Kelompok Tani Harapan Bersama Tanahlaut Diajak Mengolah Kayabang Menjadi Pupuk Kompos
Irfani Rahman July 22, 2026 03:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANAHLAUT- Ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya kerap berubah membuat petani harus memutar otak untuk menekan biaya produksi. Kini, harapan baru mulai tumbuh bagi Petani Harapan Bersama, di Desa Padang Luas, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut.

Tanaman kayabang yang selama ini dianggap gulma dan mengganggu aliran sungai, kini dimanfaatkan diolah menjadi pupuk kompos organik yang dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

Pemanfaat olahan itu hadir melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang memberdayakan Kelompok Tani Harapan Bersama, Desa Padang Luas, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut.

Baca juga: Menengok Bayi Temuan di Pabahanan Tanahlaut, Berat Badan Naik Setelah Dirawat di Panti

Baca juga: Beredar Video Pria Diduga Dipenggal di Gunung Sabuk Tanahbumbu Kalsel, Polisi: Tidak Ada

Kegiatan mengangkat tema penguatan kapasitas kelompok tani ini, mengolah tumbuhan kayabang menjadi pupuk kompos berbasis teknologi tepat guna. 

Ketua Kelompok Tani Harapan Bersama, Mulkan, mengaku program ini membuka wawasan baru bagi para petani. 

Selain belajar memanfaatkan bahan yang melimpah di sekitar lingkungan, mereka juga terbantu dengan penggunaan alat yang membuat proses pengolahan kompos menjadi lebih mudah.

"Bagi para petani, keberadaan pupuk kompos berbahan dasar kayabang diharapkan dapat membantu mengurangi biaya operasional pertanian. Selama ini, petani masih sangat bergantung pada pupuk kimia yang harganya tidak menentu. Dengan adanya alternatif pupuk organik dari bahan kayabang ini, petani jadi memiliki opsi lain untuk menjaga kesuburan tanah yang lebih ramah lingkungan," ujar Mulkan.

Program ini hadir sebagai upaya untuk menjawab dua persoalan pertanian, yaitu melimpahnya tumbuhan kayabang yang menjadi gulma pertanian dan masih tingginya kebutuhan petani terhadap pupuk untuk menunjang kegiatan pertanian.

Tim PKM ULM yang terdiri dari Prodi Teknik Mesin, Prodi Teknik Elektro, dan Prodi Agribisnis dengan dibantu mahasiswa Prodi Teknik Mesin, berupaya mengubah stigma negatif tersebut. 

Dengan bantu teknologi tepat guna (TTG) berupa mesin pencacah dan mesin peniris kayabang, tumbuhan ini dapat diolah sebagai sumber bahan baku pupuk organik yang berguna bagi kesuburan tanah dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan.

Ketua Tim PKM ULM, Muhammad Nizar Ramadhan mengatakan, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembuatan produk kompos berbasis TTG, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat agar mampu mengelola potensi lokal secara mandiri. 

“Kayabang yang selama ini dianggap menjadi salah satu hama pertanian sebenarnya memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Melalui kegiatan ini, tim PKM ULM ingin mengajak Kelompok Tani Harapan Bersama mengeksplor bahan organik di sekitar mereka dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, terutama untuk mendukung kebutuhan pupuk organik,” jelasnya.

Program ini tentunya sebagai wujud implementasi terhadap Kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu salah satunya mengabdi kepada masyarakat. Dan juga kegiatan ini selaras dengan gerakan nasional Diktisaintek Berdampak sebagai wujud pendidikan tinggi menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan PKM dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi awal, pengumpulan bahan baku, pengolahan kayabang, sampai praktik pembuatan kompos dan pengemasan produk. 

Kelompok tani dilibatkan secara langsung dalam setiap tahapan kegiatan agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam proses produksi kompos.

Penerapan TTG menjadi salah satu poin penting dalam kegiatan ini. Tim PKM memperkenalkan penggunaan alat bantu untuk mempercepat dan mempermudah proses pengolahan bahan baku, seperti mesin pencacah dan mesin peniris. 

Penggunaan teknologi sederhana ini diharapkan dapat mengurangi beban kerja manual, mempercepat proses produksi, serta menghasilkan bahan kompos yang lebih seragam.

Setelah bahan dicacah dan dicampur sesuai komposisi, proses composting dilanjutkan dengan fermentasi. 

Pada tahap ini, anggota kelompok tani mendapatkan pendampingan oleh anggota tim PKM dari Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian ULM, Karimal Arum Shafirani, mengenai cara menjaga kelembapan pupuk, melakukan pembalikan atau pengadukan, serta mengenali tanda-tanda kompos yang telah matang.

Kompos yang baik umumnya memiliki warna cokelat tua hingga kehitaman, bertekstur remah, tidak berbau busuk, dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

Tidak berhenti pada proses produksi, Tim PKM ULM juga mendorong mitra untuk mulai memperhatikan aspek pengemasan produk.

Kompos yang telah matang kemudian dikemas dalam kemasan sederhana dan diberi label agar lebih menarik serta mudah dikenali. 

Pengemasan ini menjadi langkah awal agar produk kompos kayabang tidak hanya digunakan untuk kebutuhan internal kelompok tani, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Program ini juga memberikan dampak positif dari sisi ekologi. Pengambilan kayabang dari perairan dapat membantu mengurangi penumpukan tanaman air yang mengganggu aliran sungai.

Di sisi lain, pengolahan kayabang menjadi kompos mendorong prinsip ekonomi sirkular, yaitu mengubah bahan yang semula dianggap limbah atau pengganggu menjadi produk yang memiliki nilai guna. 

Selain itu, program ini sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan, dimana prinsip ini berfokus pada pelestarian lingkungan, peningkatan kesehatan tanah, efisiensi sumber daya alam, dan kesejahteraan ekonomi petani.

Tim PKM ULM berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut setelah program selesai. Oleh karena itu, kelompok tani didorong untuk menyusun pola kerja sederhana, mulai dari pengumpulan bahan baku, produksi kompos, pengemasan, hingga pencatatan hasil produksi.

(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.