SURYA.CO.ID SURABAYA - Ratusan sopir angkutan umum mendatangi Kantor Dishub Jatim untuk mendesak penutupan Halte Transit TransJatim Medaeng, Sidoarjo, yang dinilai menggerus pendapatan mereka hingga 70 persen. Namun, audiensi bersama pemerintah provinsi berakhir tanpa kesepakatan.
Sejak pagi, Rabu (22/7/2026), kawasan depan Kantor Dishub Jatim dipenuhi ratusan massa aksi yang membawa keresahan para sopir mikrolet.
Mereka menilai keberadaan halte transit tersebut membuat pola perjalanan masyarakat berubah karena banyak penumpang beralih menggunakan layanan TransJatim.
Ketua DPD Serikat Sopir Indonesia (SSI) Jatim Siswoyo mengatakan, pihaknya mengerahkan sekitar 400 sopir dalam aksi tersebut.
Mereka meminta Pemprov Jatim melalui Dishub Jatim mengevaluasi kembali keberadaan Halte Transit TransJatim Medaeng dengan memindahkan titik naik turun penumpang ke Terminal Purabaya.
Baca juga: BREAKING NEWS Ratusan Sopir Angkot Demo di Dishub Jatim Tolak Transit Bus Trans Jatim
"Terdampak adanya Halte Transjatim di Medaeng di mana halte itu sebagai transit Bus Transjatim sehingga penumpang yang biasanya didapat oleh teman-teman berkurang secara drastis," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di depan Gedung Dishub Jatim, pada Rabu (22/7/2026).
Menurut Siswoyo, pemindahan titik transit ke Terminal Purabaya tidak hanya membantu sopir angkutan umum swasta, tetapi juga dapat menghidupkan kembali aktivitas terminal yang selama ini mengalami penurunan jumlah penumpang.
"Iya, dimasukkan saja ke Bungurasih. Agar supaya Bungurasih sekarang kondisinya kayak kuburan. Sepi banget. Tapi kalau tidak transit di Medaeng langsung masuk saya yakin aktivitas di Bungurasih akan melonjak," katanya.
Permintaan para sopir belum dapat dipenuhi langsung oleh Dishub Jatim. Dalam audiensi tersebut, belum ada keputusan untuk menonaktifkan Halte Transit TransJatim Medaeng karena masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Baca juga: Sopir Angkot Malang Tolak Trans Jatim Koridor II, DPRD Minta Pemprov Jangan Tutup Mata
Selain itu, pertemuan tersebut juga tidak dihadiri pejabat yang menangani langsung layanan Angkutan Bus TransJatim. Kondisi itu membuat tuntutan massa belum menemukan titik temu.
Siswoyo memastikan pihaknya akan kembali melakukan pertemuan pada Rabu (29/7/2026). Jika hasilnya tetap tidak sesuai harapan, SSI siap mengerahkan massa yang lebih besar dari berbagai daerah di Jawa Timur.
"Ini sudah 400 orang. Minggu depan kalau tidak tidak ada kesepakatan maka kami akan datang kembali melakukan aksi kembali dan akan melibatkan seluruh DPC SSI yang ada di Jawa Timur," pungkasnya.
Sementara itu, sopir mikrolet Basyir (70) mengungkapkan penurunan pendapatan telah dirasakan selama dua hingga tiga bulan terakhir. Ia menyebut persaingan dengan TransJatim, kendaraan daring, hingga layanan taksi online semakin membuat kondisi sopir angkutan umum tertekan.
"Ya menurun mas, sudah beberapa bulan ini. Kita juga kalah sama online, ojol dan taksi online juga banyak. Mbok ya dikasih kebijaksanaanlah kami ini," ujar kakek enam cucu itu, saat ditemui TribunJatim.com di lokasi.
Di lokasi aksi, ratusan mikrolet berwarna kuning dan biru tampak memenuhi badan jalan selebar sekitar 10 meter di depan Kantor Dishub Jatim. Lima lajur ruas Jalan Ahmad Yani menuju Kota Surabaya sempat lumpuh akibat kendaraan massa aksi yang berhenti di lokasi.
Arus kendaraan kemudian dialihkan dari Jalur B menuju Jalur A melalui putaran balik di tengah jalan. Kepadatan lalu lintas pun terjadi dengan kondisi kendaraan bergerak perlahan.
Selama audiensi berlangsung, sejumlah sopir lain memilih menunggu di trotoar seberang Kantor Dishub Jatim. Beberapa mikrolet juga terlihat membawa spanduk bertuliskan "KAMI TIDAK SETUJU ADANYA TRANSIT BUS TRANS DI MEDAENG."