TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur (Kaltim) menepis kabar yang beredar di masyarakat mengenai penutupan total ruas jalan nasional Samarinda–Balikpapan kawasan Batuah, Kutai Kartanegara.
Informasi yang sempat meresahkan pengguna jalan tersebut, mengklaim bahwa arus lalu lintas rute Samarinda–Balikpapan maupun sebaliknya dialihkan sepenuhnya melewati jalan tol akibat adanya perbaikan jalan.
Menanggapi hal tersebut, pihak BBPJN Kaltim menegaskan bahwa informasi penutupan jalan secara total itu tidak benar.
Baca juga: APBD Kaltim 2027 Diproyeksi Rp 12,1 T, Sri Wahyuni Pastikan Bantuan UKT Gratis Tetap Berlanjut
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.10 BBPJN Kaltim, R. Bagus menjelaskan, bahwa titik perbaikan yang dimaksud terletak di area crossing tambang batubara PT BSSR yang berlokasi di Batuah, tepatnya di kilometer (km) 28 ruas jalan nasional ini.
Di lokasi tersebut, memang direncanakan adanya pengerjaan rekonstruksi jalan dari yang semula berupa aspal menjadi struktur beton (rigid pavement).
"Itu belum ada penutupan total, salah informasi itu. Rencananya bukan ditutup, tapi nanti diterapkan sistem buka-tutup lalu lintas," jelas R. Bagus saat dikonfirmasi Tribunkaltim.co, Rabu (22/7/2026).
R. Bagus menerangkan, pekerjaan pembongkaran aspal untuk diganti menjadi jalur beton akan dilakukan secara bertahap atau separuh jalan terlebih dahulu.
Hal ini dilakukan agar arus kendaraan non-tol dari arah Samarinda menuju Balikpapan maupun sebaliknya tetap bisa melintas walau bergantian.
Sebelum skema pengerjaan dan penerapan buka-tutup jalan ini diberlakukan secara resmi, BBPJN Kaltim bersama pihak terkait akan mematangkan teknis di lapangan.
"Kami mau rapat koordinasi dulu dengan tim BSSR dan pihak Kepolisian (Polres) setempat terkait pengaturan lalu lintasnya. Jadi saat ini masih sekadar isu kalau ada penutupan total, karena memang pengerjaannya dikerjakan separuh-separuh," tegasnya.
Selain di titik crossing Batuah, pihak BBPJN Kaltim juga terus menggenjot percepatan penanganan di titik lainnya seperti KM 28.
Metode konstruksi separuh badan jalan ini diterapkan agar mobilitas masyarakat maupun kendaraan logistik antar kota tidak lumpuh atau dipaksa seluruhnya masuk ke jalan tol.
"Untuk mempercepat pekerjaan kan tidak harus menutup jalan secara total. Makanya separuh sisi jalan dikerjakan dulu sampai tuntas dan kokoh, baru setelah jadi kita lanjut bongkar dan kerjakan sisi sebelahnya," pungkasnya. (*)