dikenal sebagai salah satu kawasan yang sulit dikuasai oleh pasukan kolonial.

Dari atas ketinggian, mata kita dimanjakan oleh pemandangan Teluk Calang yang berpadu dengan birunya Samudra Hindia. Ombak bergulung perlahan menuju pesisir, sementara angin laut bertiup lembut melewati pepohonan di lereng bukit.

Keindahan itu sontak menghapus lelah para pelintas yang menempuh perjalanan jauh ke wilayah barat-selatan Aceh (Barsela) atau sebaliknya, menuju Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh.

Walaupun kondisi jalannya dulu belum sebaik sekarang, Geurutee tetap menjadi lintasan utama yang tidak tergantikan. Ia tetap merupakan kawasan perbukitan di Kabupaten Aceh Jaya yang menjadi saksi pertemuan antara keindahan alam, perjalanan sejarah, dan denyut kehidupan masyarakat setempat.

Perubahan besar terjadi setelah bencana gempa bumi dan tsunami melanda Aceh pada tahun 2004. Kabupaten Aceh Jaya menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak sangat parah. Infrastruktur yang rusak kemudian dibangun kembali secara bertahap. Jalan nasional diperlebar dan diperbaiki sehingga akses menuju Geurutee menjadi lebih nyaman.

Perbaikan tersebut bukan hanya memperlancar arus transportasi, melainkan juga membuka peluang baru bagi berkembangnya sektor pariwisata.

Kini, hampir setiap hari kendaraan pribadi, bus antarkota, hingga wisatawan dari berbagai daerah singgah di puncak Geurutee. Pengunjung datang bukan sekadar untuk beristirahat, melainkan ingin menikmati panorama yang sulit ditemukan di tempat lain.

Banyak pengunjung mengabadikan momen matahari terbenam, ketika langit berubah jingga dan cahaya senja memantul di permukaan laut.

Pemandangan itu menjadi daya tarik yang membuat banyak orang ingin kembali lagi ke Geurutee.

Berkembangnya aktivitas wisata membawa perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat sekitar. Di sepanjang kawasan Geurutee berdiri warung kopi, kedai makanan, dan kios yang menjual hasil kebun, terutama durian.

Kehadiran wisatawan menciptakan perputaran ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi warga.

Bagi sebagian keluarga, usaha kecil yang dijalankan di kawasan Geurutee menjadi sumber penghasilan utama. Ada yang menjual kopi Aceh, kelapa muda, mi, dan aneka makanan lainnya hingga hasil pertanian lokal.

Sebagian lainnya membuka jasa parkir atau membantu wisatawan mengabadikan foto dengan latar panorama Geurutee.

Aktivitas ekonomi sederhana tersebut membuktikan bahwa sektor pariwisata mampu menghadirkan peluang usaha.

Tidak hanya dari sisi ekonomi, Gunung Geurutee juga menjadi ruang sosial bagi masyarakat. Kawasan ini sering menjadi tempat kumpul keluarga, komunitas, maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana alam.

Di akhir pekan atau hari libur, kawasan ini dipenuhi pengunjung yang datang bersama keluarga untuk menikmati udara segar sambil menyaksikan keindahan laut dari atas gunung.

Meski demikian, meningkatnya jumlah wisatawan juga membawa tantangan. Kebersihan kawasan harus terus dijaga agar keindahan alam tetap lestari. Sampah yang ditinggalkan pengunjung dapat

mengurangi kenyamanan dan merusak lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat dan wisatawan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kawasan wisata ini.

Selain menjaga kebersihan, pelestarian vegetasi di sekitar Geurutee juga perlu mendapat perhatian. Pepohonan yang tumbuh di lereng bukit berfungsi menjaga kestabilan tanah serta mengurangi risiko longsor, terutama saat musim hujan.

Upaya menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh warga yang menikmati manfaat dari kawasan ini.

Ke depan, Gunung Geurutee memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan Aceh. Dengan pengelolaan yang profesional, promosi yang berkelanjutan, serta dukungan masyarakat lokal, kawasan ini dapat menjadi tujuan wisata yang tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga pengalaman budaya, kuliner, dan edukasi mengenai sejarah, serta geologi Aceh.

Bagi masyarakat Aceh Jaya, Geurutee bukan sekadar sebuah bukit di tepi jalan nasional. Ia adalah ruang yang menyimpan kenangan, menjadi saksi perjalanan daerah, sekaligus menghadirkan harapan melalui sektor pariwisata.

Setiap pengunjung yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga ikut menggerakkan roda perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Aceh Jaya merupakan daerah yang memiliki nilai sejarah tinggi, mulai dari masa Kesultanan Aceh, perjuangan melawan kolonial, hingga kisah kebangkitan masyarakat setelah tsunami 2004.

Kini, kabupaten ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang terus berkembang dengan mengandalkan potensi sumber daya alam, kelautan, pertanian, dan pariwisata.

Pada akhirnya, Gunung Geurutee mengajarkan kepada kita bahwa kekayaan alam akan memberikan manfaat yang besar apabila dijaga bersama dan menjadi modal bagi masa depan daerah.

Geurutee bukan hanya tempat singgah, melainkan wajah keramahan masyarakat, simbol ketangguhan daerah, dan bukti bahwa alam dapat menjadi sumber kehidupan ketika dikelola dengan bijaksana. (vivimurfiza@gmail.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.