TRIBUNNEWS.COM - Setelah dilantik menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 8 Juni 2026, Nanik S. Deyang mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu (22/7/2026).
Ia dilantik bersama dua Wakil Kepala BGN, yaitu Agustina Arumsari dan Trenggono.
Ketiganya dilantik menggantikan pimpinan BGN sebelumnya yang tersandung kasus dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG), yaitu Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung.
Baru 1,5 bulan menjabat Kepala BGN, kini Nanik memilih mundur karena alasan kesehatan.
Perempuan kelahiran Madiun, Jawa Timur, 3 Januari 1968 itu mengaku akan menjalani pengobatan jantung di luar negeri.
Saat dilantik, perempuan yang juga menjabat sebagai Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) itu mengaku berkomitmen memperbaiki tata kelola program MBG.
Setelah dilantik di Istana Negara, Jakarta, Nanik menyatakan akan mendorong kebermanfaatan program MBG, termasuk efisiensi anggaran.
“Kami concern pada efisiensi anggaran agar bisa tidak membebani anggaran negara pada saat ini, tetapi dengan tidak mengubah target dari yang kita berikan gizi,” jelas Nanik kepada awak media di Istana Negara.
Alumni S2 Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menuturkan langkah awal dalam melakukan efisiensi ini adalah dengan melakukan moratorium untuk mengkaji kebutuhan ideal jumlah dapur untuk melayani penerima manfaat.
Langkah ini, kata Nanik, menjadi bentuk penataan ulang untuk memetakan kebutuhan di setiap daerah.
“Kita tata apakah dapur ini melayani, ini sudah bisa melayani sebetulnya dengan penerima manfaat yang ada atau sebetulnya berlebihan,” pungkasnya.
Baca juga: Sosok Sudaryono, Wamentan Dikabarkan Jadi Kepala BGN Pengganti Nanik S Deyang, Orang Dekat Prabowo
Selain itu, mantan Tim Sukses Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 itu berjanji mengambil langkah untuk melakukan refocusing penerima manfaat.
Menurutnya, langkah ini untuk memastikan bahwa program MBG nantinya dapat lebih menyasar penerima manfaat yang dinilai benar-benar membutuhkan.
“Jadi kita akan arahkan nanti benar-benar pada anak-anak atau penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi."
"Ini kita akan refocusing sehingga apakah 63 juta yang sekarang ada ini bener tuh 63 juta ini butuh. Atau sebetulnya bisa dikurangi kemudian nanti kita tambah yang belum memperoleh,” jelasnya.
BGN juga akan menyasar penerima manfaat yang masuk dalam golongan 3B yakni Bumil (Ibu Hamil), Busui (Ibu Menyusui), dan Balita.
Mantan wartawati Tabloid Bangkit itu juga menuturkan BGN akan berfokus kepada penguatan kualitas dari program MBG.
“Kami juga sudah sampaikan ke Presiden di tahun 2026 ini kita bukan mengejar kuantitas tapi pada kualitas."
"Sehingga kami akan mengecek apakah dapur-dapur yang sekarang ada ini sesuai dengan juknis atau tidak,” pungkasnya.
Selain itu, dalam kaitannya dengan daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), Nanik akan berupaya membangun kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk dengan perusahaan melalui program CSR.
“Untuk wilayah-wilayah yang belum digarap oleh investor, kami akan coba kerjasamakan, atau kita bisa dibiayai dengan CSR-nya BUMN atau mungkin ada hibah dari luar negeri."
"Atau mungkin juga kalau tempat itu ada perusahaan-perusahaan besar berinvestasi,” ucapnya.
BGN menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Program MBG yang lebih efektif, berkelanjutan, dan berdampak nyata dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan unggul.
Nanik juga menyinggung gagasan BGN akan melakukan kerja sama dengan kantin sekolah dan fasilitas dapur yang sudah tersedia dalam pelaksanaan MBG.
Ia menyebut tidak semua wilayah memungkinkan untuk dibangun dapur baru karena jumlah penerima manfaat yang relatif sedikit.
"Jadi misalnya begini, di tempat terpencil itu, saya misalnya di Lombok. Di Lombok itu, di Lombok Barat, saya pernah ke satu pulau. Muridnya hanya 119. Kan enggak mungkin juga didirikan dapur."
"Tapi di situ ada kantin. Jadi bisa dong kantin itu digunakan gitu. Jadi kantin ini salah satu alternatif," kata Nanik.
Kabar pengunduran diri Nanik S Deyang disampaikan melalui akun Facebook pribadinya pada Rabu (22/7/2026).
Nanik mengaku pengunduran dirinya telah disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Saya sampaikan ke presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya,” tulis Nanik.
“Karena presiden prihatin dan kasihan dengan saya, presiden menyetujui, namun saya diminta tetap ikut mengawasi BGN,” ujarnya.
Nanik mengatakan dirinya berat hati untuk mundur dari Kepala BGN. Dia pun harus berangkat ke luar negeri untuk melakukan pengobatan pada hari ini.
“Ini bukan karena tidak percaya dokter yang hebat di Indonesia, tapi untuk second opinion dan kebetulan ada kawan yang merekomendasikan di tempat yang mau saya tuju,” katanya.
(Tribunnews.com/Gilang P)