Menengok 5 Daerah dengan Angka Kelahiran Tertinggi di Sumsel
Yandi Triansyah July 22, 2026 09:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Tren kependudukan di Sumatra Selatan terus bergerak menuju babak baru.

Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Total Fertility Rate (TFR) atau Angka Kelahiran Total di Bumi Sriwijaya berada di angka 2,18.

TFR sendiri merupakan indikator krusial yang menggambarkan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang perempuan selama masa reproduksinya (rentang usia 15–49 tahun).

Angka 2,18 ini menegaskan bahwa laju pertumbuhan kelahiran di Sumsel kian melandai dan bergerak semakin mendekati replacement level (tingkat pergantian penduduk ideal) sebesar 2,10.

Baca juga: 5 Provinsi dengan Pengangguran Terendah di Sumatera, Sumsel di Bawah Bengkulu di Atas Lampung

Kendati secara umum provinsi mengalami penurunan, lanskap fertilitas antarkabupaten/kota di Sumsel ternyata menunjukkan disparitas yang cukup kontras.

Wilayah perkotaan seperti Kota Palembang mencatatkan TFR terendah yakni 2,07 terdorong oleh tingginya partisipasi kerja perempuan, tingkat pendidikan, serta tingginya biaya hidup di area urban.

Sebaliknya, beberapa daerah di Sumsel masih mencatatkan angka kelahiran yang terbilang tinggi di atas rata-rata provinsi.

Karakteristik ini umumnya dipengaruhi oleh usia pernikahan pertama yang relatif lebih muda, norma budaya lokal, hingga tantangan jangkauan layanan Keluarga Berencana (KB).

5 Daerah dengan Angka Kelahiran Total (TFR) Tertinggi di Sumsel

Dikutip dari data resmi BPS per Rabu (22/7/2026), berikut lima daerah di Sumatra Selatan dengan TFR tertinggi:

1. Kabupaten Empat Lawang (2,29)

Empat Lawang bertengger di posisi puncak sebagai daerah dengan angka kelahiran total tertinggi di Sumsel. Dengan nilai TFR mencapai 2,29, rata-rata perempuan di wilayah ini melahirkan 2 hingga 3 anak selama masa reproduksinya, berada cukup jauh di atas rerata provinsi (2,18).

2. Kabupaten Musi Banyuasin (2,26)

Di posisi kedua, Musi Banyuasin (Muba) mencatatkan angka TFR sebesar 2,26.

Luasnya wilayah geografis dan dominasi kawasan pedesaan/perkebunan turut membentuk pola demografi masyarakat di Muba.

3. Kota Pagar Alam (2,26)

Berada di level yang sama dengan Muba, Kota Pagar Alam membukukan angka TFR sebesar 2,26.

Merekahnya angka fertilitas di Kota Besemah ini menjadikannya unik di antara kategori wilayah perkotaan lainnya di Sumsel.

4. Kabupaten Ogan Komering Ulu / OKU (2,25)

Kabupaten OKU menempati urutan keempat dengan capaian TFR sebesar 2,25.

Angka ini menegaskan stabilitas pertumbuhan penduduk di kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat pertumbuhan di Sumsel bagian tengah tersebut.

5. Kabupaten PALI dan Muratara (2,24)

Dua daerah otonomi baru, yakni Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dan Musi Rawas Utara (Muratara), berbagi tempat di posisi kelima. Kedua kabupaten ini sama-sama mencatatkan angka TFR sebesar 2,24.

Kesimpulan

Perbedaan angka TFR antardaerah di Sumsel ini menjadi cermin nyata dari ketimpangan kondisi demografis, aksesibilitas geografis, serta efektivitas intervensi program pembangunan kependudukan.

Bagi pemerintah daerah di daerah ber-TFR tinggi seperti Empat Lawang hingga Muratara, tantangan utama ke depan bukan sekadar menekan angka kelahiran, melainkan memastikan kualitas hidup, kesehatan ibu dan anak, serta pemerataan akses edukasi kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana (KB) berjalan beriringan dengan laju pertumbuhan penduduknya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.