TRIBUNSTYLE.COM - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim dua pencapaian baru dalam periode konflik dengan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Serangan itu diluncurkan IRGC sebagai balasan terhadap AS yang menyerang infrastruktur sipil di Darkkhovin.
Kemudian pada Rabu (22/7/2026), Al Mayadeen juga melaporkan serangan ke pangkalan militer dan fasilitas pertahanan AS di Erbil, ibu kota Kurdistan Iran.
Lokasi tersebut kini meningkatkan status hingga siaga satu untuk menghadapi ancaman Iran.
Sejumlah ledakan terdengar di Erbil meski AS telah mengaktifkan sistem pertahanan udara.
Baca juga: Iran Umumkan Perang Skala Penuh Lawan Amerika Serikat, Trump Tak Kalah Sengit Luncurkan Serangan
Selain ledakan, serangan Iran juga memicu kebakaran hebat di kawasan Gunung Azmar.
Hingga saat ini, belum ada informasi resmi terkait jumlah pasti korban jiwa maupun total kerusakan infrastruktur di lokasi kejadian.
Rekaman video terbaru yang beredar mengonfirmasi timbulnya ledakan kuat di Erbil sesaat setelah serangan Iran terdeteksi.
Eskalasi militer ini makin memanas di tengah tuduhan terhadap kelompok separatis Kurdi yang dinilai melanggar kesepakatan keamanan.
Kelompok Kurdi dianggap gagal mematuhi perjanjian keamanan tahun 2023 antara Baghdad dan Teheran karena kembali melanjutkan aktivitas bersenjata mereka.
Perjanjian tersebut sejatinya mewajibkan penguatan keamanan perbatasan, pelucutan senjata kelompok Kurdi, serta relokasi mereka dari area perbatasan.
Pejabat Irak dan Iran telah berulang kali menggelar pertemuan untuk memperketat koordinasi demi mencegah wilayah Irak dijadikan pangkalan serangan.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi adanya korban jiwa dari pihak militer mereka dalam insiden terpisah di Irak utara.
CENTCOM menyatakan seorang prajurit AS tewas pada (18/7/2026) saat melakukan peledakan terkontrol terhadap amunisi drone serang Iran yang jatuh.
Dalam operasi pengamanan amunisi tersebut, seorang anggota militer Amerika lainnya juga mengalami luka-luka dan sedang menjalani perawatan medis.
Baca juga: Sama-sama Saling Unjuk Kekuatan, Iran Jebol Pertahanan AS di Yordania, Trump Kirim Serangan Balasan
Insiden berdarah di Irak utara ini semakin menambah daftar panjang korban tewas militer AS menyusul rentetan serangan rudal dan drone Iran di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Iran menghancurkan sejumlah instalasi utama AS di Kuwait.
Target yang disebut meliputi radar peringatan dini, sistem radar pertahanan rudal, sistem pertahanan udara Patriot, serta sistem komunikasi satelit pertahanan udara di Pangkalan Ahmed Al Jaber.
Selain itu, gedung administrasi, area parkir helikopter di Camp Al Adiri, hingga fasilitas tempat tinggal personel militer juga diklaim menjadi sasaran.
IRGC menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai upaya memulihkan keamanan dan stabilitas kawasan setelah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Dikutip dari Al Jazeera, operasi itu disebut bertujuan melumpuhkan cakupan radar di kawasan sebagai persiapan bagi serangan rudal dan drone berikutnya.
IRGC juga mengklaim menggunakan drone bunuh diri atau kamikaze dalam rangkaian serangan tersebut. (Tribun Style/Tribun Video)