Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Dokter Ungkap Bahaya Obesitas yang Sering Diabaikan
Bobby Wiratama July 23, 2026 12:24 PM

TRIBUNNEWS.COM - Obesitas pada anak bukan sekadar kondisi ketika berat badan terlihat lebih besar dibandingkan teman seusianya. 

Obesitas merupakan keadaan ketika terjadi penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh yang dapat mengganggu kesehatan. 

Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap anak bertubuh gemuk sebagai tanda sehat atau lucu, padahal kondisi tersebut bisa menjadi awal munculnya berbagai masalah kesehatan yang berlanjut hingga dewasa.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Bung Karno Surakarta, dr. Mellisa Kurniawati, Sp.PD, obesitas tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak hingga lanjut usia. 

Pada anak, kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori, terlalu sering ngemil, kurang aktivitas fisik, serta pola makan keluarga yang kurang sehat. 

Selain itu, faktor genetik dari orang tua juga dapat meningkatkan risiko anak mengalami obesitas sehingga orang tua perlu lebih waspada apabila terdapat riwayat obesitas dalam keluarga.

Orang tua juga perlu mengetahui cara mengenali obesitas sejak dini. 

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah berat badan anak yang meningkat berlebihan dibandingkan pertumbuhan tinggi badannya. 

Selain itu, anak cenderung lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula, makanan cepat saji, camilan tinggi kalori, dan kurang menyukai buah maupun sayur. 

Jika kondisi tersebut dibiarkan tanpa perubahan pola hidup, obesitas pada anak dapat meningkatkan risiko penyakit kronis bahkan sejak usia muda. 

Karena itu, pencegahan perlu dimulai sedini mungkin melalui pola makan bergizi seimbang dan kebiasaan hidup aktif.

Baca juga: Lindungi Masa Depan Anak, 75 Anak Surabaya Kini Miliki Kepastian Hukum Perwalian

Obesitas Tidak Hanya Terjadi pada Orang Dewasa

Dr. Mellisa menjelaskan bahwa obesitas dapat dialami oleh semua kelompok usia, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia.

"Obesitas bukan hanya milik orang dewasa. Anak-anak maupun lansia juga bisa mengalami obesitas," jelas dr. Mellisa dalam siniar HEALTHY TALK di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (23/7/2026).

"Pada lansia obesitas sering terjadi karena aktivitas fisik berkurang dan metabolisme tubuh melambat. Sementara pada anak-anak, penyebabnya lebih banyak berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup sehari-hari," lanjutnya.

Anak Gemuk Belum Tentu Sehat

Masih banyak anggapan bahwa anak yang gemuk berarti sehat dan memiliki nafsu makan yang baik.

"Kebiasaan makan berlebihan tanpa diimbangi aktivitas fisik justru dapat meningkatkan risiko obesitas. Saat ini berbagai makanan ringan dikemas dengan tampilan menarik sehingga anak lebih mudah tertarik untuk mengonsumsinya."

"Sayangnya, sebagian besar camilan tersebut mengandung kalori tinggi yang apabila dikonsumsi terus-menerus dapat menyebabkan kelebihan asupan energi," papar dokter Mellisa.

Obesitas pada Anak Bisa Memicu Penyakit Kronis

Risiko obesitas pada anak tidak kalah serius dibandingkan pada orang dewasa.

Menurut dr. Mellisa, anak yang mengalami obesitas berpotensi mengalami berbagai penyakit kronis pada usia yang lebih muda.

Karena itu, menjaga berat badan ideal sebaiknya dimulai sejak masa kanak-kanak, bukan menunggu hingga dewasa.

"Anak-anak dengan obesitas nantinya bisa terkena penyakit kronis pada usia yang lebih muda," tandasnya.

Penyebab Obesitas pada Anak

Dalam wawancara tersebut, dr. Mellisa menjelaskan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak.

1. Terlalu sering mengonsumsi camilan

Banyak makanan ringan saat ini memiliki rasa yang disukai anak-anak, tetapi mengandung kalori yang tinggi.

Jika dikonsumsi setiap hari tanpa pengaturan porsi, kelebihan kalori akan disimpan sebagai lemak tubuh.

2. Kurang aktivitas fisik

Anak-anak juga perlu aktif bergerak setiap hari.

Aktivitas fisik membantu membakar energi sehingga tidak seluruh kalori yang dikonsumsi berubah menjadi lemak.

3. Pola makan keluarga

Kebiasaan makan di rumah sangat memengaruhi pola makan anak.

Apabila keluarga terbiasa mengonsumsi:

  •     Minuman manis setiap hari.
  •     Makanan bersantan.
  •     Lauk yang digoreng.
  •     Camilan tinggi kalori.

maka anak cenderung mengikuti kebiasaan tersebut.

"Jadi bukan cuma dewasa aja yang yang harus aktif bergerak, yang harus menjaga pola makan, asupannya sesuai gizi yang seimbang, tetapi malah justru mulai dari anak-anak ini juga sudah harus diajarkan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat, makanan yang bergizi juga harus mulai dengan aktivitas fisik . Jadi supaya nanti kalau sudah mulai dewasa dia sudah sudah terbiasa," kata dokter Mellisa.

4. Faktor genetik

Dr. Mellisa juga menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan adanya faktor keturunan yang membuat anak lebih rentan mengalami obesitas apabila orang tuanya juga mengalami kondisi serupa.

Namun, faktor genetik tetap dipengaruhi oleh kebiasaan hidup sehari-hari.
Lingkungan Keluarga Sangat Berpengaruh

"Anak belajar dari kebiasaan yang diterapkan di rumah. Misalnya, apabila setiap pagi keluarga terbiasa mengonsumsi teh manis atau makanan tinggi kalori, anak akan menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang normal,"

"Begitu pula jika keluarga lebih sering menyajikan makanan bersantan atau gorengan dibandingkan menu bergizi seimbang," terang dr. Mellisa. 

Jangan Lupakan Buah dan Sayur

Salah satu tantangan yang sering ditemui adalah anak-anak kurang menyukai buah dan sayur.

Padahal, kedua jenis makanan tersebut penting sebagai bagian dari pola makan sehat.

Dr. Mellisa juga mengingatkan bahwa orang tua perlu memberi contoh terlebih dahulu karena anak biasanya mengikuti kebiasaan makan anggota keluarganya.

Ajarkan Pola Hidup Sehat Sejak Dini

Menurut dr. Mellisa, pencegahan obesitas sebaiknya dimulai sejak anak masih kecil agar kebiasaan sehat terbawa hingga dewasa.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

  •     Membiasakan konsumsi makanan bergizi seimbang.
  •     Mengurangi camilan tinggi kalori.
  •     Membatasi minuman manis.
  •     Memperbanyak buah dan sayur.
  •     Mengajak anak aktif bergerak setiap hari.
  •     Menjadikan seluruh anggota keluarga sebagai teladan dalam menerapkan pola hidup sehat.

Orang Tua Memegang Peran Penting

Obesitas pada anak bukan hanya persoalan penampilan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk berbagai penyakit kronis di usia yang lebih muda. 

"Orang tua perlu lebih peka mengenali tanda-tanda obesitas, memperbaiki pola makan keluarga, dan membiasakan aktivitas fisik sejak dini," ucap dokter.

Menurutnya, kebiasaan hidup sehat tidak cukup diajarkan kepada anak, tetapi juga harus diterapkan oleh seluruh anggota keluarga. 

"Lingkungan yang mendukung serta pola makan bergizi seimbang, risiko obesitas dan penyakit kronis pada anak dapat ditekan sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.