Menengok 5 Daerah dengan Lulusan SMA ke Atas Terendah di Sumsel 
Yandi Triansyah July 22, 2026 10:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pembangunan sektor pendidikan masih menjadi tantangan mendasar di Sumatera Selatan (Sumsel). 

Di tengah sengitnya persaingan ekonomi modern, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diukur dari tingkat pendidikan masyarakat dewasa menjadi cermin utama kesiapan suatu daerah dalam menyerap ilmu pengetahuan, kecakapan teknis, dan kapasitas kognitif angkatan kerjanya.

Namun, potret pendidikan warga dewasa di Bumi Sriwijaya masih memperlihatkan catatan merah.

Persentase penduduk usia 25 tahun ke atas yang mengantongi ijazah minimal SMA atau sederajat masih terbilang minim.

Baca juga: Menengok 5 Daerah dengan Angka Kelahiran Tertinggi di Sumsel

Bahkan, pencapaian sejumlah daerah di Sumsel tercatat masih tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah kabupaten/kota di provinsi tetangga.

Kondisi ini menegaskan perlunya percepatan dari pemerintah daerah baik dalam menambah fasilitas satuan pendidikan, memperluas daya tampung, hingga menjamin pemerataan akses pendidikan di area pelosok.

Tanpa intervensi agresif, ketimpangan kualitas SDM akan menjadi kerikil dalam sepatu pembangunan ekonomi jangka panjang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Rabu (22/7/2026), berikut lima kabupaten di Sumatera Selatan dengan persentase penduduk usia 25 tahun ke atas berpendidikan SMA ke atas paling rendah:

1. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)

OKI menempati posisi ter bawah dalam capaian pendidikan warga dewasanya.

Persentase kelompok laki-laki usia 25 tahun ke atas yang berpendidikan SMA ke atas hanya menyentuh 27,86 persen.

Kondisi kelompok perempuan bahkan jauh lebih mengkhawatirkan, di mana baru 19,90 persen yang berhasil menuntaskan pendidikan minimal jenjang menengah atas.

2. Kabupaten Banyuasin

Berada di urutan kedua terendah, Banyuasin mencatatkan persentase penduduk laki-laki usia 25 tahun ke atas dengan pendidikan SMA ke atas sebesar 27,91 persen.

Menariknya, proporsi kelompok perempuan di Banyuasin sedikit lebih tinggi yakni menyentuh 28,06 persen.

3. Kabupaten Musi Rawas

Musi Rawas membukukan angka ketertinggalan di peringkat ketiga. Kelompok laki-laki di wilayah ini mencatatkan persentase berpendidikan SMA ke atas sebesar 28,62 persen, sementara

kelompok perempuan berada di angka 26,50 persen.

4. Kabupaten Ogan Ilir

Sebagai daerah yang sejatinya bertetangga dekat dengan pusat pendidikan kota, Ogan Ilir justru bertengger di posisi keempat terendah.

Persentase laki-laki usia 25 tahun ke atas yang mengenyam pendidikan SMA ke atas berada di angka 30,56 persen, sedangkan perempuan mencatatkan angka yang lebih rendah di 27,82 persen.

5. Kabupaten OKU Timur

Melengkapi lima besar, OKU Timur mencatatkan persentase laki-laki berpendidikan SMA ke atas sebesar 30,82 persen.

Namun, terjadi disparitas gender yang cukup lebar pada kelompok perempuan, di mana capaiannya hanya mencapai 26,12 persen.

Kesimpulan

Angka-angka di atas memberikan gambaran riil bahwa mayoritas penduduk usia produktif senior di kelima kabupaten tersebut masih didominasi oleh lulusan tingkat dasar (SD/SMP) atau bahkan tidak tamat sekolah.

Luasnya wilayah geografis di kabupaten seperti OKI, Banyuasin, dan Musi Rawas ditengarai menjadi faktor pemicu sulitnya jangkauan ke sekolah menengah, di samping faktor ekonomi keluarga dan budaya pernikahan usia muda pada masa lalu.

Guna memutus rantai ketertinggalan ini, akselerasi program kesetaraan (Paket C), beasiswa pendidikan daerah, hingga penambahan SMA/SMK negeri di tingkat kecamatan terluar harus menjadi prioritas utama kebijakan pembangunan daerah ke depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.