TRIBUNJOGJA.COM - Meski dari kejauhan terlihat tenang, di dalam tubuh Merapi selalu terjadi pergerakan magma, perubahan tekanan, hingga guguran batuan yang berlangsung hampir setiap saat.
Karena itu, Merapi menjadi salah satu gunung api yang dipantau paling intensif di Indonesia.
Bukan hanya dengan kamera, tetapi juga melalui jaringan sensor yang bekerja tanpa henti selama 24 jam.
Berdasarkan dokumen Rencana Kontinjensi BPBD DIY, pemantauan Merapi didukung sekitar 147 sensor dan sistem yang tersebar di 74 lokasi di sekeliling gunung.
Seluruh alat tersebut terus mengirimkan data ke Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) di Yogyakarta, sehingga setiap perubahan sekecil apa pun dapat segera dianalisis.
Merapi Dipantau dari Berbagai Sisi Sekaligus
Pemantauan Merapi tidak mengandalkan satu jenis alat saja.
Para vulkanolog menggabungkan berbagai metode sekaligus, mulai dari seismik, geodesi, geologi, geokimia, hingga pengamatan visual.
Setiap metode memiliki fungsi berbeda dan saling melengkapi.
Metode seismik menjadi salah satu yang paling penting karena mampu merekam getaran yang muncul ketika magma bergerak di bawah permukaan.
Saat magma mulai naik atau tekanan di dalam gunung berubah, getaran tersebut menghasilkan pola gempa vulkanik tertentu yang bisa dikenali oleh para ahli.
Data ini mengalir secara real time sehingga aktivitas Merapi dapat dipantau setiap saat.
Perubahan Beberapa Milimeter Pun Bisa Terlihat
Selain "mendengarkan" isi gunung, para peneliti juga terus mengukur bentuk tubuh Merapi.
Untuk itu digunakan teknologi Electronic Distance Measurement (EDM) dan GPS geodetik yang mampu mendeteksi perubahan posisi lereng hingga hitungan milimeter atau sentimeter.
Perubahan sekecil ini sangat penting.
Ketika magma terus mendorong dari bawah, tubuh gunung dapat mengalami deformasi atau perubahan bentuk.
Misalnya, pada salah satu laporan terbaru BPPTKG, pengukuran EDM di sektor barat laut menunjukkan pemendekan jarak sekitar 0,6 sentimeter per hari.
Angka tersebut memang tampak kecil, tetapi bagi para vulkanolog, perubahan sekecil itu dapat menjadi petunjuk bahwa tekanan magma di dalam gunung sedang meningkat.
Drone Dikirim ke Lokasi yang Terlalu Berbahaya
Ada wilayah di sekitar puncak Merapi yang terlalu berisiko untuk didatangi manusia, terutama setelah terjadi guguran lava atau awan panas.
Di sinilah drone mengambil peran penting.
Drone diterbangkan untuk memotret kondisi terbaru kubah lava, jalur aliran material, hingga menghitung seberapa jauh awan panas meluncur.
Sebagai contoh, hasil pemantauan drone pernah mencatat awan panas guguran mencapai sekitar 3,5 kilometer mengikuti lereng Merapi.
Foto udara tersebut juga digunakan untuk menghitung volume kubah lava yang terus bertambah.
Pada pengamatan terbaru, volume kubah lava di sektor barat daya diperkirakan mencapai sekitar 4 juta meter kubik, sedangkan kubah tengah sekitar 2,3 juta meter kubik.
Informasi ini penting karena pertumbuhan kubah lava dapat memengaruhi potensi guguran maupun awan panas di kemudian hari.
Kamera yang Mengawasi Siang dan Malam
Selain sensor dan drone, Merapi juga diawasi menggunakan kamera pemantau yang ditempatkan di sejumlah titik strategis seperti Kaliurang, Babadan, Ngepos, dan Deles.
Kamera ini bekerja sepanjang hari untuk merekam perubahan bentuk kubah lava, guguran material, hingga kondisi cuaca di sekitar puncak.
Rekaman visual tersebut kemudian dibandingkan dengan data seismik dan geodesi agar para peneliti mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi Merapi.
Kini AI Juga Ikut Membantu
Volume data yang dihasilkan ratusan sensor setiap hari sangat besar.
Karena itu, Badan Geologi mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menganalisis pola dari ribuan data pemantauan tersebut.
AI tidak menggantikan peran vulkanolog dalam mengambil keputusan.
Namun, teknologi ini dapat membantu mempercepat proses identifikasi pola yang berpotensi menjadi tanda peningkatan aktivitas gunung.
Semua Bermuara pada Satu Tujuan
Di balik status aktivitas Merapi yang diumumkan kepada masyarakat, ada ratusan alat yang bekerja tanpa henti.
Sensor merekam getaran, GPS mengukur perubahan bentuk gunung, drone memotret kubah lava, kamera mengawasi puncak, hingga AI membantu membaca pola dari jutaan data yang terkumpul.
Semua itu bermuara pada satu tujuan yang sama, yaitu memberikan peringatan sedini mungkin agar masyarakat memiliki waktu untuk bersiap dan mengurangi risiko ketika aktivitas Merapi meningkat hingga akhirnya erupsi atau meletus.
(MG Farhatiy Rijal)